Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Saturday, October 31, 2020

Bila Bangsa Melupakan Sejarah


Rencana penghapusan atau pengalihan mata pelajaran sejarah dari wajib menjadi pilihan di SMA/SMK menuai reaksi berbagai pihak. Reaksi keras datang dari Asosiasi Guru Sejarah Indonesia, Masyarakat Sejarawan Indonesia, dan Perkumpulan Prodi Sejarah Se-Indonesia.

Walaupun Mendikbud Nadiem Anwar Makarim telah meluruskan, masih tersisa pertanyaan. Tahukah, apa dampak bangsa yang melupakan sejarah?

Pasti akan kehilangan identitas jati diri dan memori masa lalu. Melupakan memori kolektif masa lalu mempersulit usaha mendesain masa depan.

Memori kolektif dengan berbagai kisah generasi masa lalu yang berisi kegigihan, kerja keras, dan daya juang sangat penting untuk membangun semangat generasi masa kini. Termasuk pula memori kolektif masa kelam agar tidak berulang.

Indikasi kehilangan memori kolektif masa lalu tampak dalam rancangan sosialisasi kurikulum pendidikan menengah atas yang digagas salah satu unit di Kemendikbud.


Berpikir plurikausal
Orang tak akan belajar sejarah kalau tak ada gunanya. Kenyataan bahwa sejarah terus ditulis dalam setiap peradaban sepanjang zaman menjadi bukti bahwa sejarah itu perlu, seperti kata Kuntowijoyo (1993).

Sejarah memiliki dua guna: intrinsik dan ekstrinsik. Pertama, sejarah sebagai ilmu. Kedua sebagai pendidikan moral. Sejarah mengajarkan kejujuran melihat peristiwa masa lalu. Karena itulah, sejarah tak boleh bersikap hitam putih. Sejarah bukan “fakta yang dibuat” seperti sandiwara.

Dalam hal inilah, sejarah berfungsi mengajarkan pentingnya memiliki integritas dan berpikir secara komprehensif sehingga tak memandang suatu masalah dari satu aspek saja.

Sejarah harus berpikir plurikausal atau yang menjadi penyebab itu banyak. Termasuk di dalamnya menggagas sejarah sebagai pijakan dalam pendidikan politik dan kebijakan publik. Ini mengingat sebuah kebijakan diambil setelah melihat tingkat kebutuhan masyarakat sebagai pengguna. Bukan sebaliknya, kebijakan diambil guna keuntungan penguasa.


Maka dari itu, sejarah sebagai pendidikan perubahan terhadap masa depan sangat diperlukan. Di beberapa universitas, seperti Amerika, history of the future diajarkan untuk membangun industri bangsa dengan belajar dari pengalaman founding fathers terdahulu. 

Dengan memahami betapa pentingnya kesadaran sejarah bagi sebuah bangsa, pembangunan bangsa di Indonesia akan dilihat sebagai suatu perkembangan. Artinya, apa yang dilakukan hari ini haruslah lebih baik daripada hari kemarin. Diperlukan sikap kejiwaan atau mental attitude dan state of mind sebagai kekuatan untuk ikut aktif dalam dinamika bangsa yang sedang berdemokrasi.

Membaca problem demokrasi bangsa saat ini, meminjam terminologi Yudi Latif, bukan terletak pada problem legal, melainkan hati dan pikiran yang tengah berperang melawan watak kapitalistik dan feodalistik (Kompas, 17/9/2020).


Pengalaman demokrasi Indonesia era 1950-an menjadi referensi berharga betapa pentingnya menjaga persatuan dalam integritas pribadi bangsa di tengah problem yang terus ada. Karena itulah, dalam konteks kekinian sejarah harus menjadi bagian yang selalu aktual.

Untuk menentukan suatu kebijakan diperlukan pandangan dari sisi perkembangan. Misalnya, bagaimana bangsa berkembang dari revolusi tahap 1.0 sampai revolusi 4.0 saat ini. Ini dapat diperankan ilmuwan atau pengajar sejarah untuk menarasikan perkembangan bangsa sebelum menentukan kebijakan.

Kini, kita dalam era revolusi industri 4.0 yang menjadikan data sebagai basis utama dan digital sebagai sarana. Jika dikaitkan dengan konteks kesejarahan, kita harus secara sadar mulai mengelola dan menginventarisasi peristiwa atau kejadian sebagai basis data apabila peristiwa yang sama terulang kembali (l'histoire se repete).

