Friday, May 15, 2015

Imperialisme Jasa


Beberapa tahun belakangan, saya harus menahan diri untuk mengekspresikan rasa kesal pada satu hal ini: ongkos parkir. Sejak parkir umum yang semestinya menjadi konsekuensi logis toko, pusat perbelanjaan, hotel, perkantoran, rumah sakit sebagai pelayanan atau fasilitas lumrah bagi para konsumen atau tamunya, telah diambil alih perusahan jasa perparkiran, hal yang semula gratis secara wajar, kini menjadi sangat mahal secara tidak wajar.

Beberapa perkantoran atau pusat perbelanjaan, memasang tarif sekali masuk Rp 5.000 dan biaya Rp 4.000/jam, sehingga hanya untuk perundingan bisnis atau belanja sekitar 3 jam, kita harus membayar tak kurang dari Rp 17.000. Jumlah yang mungkin tak seberapa bagi sebagian orang, tetapi secara akumulatif nilainya mencengangkan. Hanya dengan lapak sekitar 6 meter persegi beralas konblok, aspal, semen atau lainnya, para pengusaha jasa perparkiran mendapat pemasukan tidak kurang dari Rp 1,5 juta/bulan (dalam hitungan rata-rata hanya 12 jam sewa per harinya). Pemasukan itu (atau Rp 18 juta/tahun), tentu setara sebuah rumah kontrakan tipe 54/92 yang cukup mewah, atau kos/kontrakan/apartemen sangat mewah, dengan luas tanah jauh lebih lapang, dengan bangunan bagus dan fasilitas lain. Dengan dasar perhitungan apa perusahaan jasa parkir bisa mendapatkan penghasilan begitu menakjubkan, padahal hanya dengan modal sekadar palang dan pos kecil dengan seorang petugas?


Tak lain semua itu mungkin hanya karena satu bentuk perdagangan yang menggila pada tiga dekade belakangan: bisnis jasa. Inilah bentuk perdagangan kedua, setelah manufaktur, yang paling pesat pertumbuhannya, sekaligus paling telengas dalam mengisap dompet konsumennya. Dalam esensinya yang menawarkan kenyamanan, kemegahan, rasa nikmat, gengsi, dan hal-hal abstrak lain, bisnis jasa hampir tak punya ukuran atau standar untuk harga. Semua berlangsung absurd, ditentukan setidaknya seberapa jauh konsumen terilusi atau tertipu imaji atau simulacra ilusif yang ditawarkan para pedagang jasa.

Katakanlah, secangkir kopi atau soto betawi yang dengan mudah kita temukan di berbagai kedai kaki lima, tiba-tiba melonjak hingga lebih 2.000 persen ketika ia kita beli di sebuah restoran atau mal yang megah dan ber-AC kuat. Begitu pun dengan jasa yang ditambahkan (sebagai nilai tambah) pada barang-barang manufaktur, seperti busana, peralatan rumah tangga, hingga gawai.

Yang terlebih menyakitkan lagi, ialah yang terjadi dengan semena-mena pada industri jasa yang sangat mendasar, seperti rumah sakit dan lembaga pendidikan, ketika sewa ruang kelas 1 atau VIP di sebuah rumah sakit, misalnya, lebih mahal dari tarif kamar berkelas sama di hotel berbintang empat, tetapi dengan fitur dan fasilitas yang jauh lebih minim.

Kemahalan yang sama harus dibayar pasien (yang sudah menderita karena penyakitnya) untuk kunjungan dokter yang sama, teknologi sama, waktu konsul yang sama dengan beberapa kelas di bawahnya.


Represif
Jasa, kini benar-benar tidak hanya memberi keuntungan nauzubillah bagi para pedagangnya, tetapi secara kontradiktif memberi bukan melulu beban, tetapi semacam siksaan kepada konsumennya yang lebih kerap tidak berdaya. Seperti kita di bandara, tempat wisata, bar, resto, hotel, atau berbagai ruang eksklusif lainnya, harus menemukan harga barang-barang biasa dengan harga yang luar biasa karena berlipat-lipat nilainya. Semua itu terasa represif karena kita tidak mampu menawar, melawan, dan terlindungi oleh pemerintah sebagai pihak yang berwenang untuk itu. Kita seperti terimperialisasi oleh satu hal yang sangat absurd, namun nyata dampak praktisnya: jasa.

