Showing posts with label Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Komunikasi. Show all posts

Friday, October 24, 2014

Dari Masjid?


Pada suatu Minggu pagi seperti biasa saya berjalan pulang ke rumah saya di Kompleks UI Ciputat dari acara rutin pengajian bakda subuh mingguan di Masjid Al-Irfan di kompleks perumahan saya itu. Namanya pulang dari masjid, tentunya saya berkain sarung, berkopiah, dan berkemeja lengan panjang seperti bapak-bapak lain di kompleks itu kalau shalat jamaah ke masjid.

Sambil berjalan santai menikmati udara pagi yang segar saya memperhatikan seorang mbak (panggilan orang Jakarta untuk profesi asisten rumah tangga alias pembantu) yang sedang menyapu jalanan di depan rumah bos nya beberapa rumah sebelum rumah saya. Dia melihat saya dan dengan tersenyum ramah bertanya, “Dari masjid, Pak?” “Astaga …,” pikir saya dalam hati, “Mbak ini apa enggak lihat saya pakai sarung dan kopiah? Kan jelas bukan dari berenang di pantai? Ya, jelas dari masjid lah? Sungguh pertanyaan yang sia-sia, enggak berguna, enggak efektif, dan enggak efisien.”

Tetapi, untuk tidak menyinggung dia, saya menjawab pertanyaan mbak itu, “Iya, Mbak! Sedang nyapu ya Mbak?” Pertanyaan balik yang sama begonya, tetapi keluar dari mulut seorang profesor senior UI. Walaupun bego, sapa-menyapa yang enggak jelas seperti itu menjadi ciri dari masyarakat yang bertradisi guyub (bahasa Jawa, artinya akrab, informal) yang banyak terjadi di masyarakat tradisional atau masyarakat pedesaan.

Karena itu, kalau kita pergi ke kota-kota kecil atau desa-desa di Jawa Tengah, DIY, atau Jawa Timur, sering kita dengar pertanyaan-pertanyaan yang buat orang kota besar seperti Jakarta adalah pertanyaan yang tak berguna misalnya: “Habis memborong, ya Bu?”(padahal jelas ibu itu membawa banyak bungkusan pulang dari pasar) dan jawabannya juga lebih jelas lagi, “Enggak kok Bu. Ini titipan orang,” (selalu ngeles, padahal memang dia baru belanja karena mau masak buat keluarganya).

Atau “Mau ke mana Pak?” (siapa dia, ada urusan apa, kok tanya-tanya?), jawabnya pun asal saja, “Enggak ... mau ke situ sebentar,” (selalu diawali dengan “enggak” dan enggak jelas juga yang di maksud “situ” itu mana?).


Pertanyaan dan jawaban seperti itu dalam situasi-situasi sosial di masyarakat paguyuban (istilah ini sudah menjadi istilah antropologi dan sosiologi yang artinya “kekeluargaan, informal, komunal”), adalah hal yang biasa. Secara harfiah dan logika memang tidak ada maknanya. Tetapi, secara sosial-psikologis, tanya-jawab singkat itu ekspresi dari silaturahmi, saling menghormati dan saling menghargai (dalam bahasa Jawa: nguwongke) antar dua pihak. Saling tanya-jawab itu bentuk saling sapa yang merupakan perwujudan dari sopan santun untuk menjaga agar masyarakat tetap guyub, akrab, akur selamanya.

Dalam masyarakat kota besar, masyarakat industri, masyarakat modern yang bersifat patembayan (formal, individualistik) suasana batinnya lebih rasional, tidak terlalu peka dari segi perasaan, lebih tak acuh, setiap orang ikuti jalannya masing-masing, dan baru bertegur sapa kalau ada kepentingan-kepentingan yang saling bertemu, bisa secara positif (koordinatif, kerja sama, kongsi, dan sebagainya), maupun secara negatif (konflik, persaingan, dan sebagainya).

Kendati demikian, di dalam bahasa Inggris tetap ada ungkapan sapaan yang sebetulnya juga tidak bermanfaat kecuali sebagai saling sapa saja misalnya “Hi, how are you doing?” yang dalam bahasa Indonesianya “Hai, apa kabar?” Pertanyaan seperti ini sebetulnya tidak memerlukan jawaban. Mau kabar baik atau kabar jelek memangnya masalah buat lo? Tetapi, demi sopan santun, jawaban kita kalau ditanya seperti itu hampir selalu positif seperti “Kabar baik”, “I am OK, thank you !”, kecuali kalau yang bertanya orang yang dekat dengan kita dan kita memang bermaksud untuk curhat.

Maka itu, pertanyaan sapaan itu bisa dijawab dengan curhat yang berkepanjangan. Jadi dalam masyarakat patembayan pun ada sisi-sisi sopan santun untuk saling menjaga perasaan, saling menghormati dan menghargai, agar semua sama-sama senang dan sama-sama tenang.