Niels P Petersson (kiri) dan Jurgen Osterhammel (kanan).

Reaktualisasi sejarah
Sejarah jadi pijakan bangsa Indonesia untuk menganalisis perencanaan, menuju bangsa Indonesia yang lebih baik.

Salah satu caranya dengan mengarusutamakan pendekatan sejarah sebagai bagian dari pembangunan bangsa, direaktualisasikan dengan situasi zaman dan generasi yang hidup pada era baru. Saat ini, globalisasi telah mengintegrasikan dunia. Tidak sekadar pertukaran ekonomi (perdagangan), tetapi berbagai unsur kebudayaan dan juga keagamaan.

Sejak abad ke-15, globalisasi menjadi semakin intensif melalui penjelajahan orang-orang Eropa. Namun, globalisasi secara besar-besaran dikenal sejak abad ke-19. Memasuki abad ke-20, konektivitas ekonomi dan budaya dunia menjadi semakin padat. Sejak akhir abad ke-20 hingga kini, globalisasi tak dapat dibendung lagi karena jaringan internet dan seluler (Jurgen Osterhammel and Niels P Petersson, 2005).

Para pelakon dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, memberi contoh berbagai macam suku dan etnis berkumpul menjadi satu keluarga besar, bangsa Indonesia.

Dalam konteks Indonesia, kita selalu digelisahkan oleh masalah identitas nasional. Posisinya pada titik persilangan dunia membuat Indonesia menjadi salad bowl tempat bertemunya berbagai peradaban besar dunia. Itu pula sebabnya dalam sejarah kebudayaan Indonesia dikenal periodisasi yang mengacu pada masuknya peradaban besar dunia pada masyarakat Nusantara, yaitu Indianisasi (Hinduisme-Buddhisme), Islamisasi, modern (Barat, Kristen), ditambah pengaruh peradaban China.

Dampak dari masuknya peradaban besar dunia masih terus terasa hingga kini. Bangsa kita selalu merasa kebingungan untuk menemukan dan menetapkan simbol-simbol identitas nasional yang dapat merepresentasikan “asli” Indonesia. Padahal, sudah ada konsensus kebhinekaan sebagai cara pandang multikulturalistik.

Sudah barang tentu ada persoalan lain yang tak kalah kompleks. Ini terkait, misalnya, dengan cara bangsa kita merespons globalisasi agar Indonesia tetap dapat menjadi aktor dalam interaksi global.
Karena itulah, maka kita harus secara sadar memahami sejarah. Sejarah memberikan kisi-kisi pada kita untuk mengambil keputusan. Termasuk dalam pembangunan Indonesia (baik fisik/infrastruktur, manusia, maupun kebudayaan) harus berlandaskan sejarah.

Candi Borobudur dan gambar kapal di salah satu reliefnya.

Nilai kesinambungan
Sebagai bangsa, kita harus bersama merawat pembangunan agar berkesinambungan. Kewajiban itu dapat dilakukan jika kita sebagai bangsa memiliki kebanggaan nasional (national pride). Kebanggaan nasional dapat dibangkitkan dari prestasi bangsa di masa lampau. Karena itu, kita perlu sejarah.‎

Indonesia jelas sangat kaya akan prestasi bangsa di bidang sosial, ekonomi, budaya, politik, ketatanegaraan, teknologi, dan seni. Misalnya, Candi Borobudur di bidang arsitektur, phinisi di bidang kemaritiman, selain kekayaan sosial budaya (kearifan lokal).

Jadi, setiap prestasi bangsa itu harus menjadi kebanggaan. Kita perlu merawatnya dengan visi tujuan berbangsa dan bernegara, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Untuk menuju Indonesia Emas di 2045, diperlukan tahapan dan kesinambungan. Acuan haluan negara menjadi penting agar tak ada keterputusan antargenerasi. Membangun "Indonesia Masa Depan" mau tak mau mesti bertumpu pada "Indonesia Masa Lalu".