Akan tetapi, dari semua ilustrasi kecil itu, hal paling menyakitkan dan terasa menjajah kesadaran kita adalah skema kredit atau leasing yang selama ini menjadi tumpuan bahkan modus masyarakat mewujudkan harapan atau mimpi-mimpi modern (hedonistik)-nya. Tanpa dapat kita menawar sedikit pun, atau bahkan hampir seperti fait accompli, karena kita harus menerima ketentuan kredit/leasing itu, walaupun sebenarnya kita telah dijebak dan terjebak pada aturan utang yang sangat merugikan. Dan tentu saja, di sisi yang lain amat sangat menguntungkan bagi para pengusaha jasa (pemberi kredit).

Sudah umum diketahui, cicilan yang kita bayar untuk pembelian kredit rumah, kendaraan bermotor, gawai, hingga perjalanan wisata bahkan umrah, hampir 90 persen untuk pembayaran bunga pada setengah periode awal masa kreditnya. Sehingga ketika kita ingin melunasi kredit di pertengahan masa, kita menemukan jumlah utang pokok ternyata masih menggunung, lebih dari 80 persen. Betapa licin, cerdik, tetapi juga culas dan memeras skema kredit yang tidak adil seperti ini. Betapa besar jumlah keuntungan yang diraup secara tidak adil oleh lembaga keuangan pemberi kredit yang sebenarnya telah mendapat pelunasan di tengah jalan. Betapa culasnya, ketika kita sudah membayar hampir lunas utang kita, namun perhitungan bunga kredit dan masa pelunasannya ternyata masih cukup panjang untuk diakhiri.


Bank, sebagai lembaga keuangan pemberi kredit utama, termasuk bank pemerintah yang menggunakan uang rakyat sebagai modalnya, menggunakan skema yang sama untuk bisnis jasa yang mengerikan ini. Bahkan bank-bank pemerintah pun, seperti halnya bank swasta, menciptakan tarif yang mokal-mokal dengan memasang tarif untuk beberapa transaksi, seperti biaya administrasi, transfer elektronik, bahkan sekadar untuk cek saldo hingga saat kita setoran. Bayangkan, jika hanya untuk cek saldo kita ditagih Rp 6.500, maka bila 25 persen dari 100 juta nasabah sebuah bank besar melakukan cek saldo dalam sehari, bank akan mendapat pemasukan tak kurang dari Rp 162,5 miliar/hari.

Hanya dalam sehari, hanya untuk cek saldo, dan hanya 25 persen. Hitunglah per bulan atau per tahun, juga untuk semua bentuk transaksi. Hampir tanpa biaya signifikan dengan tarif itu yang harus bank keluarkan, karena semua hanya menggunakan gelombang elektromagnetik yang notabene milik publik. Apa yang sedang terjadi? Mengapa perdagangan atau ekonomi (pos)modern berbasis teknologi ini begitu kuat menjerat kesadaran terdalam kita, hingga akhirnya kita benar-benar kehilangan kesadaran? Lalu kita menerimanya sebagai satu hal yang given, yang wajar, normal dan biasa? Mana lebih dahsyat imperialisme mutakhir saat ini dibanding dengan bentuknya yang sama di masa lalu?


Dehumanisasi konsumen
Kapitalisme dengan model terkejamnya, pasar bebas, memang harus diakui melakukan semacam represi yang mendehumanisasi konsumen, menjadikan manusia hanya sebagai sapi perah untuk memenuhi kebutuhan susu pundi-pundi triliunan rupiah maupun dollar dari para pemilik modal besar, bahkan pemerintah pun mengikutinya dengan cara telengas (Anda tahu, kan, telepon atau listrik Anda akan segera diputus hanya karena keterlambatan pembayaran dalam hitungan hari?). Semua itu hanya menggunakan perangkat paling ampuh dan absurd dari ekonomi kapitalistik ini: harga. Khususnya di genre perdagangan mutakhirnya: jasa.

Jasa sebagai perdagangan mutakhir mungkin bisa disebut sebagai level lanjutan dari perdagangan berbasis pertanian (agrikultur) di masa pramodern dan industri manufaktur di masa modern. Sejak masa lalu bisnis memang sudah ada, bahkan untuk perbankan di Tiongkok sudah sejak paruh awal milenium kedua, dan dalam pengertian modern (warkat antara lain) sejak usai Perang Salib abad ke-12, ditemukan dan dijalankan para Ksatria Templar bagi para peziarah ke kota suci Jerusalem.

