Thursday, January 21, 2021

Indonesia Rumah Persaudaraan


Setiap tanggal 10 Desember kita merayakan Hari HAM Sedunia. Dan pada 10 Desember 2020 kemarin, kita peringati 72 tahun deklarasi universal hak asasi manusia (DUHAM). Dekalarasi ini merupakan kulminasi dari fakta kekerasan tak terkendali segelintir negara kuat. Selama masa ini, dunia menjadi arena pertarungan kekuatan fisik yang menumbalkan warga.

Dunia yang berjalan tanpa kepastian hukum dan norma yang berlaku umum telah mengubah kehidupan menjadi keadaan darurat yang konstan. Filsuf Thomas Hobbes melukiskan kondisi ini: bellum omnium contra omnes, perang semua melawan semua.

Para penguasa bertindak sewenang-wenang. Warga kehilangan kepercayaan pada para pemimpin. Hukum tak punya arti dan tak punya taring karena ditafsirkan sesuka hati seturut kuasa dan uang. Kondisi ini mengantar dunia ke jurang kehancuran tragis.

Situasi kelam ini memunculkan kesadaran pentingnya sebuah panduan bersama yang menggerakkan keyakinan para pemimpin negara Barat pada paruh pertama abad ke-20 untuk mendeklarasikan paham universal HAM. Ada kesadaran bersama bahwa kehidupan masyarakat global tidak dapat dibangun atas dasar kekuatan fisik.


Adagium usang, si vis pacem para bellum: jika mau berdamai, bersiap-siaplah berperang, tidak memiliki kekuatan lagi karena telah menelan jutaan korban. Totalitarianisme abad ke-20, baik totalitarianisme atas nama bangsa (fasisme), atas nama ras (rasisme) maupun atas nama kelas sosial (sosialisme), telah berakhir pada pembantaian massal jutaan manusia. Dalam bahasa Rousseau, kekuatan belaka harus diterjemahkan ke dalam bahasa hukum, ketaatan buta menjadi kewajiban rasional sebagai jaminan perdamaian sosial.

"Der Starkste ist nie stark genug, um immerdar Herr zu bleiben, wenn er seine Staerke nicht in Recht und den Gehorsam nicht in Pflicht verwandelt: Yang paling kuat sekalipun tidak pernah cukup kuat untuk tetap menjadi tuan jika ia tidak berhasil menerjemahkan kekuatan itu ke dalam hukum dan ketaatan menjadi kewajiban (JJ Rousseau, Der Gesellschaftsvertrag, I,3: 8)".

Maka, dalam konteks sosio-historis ini, deklarasi HAM merupakan bentuk protes moral dan jawaban politis atas sejarah penindasan yang mendera umat manusia. Deklarasi HAM dapat dipandang sebagai puncak prestasi intelektual abad pencerahan yang menjadikan martabat manusia sebagai basis legitimasi etis universal kehidupan bersama pada umumnya serta konsep negara hukum demokratis khususnya (Otto Gusti Madung: Dialektika antara Agama dan Teori Diskursus dalam Diskusi tentang Hak-hak Asasi Manusia, 2013).


Deklarasi universal melihat HAM sebagai hak-hak dasar yang melekat pada diri setiap manusia secara kodrati, universal, dan abadi. Pasal 1 Ayat (1) UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM mendefinisikan HAM sebagai seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum dan pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Hak asasi ini keberadaanya mendahului institusi negara. Maka, negara tidak berhak menghilangkan HAM setiap warga. Pengakuan negara atas hak setiap warga merupakan bukti negara menghormati martabat manusia.

Maka, hak adalah suatu klaim yang dapat dibenarkan, berdasarkan landasan moral dan hukum untuk memiliki atau memperoleh sesuatu atau untuk bertindak dengan cara tertentu (Dorkwin 267: 1978). John Locke menegaskan bahwa klaim-klaim HAM itu semata-mata karena kita adalah manusia (Natural Rights Theory, Locke).


Malu dan bosan
UUD 1945 adalah hukum dasar tertulis (basic law) sebagai Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Deklarasi universal HAM termuat dalam UUD 1945 dalam Pasal 27-34 mencakup hak sipil dan politik, hak ekonomi, sosial, dan budaya. Pasal-pasal ini telah merepresentasi empat elemen dalam deklarasi universal HAM, yaitu penghargaan terhadap individu tiap manusia berhadapan dengan kelompok sosial, penghargaan pada pribadi individual, kebebasan sipil dan hak politik, serta pemenuhan hak-hak sosial, ekonomi dan budaya (ecosoc).