Dalam Islam ada kalimat-kalimat untuk saling sapa yang bukan sekadar kalimat-kalimat tak bermakna, tak berujung pangkal dan tak berguna, melainkan penuh dengan makna, yaitu “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,” dan yang dijawab dengan “Wa ‘alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh,” yang artinya adalah “Salam, semoga Allah merahmati dan memberkahi Anda”, yang dijawab dengan “Salam kembali, semoga Allah juga merahmati dan memberkahi Anda”.

Luar biasa sekali bukan? Jauh lebih bermakna daripada “Dari masjid, Pak?” atau “Hi, how are you doing?” atau “Apa kabar?”, yang kalau kita lagi suntuk bisa kita jawab, “Auk ah, gelap!” Sayang sekali, sapaan yang bermakna saling doa itu, yang sekarang diucapkan oleh setiap orang, dalam hampir setiap kesempatan (dalam satu kali pertemuan bisa puluhan kali diucapkan, karena setiap orang mengucapkannya kalau mau mulai bicara, padahal seharusnya cukup sekali saja diucapkan oleh MC atau pimpinan pertemuan dan sekali juga dijawab oleh hadirin), bahkan teman-teman yang non-muslim pun sudah fasih melafalkannya. Artinya, salam cara Islam itu sudah membudaya dalam masyarakat kita. Namun, salam yang penuh doa itu tidak berpengaruh apa-apa pada masyarakat.

Konflik antar-kelompok, antar-parpol, anak membunuh orang tua, tawuran karena berebut lahan parkir atau berebut pacar, suami KDRT istri, ibu KDRT anak, birokrat dan anggota legislatif mencuri uang rakyat, dan lainnya berlangsung terus-menerus. Tidak ada hentinya. Di Timur Tengah bahkan meletus perang saudara yang dahsyat dan berlarut-larut, lengkap dengan acara potong kepala, yang di Kalimantan Barat, Indonesia juga pernah terjadi ketika Melayu dan Dayak memerangi Madura.

Tidak ada manfaatnya ber-assalamu ‘alaikum kalau hanya penghias bibir, tidak diresapkan di hati nurani dan tidak keluar lagi dari hati nurani. Lebih baik ber-“Apa kabar?” saja atau “Dari masjid, ya Pak?”, tetapi betul-betul merupakan perwujudan silaturahmi.

Sarlito Wirawan Sarwono,
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO, 12 Oktober 2014

Thursday, March 13, 2014

Duduk Bersama


Saya rasa setiap orang pernah mengalami duduk bersama seseorang yang sama sekali tidak dikenal, misalnya ketika menunggu di tempat praktik dokter dan dokternya terlambat datang (ini hanya contoh, karena bisa juga terjadi di tempat lain).

Untuk mengatasi kebosanan biasanya salah satu mulai nyeletuk, “Dokternya lama, ya?” “Iya, padahal biasanya dia enggak pernah telat,” jawab yang lain. “Iya, padahal saya sudah buru-buru dari kantor, takut kena macet.”
“Iya, dokternya juga kena macet nih, barangkali. Ngomong-ngomong kantor Bapak di mana?”
“Di Jalan Thamrin. Di Bank Sejahtera Antarbangsa.”
“Loh, itu kan tempat anak saya bekerja?”
“Ah, serius? Nama anak Bapak siapa?”
“Adit. Dia di Bagian Hukum.”
“Wah, Adit itu anak buah saya. Saya Kepala Bagian Hukum di bank itu.”
“Wah, senang sekali ketemu Bapak.” Dan seterusnya mereka mengobrol, sehingga tidak disadari dokter sudah datang. Kisah berakhir dengan saling tukar nomor HP dan janji untuk saling kontak lagi.


Dalam ilmu psikologi komunikasi ada teori yang ditemukan oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham yang dinamakan teori Jendela Johari (singkatan dari nama kedua penemu teori ini: Jo dan Harri).

Teori ini mengatakan bahwa dalam komunikasi antara dua orang, ada hal-hal yang diketahui bersama yang dinamakan wilayah terang (WT), ada yang diketahui oleh diriku saja, tetapi tidak diketahui oleh kawannya yang dinamakan wilayah rahasia (WR), tetapi ada juga yang diriku tidak tahu padahal orang lain tahu yang dinamakan wilayah buta (WB), dan yang terakhir adalah wilayah sama-sama tidak tahu (WSSTT).

Kalau keempat wilayah itu dibayangkan seperti sebuah jendela persegi empat yang terbagi dalam empat bagian dengan dua palang horizontal dan vertikal, maka bagian jendela kiri atas adalah WT, di bawahnya WR, di sebelah kanan wilayah terang adalah WB, dan bagian kanan bawah adalah WSSTT. Dalam contoh kasus di atas tadi, ketika kedua bapak itu baru bertemu, maka bagian wilayah terang (WT) adalah yang paling kecil.