Namun, sebagai jenis perdagangan utama dunia, jasa baru mulai diakui secara formal sejak awal tahun 80-an, ketika Amerika Serikat (bersama negara-negara satelit ekonominya, seperti Kanada, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan Singapura) dengan intensif dan teguh memaksakan jenis perdagangan itu ke dalam aturan perdagangan global WTO. Sejak saat itu, nilai perdagangan jasa yang sangat minor sebelumnya, tak lebih dari 10 persen ketimbang agrikultur dan manufaktur meningkat dengan sangat cepat. Jika dua pendahulunya membutuhkan ribuan tahun dan ratusan tahun, jasa hanya membutuhkan sedikit dekade untuk melesat.


Bisa dibayangkan di wilayah di mana perdagangan tradisional masih dominan, seperti Sub-Sahara Afrika, pada 2005 perdagangan jasa sudah mengambil porsi 47 persen dari kapasitas ekonomi kawasan itu, sementara agrikultur hanya 16 persen dan manufaktur 37 persen. Bahkan data WTO mutakhir menunjukkan angka mencengangkan perdagangan jasa mengambil porsi lebih dari 50 persen total perdagangan dunia, melibatkan sepertiga tenaga kerja profesional, dan menguasai dua pertiga pendapatan global.

Kita semua mafhum, ke mana keuntungan terbesar terkumpul, tidak lain pada para pemilik modal besar yang menguasai aneka ragam mata komoditas jasa, mulai dari hotel, resto, penerbangan, turisme, pendidikan, transportasi, hiburan, hingga pelacuran, alkohol, dan perjudian. Keuntungan berlipat itu berbanding terbalik dengan kesejahteraan konsumen, khususnya rakyat kelas bawah, yang menderita kemiskinan absolut karena terisap pendapatan minusnya untuk jasa-jasa yang mereka juga —secara alamiah— ingin menikmatinya (tentu karena rayuan maut advertensi dan gaya hidup kelas atas dan menengah).

Sampai kapankah situasi ini? Bisakah ia berakhir? Mohon ampun, saya akan menyatakan dengan tegas: ia tak akan berakhir. Artinya? Jelas, pengisapan yang imperialistik ini akan terus berlanjut, hingga rakyat kebanyakan —tidak hanya yang ada di Sorong atau Tulungagung, tetapi juga Leningrad, Paris, dan New Delhi— benar-benar kempis kantong ekonomi bahkan harapan kesejahteraannya. Hingga pada masa di mana, kita, rakyat kebanyakan, tinggal menjadi budak-budak dari industri. Budak dari industri yang penghasilannya mengalir deras dari perasan keringat, air mata bahkan darah kita semua sebagai konsumen. Dan ironisnya, semua itu juga akan habis dengan cepat hanya untuk mengonsumsi hasil industri yang kita buat sendiri.

Maka, sebagian dari kita bekerja jauh lebih keras dibanding yang lain. Jauh lebih keras hingga lupa dengan tanggung jawab keluarga atau sosial di sekitarnya, hanya untuk menambal kekurangan-kekurangan pokok hidupnya, karena penghasilannya melalui apa yang disebut false consciousness diisap kenikmatan-kenikmatan jasa. Kita akan kerja lembur terus, akan cari sampingan terus, dan bila semua kemungkinan penghasilan alternatif itu sudah menyempit, kita pun akan menengok alternatif lain, yang ilegal bahkan kriminal.


Tidak mengherankan, bukan saja korupsi dan manipulasi merajalela, praktik dagang licik dan penuh tipu terjadi, tetapi juga kejahatan —yang mematikan— terjadi hanya untuk uang yang tak seberapa. Sebagian lagi melacurkan diri, karena tinggal memiliki itu satu-satunya modal yang bisa dijual. Dan betapa miris hati ini, ketika remaja-remaja belasan tahun itu kini menjual dirinya, lewat media-media sosial, dengan berbagai tawaran yang mengiris-iris harga diri.

Apakah tidak ada yang tersentuh dengan fenomena gila seperti ini? Di manakah mereka kaum elite yang mendapatkan limpahan berkah dan amanah dari kita, selaku khalayak? Tidakkah mata dan hati mereka tidak mampu lagi menangis? Atau justru tenggelam sebagai bagian dari arus besar hedonisme atau menjadi cecunguk dari peradaban dagang seperti itu? Sadar atau tak sadar, kita telah mengimperialisasi rakyat kita sendiri, khalayak yang telah memberikan kenikmatan dan kemelimpahan harta.