Fakta ini membuktikan bahwa Deklarasi Universal HAM telah menjadi jantung konstitusi negara kita. Pertanyaannya adalah apakah jantung konstitusi itu masih berdegup atau tidak, di tengah realitas kehidupan berbangsa?

Sebagai rakyat kecil yang mengais hidup di pinggiran negeri ini, sejujurnya ada rasa bosan dan malu untuk menulis realitas bangsa yang diseraki perilaku tidak terpuji para pemimpin. Mata manusiawi telah lama sakit dan nurani kemanusiaan terkoyak oleh pesta pora elite di atas derita rakyat. Tragedi kemanusiaan yang menginspirasi lahirnya deklarasi HAM tetap eksis dalam kemasan baru.


Mengutip Antologi 100 Puisi Taufiq Ismail, "Malu (Aku) Menjadi Orang Indonesia" (YI, 2003), rakyat sekadar menjadi pasien penderita rasa malu di negeri yang sedang sakit dan dokter-dokternya gagap memberi terapi. Reformasi 1998 hanya sebentuk pil penenang.

Bangsa di negeri yang subur makmur kaya-raya nan molek permai ini terpuruk karena dongeng kebesaran ekonomi yang kehilangan daya bius; dan rakyat terus merasa sakit disuntik dengan retorika dan slogan-slogan yang kehilangan mujarabnya menyembuhkan amnesia sejarah.

Para elite kekuasaan, baik politik maupun ekonomi, dari Jakarta hingga ke daerah terus saja memerintah berbendera korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Mereka memerintah dengan cara korup (mencuri milik bersama dan makan sendiri), kolusi (mencuri milik bersama dan makan di antara sesama koruptor) dan nepotisme (mencuri milik bersama dan makan bersama keluarga). Hasil curian mereka terus melegenda, bahkan semakin menggila di tengah penderitaan rakyat akibat pandemi Covid-19.

Bosan itu bukan sekadar istilah psikologi. Ada riak politis yang membeku dalam perasaan muak terhadap cara elite mengelola bangsa. Bosan itu semacam manuver batin rakyat jelata yang menuntut perubahan dengan jalan membosani sepak terjang pengelola negara yang tak kunjung memberi solusi di tengah keterpurukan. Rasa bosan itu bisa saja memasuki wilayah populis berskala sosial politik, bahkan berpotensi menuju matinya rasa kebangsaan. (VOX, Ledalero, Seri 43/1/1999: 7).


Rumah rakyat
Indonesia adalah hasil konsensus bersama seluruh bangsa. Mereka adalah pribadi-pribadi yang dalam konsepsi HAM dan agama-agama didefinisikan sebagai wajah, citra Allah (Imago Dei). HAM mesti menjadi landasan demokrasi. HAM adalah ungkapan dari prinsip martabat manusia.

Dari perspektif ini, martabat manusia dipahami sebagai prinsip etis yang memiliki validitas transhistoris serta kriteria yang melampaui segala model masyarakat. Maka, proses kerja pemerintahan yang demokratis mesti memperhatikan eksistensi setiap individu yang diselaraskan dalam konstitusi negara.

Prinsip utama adalah kesetaraan, kebebasan, kesejahteraan, dan keamanan. Nilai-nilai dasar ini telah lama menjadi kemewahan bagi mayoritas rakyat. Kondisi ini semakin diperparah dengan perilaku elite yang terasing dari demokrasi dengan basis HAM yang menjadi jantung konstitusi.


Kembali ke rumah rakyat adalah sebuah solusi rasional atas rasa malu dan bosan bernada cemooh. Kebosanan rakyat lebih dahsyat dari teror terang-terangan sebab menyertakan unsur kompulsif yang oleh Sigmund Freud diidentifikasi sebagai "kompleks terdesak". Pemberontakan model ini cenderung irasional. Karena rakyat tetap dalam kesangsian abadi.

Dalam perspektif filsuf Rene Descartes, kembali ke rumah rakyat berarti menguji suatu kebenaran dengan pendekatan rasional-konstitusional sambil mempertanyakan segala hal yang terjadi menuju perubahan. Hal ini dapat mencegah kesangsian abadi versi kompleks dengan ekspresi keputusasaan yang parah, seperti misalnya sebagian rakyat Papua yang menuntut opsi kemerdekaan karena hak-hak dasarnya terabaikan.