Kedua bapak itu hanya sama-sama tahu bahwa mereka sama-sama lama menunggu dokter. Selain itu mereka juga sama-sama tahu bahwa mereka sama-sama laki-laki, yang satu berdasi karena baru dari kantor, yang satu lagi berkemeja biasa karena pensiunan dan juga pastinya yang satu lebih muda dan yang pensiunan lebih tua.


Tetapi pada akhir percakapan, WT itu makin lebar, karena masing-masing sudah saling tahu di mana tempat kerja mereka, di mana tempat tinggalnya, berapa anak masing-masing. Dan bahkan yang tadinya termasuk wilayah SSTT jadi masuk ke WT (wilayah terang), yaitu ketika ternyata mereka masih ada hubungan saudara. Itulah dialog dalam arti kata yang sebenarnya.

Sepertinya enak sekali dialog itu, kan? Karena itulah dalam isu-isu sosial, termasuk politik, sering diserukan untuk duduk bersama dan berdialog untuk mengatasi perbedaan pendapat, perselisihan, bahkan konflik. Maka konflik Ambon dan Poso dicoba diselesaikan melalui dialog di Malino (11-12 Februari 2002), walaupun Ambon dan Poso tidak langsung damai.

Baru beberapa tahun kemudian Ambon damai. Namun di Poso beberapa hari yang lalu dua anggota Brimob yang sedang patroli ditembak orang tak dikenal. Aceh berhasil didamaikan melalui dialog RI-GAM pasca-tsunami, 27 Juli 2005, yang difasilitasi oleh Pemerintah Finlandia. Tetapi baru beberapa hari yang lalu juga, kita baca di koran tentang seorang Caleg Partai Nasional Aceh (PNA) bernama Faisal, mati ditembak di Banda Aceh.

Masih banyak contoh lain yang bisa dideretkan di sini, termasuk misalnya konflik Mesuji, konflik Bima, konflik Sunni-Syiah di Sampang, Madura, persoalan gereja Yasmin di Bogor, dll, yang semuanya berlarut-larut, walaupun sudah berkali-kali didialogkan. Jadi intinya, dialog itu tidak mudah.


Kembali kepada teori Jendela Johari di atas. Seandainya saya baru saja dari toilet dan lupa menutup ritsleting celana kemudian keluar dari toilet dengan keadaan “pintu kandang” yang terbuka, maka saya tidak sadar bahwa “naga” peliharaan saya terlihat dari luar. Ini jelas merupakan WB (wilayah buta), karena saya tidak tahu, padahal semua orang yang melihat saya pada tahu.

Kalau kebetulan pada waktu saya keluar toilet tadi ada seorang rekan profesor pria yang melihat posisi “pintu kandang” saya yang terbuka, maka tentu rekan itu akan memberi tahu, “Mas, ritsletingnya belum ditutup.”

Kemudian saya pun akan nengok ke bagian yang dimaksudnya, kaget sebentar, tetapi langsung menutup “pintu kandang” dan tersenyum sambil tersipu pada rekan tadi sambil berkata, “Oh, iya. Terima kasih, Mas.” Maka selesailah persoalan saya.

Lain halnya kalau yang bertemu saya setelah keluar dari toilet tadi adalah ibu-ibu dosen, atau mahasiswa putri (bisa juga mahasiswa laki-laki), dan sesudah itu saya langsung berceramah di seminar untuk ibu-ibu, bisa-bisa seharian “naga” saya jadi tontonan ibu-ibu (walaupun “naga” itu sebenarnya sudah dikasih baju), karena mereka yang bertemu saya tadi tidak ada yang berani memberi tahu saya.


Ketika saya tiba di rumah, tentu saja istri saya adalah yang pertama melihatnya, dan ia pun pasti menegur, “Mas, itu celanamu terbuka, tuh!” Waduh! Bagaimana rasanya saya? Persoalan besar telah terjadi karena banyak orang yang tidak mau berbagi, ketika mereka tahu sesuatu yang saya tidak tahu.

Nah, jelaslah bahwa orang tidak selalu mudah untuk berkomunikasi, yang intinya adalah berbagi informasi. Apalagi untuk duduk bersama dan berdialog.

Alasannya mungkin malu, segan, tidak sopan, takut, dll. Dalam kasus lain, alasan gengsi, harga diri, status, ideologi dll., bisa menyebabkan orang tidak mau berbicara, mendengar atau menerima informasi dari orang lain. Semua itu hasilnya sama saja, tidak membuat hal-hal yang gelap menjadi terang.

Karena itu hati-hati sebelum bicara, sebelum dialog. Suasana hati yang senang, kesediaan untuk mendengar dan kesediaan untuk berbagi perlu disiapkan lebih dulu agar orang bisa berdialog dengan nyaman dan wajar.

Sarlito Wirawan Sarwono,
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO, 9 Maret 2014