Ravik Karsidi,
Guru Besar Sosiologi Pendidikan UNS Solo;
Anggota Dewan Riset Nasional Bidang Sosial Humaniora, Pendidikan, Seni, dan Budaya

KOMPAS, 30 September 2020

Wednesday, January 2, 2013

Jurnal yang Melampaui Jurnalisme


Dalam naskah klasik Nagara Krtagama (1365 M), Mpu Prapanca dengan rendah hati menyebutkan bahwa apa yang dibabarkannya hanyalah catatan perjalanan sang Prabu Hayam Wuruk mengelilingi dan melihat keragaman desa (Desawarnana). Pada bagian akhir pupuh 375-6, ada tambahan bahwa penggambaran tentang desa dan desa semata tidaklah lengkap dan belum selesai. Ia harus dirampungkan dengan catatan tentang sang kala dan pengetahuan tentang lambang (citra, patra).

Banyak pihak mengandaikan naskah Nagara Krtagama (Desawarnana) sebagai naskah jurnalistik pertama Nusantara karena syarat dasar 5W1H (apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana) terekam jelas. Naskah ini membalikkan tradisi penulisan yang berpusat pada dewa dan kahyangan menjadi catatan perjalanan manusia dan desa di bumi. Waktu sejarah disusupkan dalam peristiwa keseharian, dicatat dan diberi tanda.

Jika demikian adanya, agaknya hampir tujuh abad, harapan Mpu Prapanca dapat digenapkan oleh himpunan catatan perjalanan Ekspedisi Cincin Api, yang dirangkum dalam bentuk buku oleh Ahmad Arif dengan judul Ekspedisi Kompas: Hidup Mati di Negeri Cincin Api. Buku itu akan diluncurkan Rabu malam ini di Bentara Budaya Jakarta.


Desa, Kala, Patra
Mengikuti Ekspedisi Cincin Api yang ditampilkan secara reguler di koran, melalui daring sosial, dan Kompas TV, ternyata berbeda dengan membaca bukunya. Keserentakan, kebaruan, dan watak media —meski mewartakan hal yang sama— justru melahirkan sensasi pengalaman yang berbeda.

Melalui buku, kita diajak untuk terlibat sekaligus mengambil jarak. Pembacaan teks menuntut sebuah bingkai dan cara pandang, sesuatu yang tak diperlukan saat menonton di multimedia. Buku memadatkan semua pengalaman bersama dan rangkaian peristiwa sebagai pengalaman eksistensial. Masa yang jauh ditarik dalam perbincangan sehari-hari, sementara sebuah tempat tidaklah diwakili dengan nama saja, tetapi berubah sebagai sebuah tanda, sebuah torehan dalam sejarah.

Dalam buku ini, Tambora, Krakatau, dan, Toba misalnya, tidaklah merujuk pada sebuah tempat atau lanskap geologis semata. Nama itu mewakili sebuah peristiwa, sebuah penanda dalam waktu, yang mengawali atau mengakhiri sebuah masa.

Ekspedisi ini membawa para ahli arkeologi, botani, geologi, antropologi, bahasa, dan sejarah dalam suatu karnaval untuk membuat peta baru. Peta yang ditenun dari pengetahuan dan ingatan, dari penelitian dan dugaan, dari keyakinan dan mitos. Membaca ekspedisi Cincin Api dengan kekayaan sejarah alamnya menyadarkan kita bahwa hiruk pikuk politik hanyalah pernik atau kebetulan dalam sejarah.


Dengan caranya sendiri, ekspedisi mengajak pembacanya untuk melakukan penziarahan bersama dalam melacak sekaligus menyusun identitas diri. Bahwa kita mewarisi tanah dan air yang mudah goyah dan dibentuk setiap saat, mewarisi gairah untuk mati dan gairah untuk hidup yang sama besarnya.

Karena itu, jurnalisme yang melatari dan menghasilkan Cincin Api bukanlah jurnalisme biasa. Berbeda dengan jurnalisme investigatif yang berusaha menyingkap hubungan kausal peristiwa dengan kritis dan mendalam. Juga bukan jurnalisme baru yang mengembalikan narasi dan bahasa pada kehangatan hidup manusia.

Jurnalisme Cincin Api mencoba membabarkan sekaligus melampaui peristiwa, sebuah rekaman yang bersifat antisipatoris. Ia meletakkan alam, benda-benda, peristiwa, ingatan, pengetahuan, bencana, dan daya hidup dalam sistem kesadaran bersama. Masa lampau yang panjang dan masa kini dipadatkan untuk menyusun tindakan (antisipasi) bagi mereka yang belum lahir.