Di mana pemerintah? Padahal, di sementara lain, bangsa ini sangat terkenal dengan kebudayaan, kesenian, dan kekuatan kreatifnya, namun malah tidak mampu mengambil keuntungan dari bisnis jasa yang sebenarnya justru menjadi kekuatannya? Saya tidak ingin lagi berdoa, untuk kesadaran mereka —kaum elite— misalnya. Saya menuntut dengan keras: jangan biarkan, bahkan sekali-sekali jangan pernah menjadi komprador untuk menghancurkan bangsa ini dengan skema perdagangan seperti di atas. Bila itu terjadi, maka pasti akan menghancurkan harapan masa depan yang lebih mulia bagi anak cucu kita. Dan itu berarti akan menghancurkan peradaban kita di masa depan.

Radhar Panca Dahana,
Budayawan
KOMPAS, 7 Mei 2015

Wednesday, April 8, 2015

Surat Terbuka Untuk Ustadz Arifin Ilham


Yang saya hormati, Ustadz Arifin Ilham,

Assalamualaikum ww.
Perkenalkan, saya Dina Y. Sulaeman, seorang ibu rumah tangga biasa, yang senang belajar dan menulis. Kecintaan saya untuk menuntut ilmu mendorong saya untuk kuliah lagi di program doktor Hubungan Internasional; sama sekali tak ada karir yang menuntut saya untuk itu. Tulisan-tulisan saya selama ini, kelihatannya cukup banyak diapresiasi orang; dalam arti, bukan tulisan ngawur. Bahkan ada tulisan saya yang sempat dimuat di majalah Az-Zikra yang Antum terbitkan, Ustadz.

Hanya saja, sejak saya aktif memberikan penjelasan tentang bagaimana sebenarnya konflik Suriah, saya tiba-tiba dimusuhi oleh kelompok-kelompok radikal pro-jihad Suriah. Dan tiba-tiba saja, seorang ibu rumah tangga seperti saya mendapat ‘kehormatan’ dinobatkan jadi “Tokoh Syiah Indonesia” oleh media-media pro-jihad Suriah, yang pemiliknya adalah teman-teman Antum sendiri, Ustadz. Meskipun isi artikel berjudul Tokoh Syiah itu fitnah, tapi setidaknya tiba-tiba saja ada gelar ‘tokoh’ dilekatkan kepada saya. Siapa tahu gelar ini (meskipun ngawur), membuat saya dianggap sah untuk lancang menyurati seorang tokoh besar seperti Antum.

Ada pesan penting yang ingin saya sampaikan kepada Antum, Ustadz. Tolong, ingatlah lagi kronologi konflik Suriah, dengan mengaitkannya pada konflik Libya. Mengapa? Karena saya tahu, Antum sangat dirugikan oleh konflik Libya. Saya baca berita tahun 2011, bantuan dari Libya untuk yayasan Antum terputus gara-gara perang.

Qaddafi - Obama, Dina Sulaeman (atas), Arifin Ilham, Tony Blair - Qaddafi (bawah)

Saya juga beberapa kali menulis tentang Libya. Salah satu pegangan utama saya adalah kata-kata antum di Facebook, Ustadz, yaitu bahwa sesungguhnya Presiden Qaddafi adalah seorang hafiz Quran dan sangat konsern pada Islam. Ini yang antum tulis waktu itu Ustadz:

Alhamdulillah, sudah 3 X ke Libya, & 2 X sholat berjamaah di lapangan Moratania & Lapangan Tripoli sholat berjamaah yg dihadiri 873 ulama seluruh dunia & rakyat Libya, dg Imam langsung Muammar Qoddafy, bacaan panjang hampir 100 ayat AlBaqoroh, sbgn besar jamaah menangis, sebelumnya syahadat 456 muallaf dari suku2 Afrika, & dakwah beliau sll mengingatkan ttg ancaman Zionis & Barat, Pemimpin Arab boneka AS, selamatkan Palestina, Afghan & Irak…inilah kesanku pd almarhum, sahabatku Fillah.

Pernyataan Antum itu mematahkan tuduhan kaum ‘mujahidin’ Libya (yang disebarkan juga oleh media-media pro-jihad di Indonesia) bahwa Qaddafi adalah thoghut, kafir, musuh Islam; dan membuktikan kebohongan gerakan jihad mereka.