Jurnalisme ini memadukan dengan organik, kesatuan antara desa (ruang, alam); kala (waktu, bencana); dan patra (lambang, logos). Dengan memadukan kecerdasan kolektif melalui teknologi digital, kita sedang menyaksikan apa yang sementara ini disebut beyond journalism atau jurnalisme yang melampaui.

Nusantara yang kaya raya, baik kandungan alamnya, gunung dan samudra, fauna, flora, dan berbagai macam bangunan yang sangat indah.

Gunung dan Samudra
Berbeda dengan ekspedisi Kompas sebelumnya, Anyer-Panarukan, Bengawan Solo, Kapuas, ataupun Nusa Tenggara yang menggunakan pendekatan investigatif dalam pelaporan jurnalistiknya, Ekspedisi Cincin Api, sesuai dengan namanya, memilih gunung dan samudra sebagai desa penjelajahan.

Dalam kepercayaan Nusantara, gunung bukanlah tempat netral, melainkan pusat jagat tempat pertemuan dunia atas dan bawah, pertemuan antara yang sakral dan profan, antara kehidupan dan kematian. Masyarakat Nusantara percaya adanya Dewa Gunung, sebagai dewa tertinggi yang mengatasi dewa yang datang kemudian. Hyang Acalapati pada masa Hayam Wuruk atau Parwataraja pada masa Airlangga (Kakawin Arjunawiwaha) atau Parwatandtha (Nagara Krtagama) dan Girindtha (Sutasoma). Namun, gunung tidaklah berdiri sendiri, tetapi berpasangan secara organis dengan samudra, yang kemudian melahirkan konsep dasar Segara-Giri sebagai rujukan istilah tanah dan air.

Membaca catatan perjalanan tentang Tambora (1815), Krakatau (1883), Agung (1963), Merapi (2010), dan Gamalama, sama memukaunya dengan pemaparan tentang tsunami Aceh, Padang, atau Pangandaran. Semuanya mengantar pada kesadaran betapa ringkihnya kita hidup dalam sabuk bencana. Namun dengan caranya sendiri, masyarakat mampu mengelola kecemasan dan harapannya.

Saya tergoda untuk membandingkan, apa yang dilakukan oleh Ekspedisi Cincin Api ini dengan perjalanan Danhyang Nirartha yang melakukan penziarahan dari gunung ke gunung dan dari samudra ke samudra.

Taufik Rahzen, seorang tokoh budayawan pendiri Newseum Indonesia.

Saat mulai runtuhnya Majapahit dengan mulai bangkitnya Islam, Rsi Nirartha melakukan perjalanan Dharmayatra (1489 M) dari Semeru, Bromo, Blambangan, Agung, Rinjani, dan Tambora selama 20 tahun. Ia berinteraksi sekaligus membangun komunitas. Jika di gunung ia meninggalkan pura pemujaan yang indah dan komunitas plural yang kuat, di pantai samudra ia meninggalkan warisan yang kita kenal saat ini dengan Tanah Lot, Uluwatu, Ponjok Batu, Sakenan, dan puluhan pura indah lainnya sepanjang perjalanan. Ia jadikan tempat penziarahannya sebagai sistem pengetahuan yang dapat dinikmati bergenerasi-generasi.

Bagi Nirartha, tujuan perjalanan sesungguhnya adalah bagaimana mengabadikan candi sastra, di mana keindahan, kebenaran, keabadian, dan kesucian dapat dialami bersama dalam komunitas. Hal itu dapat dicapai melalui penerapan keseimbangan rasa, basa, masa, dan yasa. Keserasian rasa seni, bahasa pengetahuan, masa sejarah, dan monumen karya yang berpadu pada keseimbangan hidup yang menjadikan abadi dan bermakna.

Setahun lalu, saat memperingati hari Jurnalistik Indonesia, 7 Desember 2011, Newseum Indonesia memberikan Anugerah Tirto Adhi Soerjo untuk Ekspedisi Cincin Api atas pencapaiannya yang menggetarkan dalam tradisi jurnalistik. Ekspedisi ini secara kreatif melanjutkan tradisi besar Prapanca dan Nirartha, tetapi sekaligus membuka pemahaman baru terhadap diri kita, komunitas, dan lingkungan di mana kita bertahan hidup.

Taufik Rahzen
Pendiri Newseum Indonesia,
Dewan Kurator Anugerah Tirto Adhi Soerjo

KOMPAS, 12 Desember 2012