Saat konflik Libya baru meletus, data yang bisa saya dapat sangat sedikit, karena terhambatnya arus informasi dari sana (tapi kemudian segalanya menjadi jelas setelah ada jurnalis-jurnalis independen yang nekad masuk ke sana dengan taruhan nyawa). Di awal, saya pakai data-data dari PBB, bahwa HDI dan GDP Libya adalah tertinggi di Afrika (artinya, Libya adalah negara yang sangat-sangat makmur). Kesaksian beberapa orang yang pernah di Libya juga menambah keyakinan saya bahwa data ini sama sekali tidak cocok dengan skenario ‘gelombang demokratisasi’. Terlepas dari keburukan alm. Qaddafi (yang digambarkan media massa Barat, jadi saya tidak tahu pasti benar-tidaknya, Antum yang lebih kenal alm. Qaddafi, Ustadz), fakta tak terbantahkan adalah beliau menggunakan kekayaan alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.


Bila seluruh rakyat diberi gratis rumah, mobil, kesehatan, sekolah, berpendapatan US$ 14.600 per kapita, untuk apa lagi mereka menuntut Qaddafi mundur? Bahwa ada kelompok oposisi yang sakit hati dan ingin merebut kekuasaan, itu wajar saja. Tapi isu bahwa SELURUH rakyat Libya menghendaki demokrasi (atau berjihad melawan Qaddafi yang ‘kafir’), bahkan mengundang bantuan NATO, jelas omong kosong. Berita foto dan video yang dikirim jurnalis independen, misalnya Nazemroaya dari Kanada, justru menunjukkan demo luar biasa besar di Tripoli, menolak NATO. Tapi tak ada media mainstream yang mau memberitakan kebenaran ini.

Setelah NATO membombardir Libya pada Maret 2011 (dan yang hancur sebagian besar justru infrastruktur dan bangunan sipil), proyek rekonstruksi dan eksplorasi minyak, jatuh ke tangan negara-negara Barat. Bahkan, setelah Barat membekukan dana Libya di bank-bank luar negeri (dan tidak mengembalikannya ke rakyat Libya), Barat pula yang menawarkan hutang kepada pemerintah baru Libya, untuk biaya membangun kembali Libya yang sudah hancur lebur dibom NATO.

Sebagai orang yang sangat erat berhubungan dengan Libya, Antum pasti sepakat dengan saya, bahwa alm. Presiden Qaddafi dan sebagian besar rakyat Libya telah dizalimi oleh NATO.

Poin pentingnya adalah: NATO tidak punya legitimasi untuk mengirim pasukan ke Libya, kalau tidak ada persetujuan PBB. Dan mengapa PBB menyetujui? Salah satu alasannya, karena ada segelintir orang Libya yang berteriak-teriak meminta bantuan internasional karena mengaku telah terjadi PEMBUNUHAN MASSAL di Libya oleh Qaddafi.


Siapa segelintir orang Libya itu, Ustadz? Antum pasti tahu, mereka adalah kelompok yang menyebut diri sedang berjihad. Mereka adalah Al-Qaida Libya.

Cerita selanjutnya, inilah yang tidak banyak diketahui orang. Pasukan Al-Qaida Libya kemudian datang ke Suriah, untuk melatih orang-orang lokal Suriah (dan milisi yang berdatangan dari Irak), agar mereka melakukan skenario yang sama dengan Libya. Ini sama sekali bukan teori konspirasi. Datanya valid berdasarkan standar akademis, saya menuliskannya di buku saya Prahara Suriah. Saya sebut salah satu nama, Mahdi al-Harati, tokoh jihad Libya yang kemudian melatih milisi Liwaa al-Tauhid di Suriah.

Ketika Bashar Assad tidak berhasil digulingkan dengan ‘demonstrasi damai’ ala Kairo, pasukan militan yang dilatih milisi Libya pun angkat senjata. Isu yang dipakai sontak berubah. Bila tadinya ‘demokrasi’, kini ‘khilafah Islam’.

Dalam 2-3 kasus pembunuhan massal di suatu wilayah yang dituduhkan kepada Assad (saya sebut ‘dituduhkan’ karena kemudian hasil penyelidikan PBB menunjukkan aksi-aksi sadis itu bukan dilakukan tentara Assad), para milisi inilah yang berteriak mengundang Humanitarian Intervention (agar NATO juga menyerbu Suriah). Tapi selalu gagal. Pertama karena investigasi PBB kali ini lebih hati-hati (tidak seperti kasus Libya, PBB telah melakukan pelanggaran prosedur yang sangat serius ––ini sudah diteliti dalam disertasi seorang doktor Hubungan Internasional Unpad.


Kedua, karena opini publik internasional kini lebih waspada. Mereka sudah melihat hasil akhir serangan NATO di Libya. Jadi, mereka tidak lagi mau tertipu skenario yang sama. Tak heran bila banyak demo-demo di negara Barat yang menyeru agar AS dan NATO tidak serang Suriah.

Dan ketiga, adanya veto dari China dan Rusia. Sebabnya, mereka tidak mau rugi dua kali. Di Libya, mereka kehilangan kesempatan untuk mengeruk sumber daya alam karena sudah dikuasai Barat. Baik Libya maupun Suriah, adalah negara kaya minyak dan gas. Negara-negara NATO tidak akan mau meluncurkan perang (yang memakan biaya milyaran dollar), bila tidak ada prospek rampasan perang yang jauh berlipat ganda, yaitu minyak dan gas.

Dari kacamata geopolitik seperti ini, sebenarnya konflik Suriah dan Libya itu sangat mudah dipahami. Tidak lebih dari desain negara-negara kaya untuk menggulingkan rezim yang ‘keras kepala’ dan ‘tidak bisa diatur’, lalu menggantikannya dengan pemerintahan boneka yang dengan mudah memberikan konsesi migas kepada Barat.

Tetapi, di sebagian kalangan kaum muslimin, peta yang terang-benderang ini tidak terbaca. Dan efek perang nun jauh di sana, merembet hingga ke Indonesia. Mengapa? Karena mereka dibutakan oleh isu sektarian: Qaddafi itu thogut dan kafir, Assad itu Syiah, membantai Sunni; Syiah itu kafir dan sesat; Lihat bagaimana Suriah hancur karena Syiah, karena itu umat Islam di Indonesia harus berjihad melawan Syiah.

Wajah kota-kota di Suriah sebelum (before) dan sesudah (after) perang.

Narasi seperti ini begitu masif disebarluaskan, demi kelanjutan Perang Suriah. Ketika milisi-milisi jihad tidak berhasil mengalahkan tentara nasional, narasi ini dimanfaatkan untuk menggalang dana dan pasukan ‘mujahidin’ dari berbagai penjuru negara, termasuk Indonesia. Sejak awal perang pun, ada ribuan pasukan asing yang terlibat, di antaranya milisi Libya dan Irak. Jadi sejak awal, perang Suriah tidak bisa lagi disebut perang antara oposisi melawan rezim; karena yang bergabung dalam oposisi, sebagian besar justru pasukan asing.

Siapakah yang jadi korban terbesar, Ustadz?

Tak lain, kaum Ahlussunnah atau 74% rakyat Suriah. Jumlah penganut Syiah di Suriah hanya 16%, sisanya Kristen, Druze, Yahudi. Dengan komposisi demografi seperti itu, sulit untuk menyebut Syiah menindas Sunni. Dengan cara apa? Dasar negara Suriah pun, tercantum di UUD-nya adalah nasionalis Arab-sosialis. Militer Suriah dan menteri di Kabinet Assad, sebagian besar diisi oleh Ahlussunnah. Jihadis ISIS sekarang tidak lagi sekedar menyasar Syiah, tapi juga Sunni, Kristen, Druze, atau sesama mujahidin tapi beda ‘aliran’. Bahwa sekarang Iran dan Hizbullah (yang kebetulan Syiah) ikut terjun ke Perang Suriah melawan ISIS, sangat layak dianalisis dari sisi geopolitik (jadi, tidak dianalisis dari kacamata kebencian mazhab). Yaitu, demi menghalangi gerakan ISIS agar tidak meluas ke Beirut dan Teheran.

Setiap kali ada upaya ishlah (rekonsiliasi) antara Sunni dan Syiah, maka Yahudi (Zionis Israel) pasti akan "menggunting dalam lipatan".

Ustadz Arifin yang saya hormati,

Atas semua kejadian di Libya dan Suriah itu, saya menjadi sangat khawatir dan sedih saat membaca pernyataan Antum menyerukan jihad melawan Syiah. Tak mungkin ustadz semulia Antum yang gencar menyebarkan zikir, ingin negeri ini juga hancur lebur seperti Libya dan Suriah. Saat konflik Suriah, banyak ustadz (tapi kebanyakan tinggal di luar Suriah) yang menyerukan jihad melawan Syiah. Gejala ini juga muncul di Indonesia. Akhir-akhir ini, betapa maraknya majlis-majlis, spanduk, dan buku anti Syiah di berbagai penjuru negeri ini. Sangat jelas tujuan gerakan ini, yaitu ingin mengeskalasi kebencian publik terhadap Syiah. Proyek anti-Syiah semasif ini, pasti butuh dana sangat besar. Siapakah donaturnya? Antum pasti tahu Ustadz, saya saja tahu siapa.

Lalu, pada 12 Februari 2015, gong pun sudah Antum bunyikan: mari kita jihad melawan Syiah!

Saya mohon, Ustadz, cobalah Antum melihat lagi peta geopolitiknya. Dalam konflik di Libya dan Suriah, ada ulama-ulama yang bertanggung jawab: mereka mengkafirkan Qaddafi, mengkafirkan Assad, lalu menyerukan jihad. Dan yang turun ke lapangan untuk bertempur adalah muslimin yang merasa sedang berjihad melawan sesama muslim (tapi dituduh kafir). Lalu, setelah kaum muslimin saling gontok-gontokan, yang datang mengeruk kekayaan alam adalah korporasi-korporasi transnasional. Tidakkah ini puncak keabsurdan?

Gelombang pengungsi dari Syria yang dilanda kecamuk perang, sungguh pemandangan yang sangat mengerikan.

Antum adalah ulama, Ustadz. Antum juga seorang ayah. Dan saya adalah seorang ibu rumah tangga. Saya mohon, Antum sejenak membayangkan bila anak-anak kita harus sengsara dan menjadi pengungsi, seperti jutaan anak-anak Suriah (dan Libya) hari ini. Dan ini pun dalam skala kecil sudah terjadi, Ustadz. Ada 300-an orang Syiah, warga Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura, yang sejak 2012 hidup di pengungsian hingga hari ini, setelah sebelumnya rumah dan ternak mereka dibakar massa. Tidakkah kasih sayang zikir yang Antum lantunkan, melingkupi mereka, Ustadz?

Ustadz, kenanglah lagi betapa alm. Qaddafi yang Antum cintai telah dihancurkan melalui skenario seperti ini.
Wassalamualaikum ww.

Bandung, 16/2/2015,
Dina Y. Sulaeman
https://dinasulaeman.wordpress.com/2015/02/16/surat-terbuka-untuk-ustadz-arifin-ilham/

Saturday, April 4, 2015

Mengapa Anak-Anak Kita Lari ke Dunia Game?


Belakangan ini, saya menerima banyak keluhan dari orang tua yang anaknya tergila-gila main game. Kalau dibiarkan, sehari mungkin bisa lebih dari enam jam. Sementara itu, mengerjakan PR atau belajar, sulitnya minta ampun.

Begitu pula ketika tiba waktunya untuk berangkat les, anak-anak kehilangan semangat. Mereka memang berangkat, namun gairahnya redup. Mereka pergi hanya untuk memenuhi keinginan orang tua.

Sebagian orang tua mengaitkan main game dengan kinerja anak-anak di sekolah. Katanya, akibat terlalu sering main game, rapor anak-anaknya menjadi biasa-biasa saja. Mungkin bukan yang terjelek, tetapi jelas bukan yang terbaik. Bukan juara pertama.

Bukan hanya itu, orang tua juga cemas atas kesehatan mata dan obesitas. Memang, terlalu lama menatap layar komputer bisa berdampak negatif terhadap kesehatan mata dan gerakan anak. Karena itu, banyak orang tua yang melarang anak-anaknya bermain game atau membatasinya hanya pada hari-hari libur dan jumlah jamnya dibatasi.

Tetapi, tidak sedikit orang tua yang tidak peduli. Mereka membiarkan anak-anaknya bermain game seharian. Alasannya, supaya anak-anak tidak mengganggu aktivitas orang tua yang mungkin sedang asyik menonton TV, membaca buku atau koran, ngobrol, atau bekerja.


Kaya Apresiasi
Well, itulah kaitan dunia game dengan anak-anak dari sisi pandang orang tua. Namun, supaya fair, saya ajak Anda sebentar untuk melihat dunia game dari sisi pandang anak-anak.

Inilah pengamatan saya. Orang tua, ingatlah, game memberi anak-anak kita dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia nyata. Dunia game bagi anak-anak kita sangat apresiatif.

Ketika anak kita bergabung dalam suatu game, mereka langsung disambut dengan meriah. “Selamat datang. Inilah pahlawan yang akan membebaskan bangsa kita dari cengkeraman makhluk jahat.” Begitu sambutannya.

Lalu, anak-anak kita dibrifing dengan jelas tentang musuh-musuh yang bakal mereka hadapi. Siapa saja mereka, apa saja kehebatannya, dan sebagainya. Untuk menghadapi mereka, anak-anak kita juga dibekali berbagai senjata ampuh dan amunisi lainnya. Pada usia muda itu, mereka diperbolehkan memilih senjata atau perlengkapan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan. Semuanya canggih dan sangat imajinatif.


Perjalanan petualang pun segera dimulai. Anak-anak kita mulai beraksi. Setiap berhasil menaklukkan lawan-lawan yang menghadang sepanjang perjalanan, mereka akan dielu-elukan. Bahkan diapresiasi dengan tambahan senjata atau perlengkapan yang lebih canggih.

Ketika gagal, anak-anak kita juga tidak dihukum atau dicaci-maki. Sebaliknya, malah dihidupkan kembali, disuruh mencoba lagi, coba lagi, dan coba lagi. Sampai berhasil.

Lalu, ketika anak-anak kita berhasil mengalahkan, apresiasinya sungguh luar biasa. Ada tepuk tangan yang gemuruh dengan pesta kembang api. Anak-anak kita betul-betul disanjung sebagai pahlawan. Mereka pun bisa bertemu para hero lainnya dalam pesta para juara yang mempertontonkan kehebatan mereka.


Dunia Nyata
Itulah dunia game anak-anak kita. Sangat apresiatif. Bagaimana dengan dunia nyata yang mereka hadapi sehari-hari?

Selain instruksi gurunya yang satu arah dan sering tidak jelas, ketika anak melaporkan bahwa nilai ulangannya jelek, orang tua dan guru sering bereaksi berlebihan. Budaya pengajaran kita masih amat gemar menghukum. Orang tua pun gemar menegur. Sebagian mungkin marah-marah.

Padahal, untuk melaporkan nilai ulangannya yang jelek, anak-anak perlu membangkitkan keberanian. Mereka juga cemas akan menghadapi murka orang tuanya.

Berbeda bukan dengan dunia game yang tidak mengenal hukuman? Sebaliknya, anak-anak kita ditantang untuk mencoba lagi. Kalau gagal lagi, coba lagi, coba lagi, dan coba lagi. Begitu terus sampai berhasil.

Lalu, bagaimana kalau nilai ulangan anak Anda bagus? Nilainya 100? Apa yang Anda lakukan? Sebagian orang tua mungkin memuji, sebagian lainnya hanya berdehem kecil, “Ehm, bagus.” Tetapi, anak-anak kita jeli. Meskipun kita mengucapkan kata bagus, mereka bisa merasakan tidak adanya ketulusan di situ. Lalu, di sekolah, mereka juga dikucilkan dengan average students, dijadikan ancaman dan menjadi anak yang kurang gaul.


Sekali lagi, berbeda bukan dengan dunia game? Dengan nilai ulangan 100, kalau di dunia game, mungkin anak-anak kita sudah dielu-elukan.

Begitulah sejak kecil kita dibesarkan dan membesarkan anak-anak dalam lingkungan yang miskin apresiasi. Alhasil, kita menjadi begitu sulit memuji, tetapi sangat mudah mengkritik. Kita paling suka mencari-cari kekurangan orang lain, tetapi sulit sekali untuk melihat kelebihannya. Apalagi kalau orang lain itu adalah pesaing kita.

Itulah dunia nyata kita. Karena itu, tidak heran kalau sekarang kita menyaksikan dunia sekitar kita yang sibuk bertengkar. Pemerintah dengan DPR atau DPRD. Polisi dengan KPK. Hakim dengan jaksa. Satpol PP dengan masyarakat. Semua serba berebut dan amat kekanak-kanakan. Meski kompetensinya tidak bermutu, jabatan dipaksakan pada badannya. Dan sebagainya. Sungguh melelahkan.

Rhenald Kasali,
Akademisi, Praktisi Bisnis dan Guru Besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
JAWA POS, 26 Maret 2015