Rumah rakyat adalah kota adil yang kembali menyatukan seluruh rakyat yang telah lama mengungsi karena bosan dan malu menjadi bagian bangsa ini. Rumah rakyat adalah Indonesia tempat rakyat hidup bersama sebagai satu keluarga yang demokratis di bawah hukum yang adil dan benar.

Mahatma Gandhi mengingatkan bahwa kita perlu memperluas hukum kekeluargaan untuk membentuk suatu bangsa, yaitu keluarga dalam lingkungan yang luas, tempat semua orang bisa hidup bersaudara (Gandhi, 2009: 145).

Steph Tupeng Witin,
Penulis,
Alumnus STFK Ledalero, Flores

KOMPAS, 10 Desember 2020

Saturday, December 26, 2020

Maudy Berbicara Kepada Pohon


Akhir-akhir ini aktris Maudy Koesnaedi sering berbicara kepada pohon. Ketika hari terik, ia dekati pohon-pohon di sekitar rumahnya, lalu berkata, “Everything is okay guys, tapi kalau misalnya lagi berhujan, kebasahan enggak, kelembaban enggak? Kalau ada yang kuning, kamu kenapa? Kalau ada yang tumbuh beda, kamu kenapa beda sendiri?”

Pohon-pohon tak langsung menjawab. Keesokan harinya, ketika Maudy kembali mengunjungi pot-pot di mana pohon-pohon itu tumbuh, ia mendapati suasana yang berbeda. Terkadang muncul tunas-tunas baru atau daun-daun yang makin menghijau.

Maudy seolah mendapatkan harapan baru di tengah situasi pandemi yang tak mudah dilewati. Setidaknya, ia mendapatkan hari-harinya dilumuri kegembiraan walau telah lebih dari delapan bulan hanya berdiam diri di rumah saja.

Danarto dan Kecubung Pengasihan.

Tak mudah melalui hari-hari di rumah sendiri. Ketika kecemasan dan ketakutan terhadap sergapan Covid-19 menjelma jadi kepanikan, banyak orang berharap pada pohon. Sejak beberapa bulan terakhir, Maudy menumpahkan segala keresahannya kepada pohon.

Banyak orang juga menanam dan merawat pohon dalam pot-pot yang cantik, lalu diletakkan di sekitar rumah. Tempat-tempat penjualan pohon di ruas-ruas jalan selalu penuh di akhir pekan. Ini pertanda banyak orang menemukan “kasih sayang” dari pohon-pohon.

Ketika berbicara kepada orang, apalagi orang asing, dianggap sebagai ancaman, maka kenyamanan dan keteduhan itu dipancarkan oleh pohon-pohon. Ingat cerpen berjudul “Kecubung Pengasihan” dari Danarto? Perempuan bunting merasa jauh lebih aman berbicara dengan bunga-bunga yang tumbuh mekar di sebuah taman, ketimbang bercerita kepada para lelaki di sekitarnya.

Sapaan pertama kali yang selalu ia dapatkan justru dari gerumbul pohon bunga di taman itu. Perempuan bunting bahkan meneruskan hidup sebelum mencapai pencerahan dengan memakan bunga-bunga kecubung. Penderitaan sebagai perempuan bunting, yang bahkan tak kebagian makanan di tong sampah, terobati oleh bunga-bunga kecubung.

Siddharta Gautama bertapa di bawah pohon bodhi.

Aku jadi ingat kisah Siddharta Gautama ketika memutuskan pergi bertapa ke hutan Gaya, yang terletak di tepi Sungai Neranjara. Siddharta kemudian memilih menuju sebuah pohon, yang kelak dikenal dengan pohon bodhi. Di bawah pohon bodhi, Siddharta melakukan tapa semadi untuk menghilangkan keterikatan dirinya pada nafsu-nafsu yang menjerumuskan manusia pada penderitaan.

Ketika benar-benar memperoleh pencerahan, Siddharta melakukan apa yang disebut dengan “menatap tanpa berkedip”. Siddharta selama seminggu menatap pohon bodhi yang telah memberikan keteduhan dan melindungi dirinya dari kekejaman hutan Gaya. Ia mengucapkan rasa terima kasih tak terhingga kepada pohon bodhi dan meneguhkan janji tak akan memasuki pintu nirwana, sebelum makhluk lain mencapai pencerahan.

Kelak kau akan mengenal istilah bodhisatwa, seseorang yang menyerahkan diri dengan segala welas asih yang ada pada dirinya untuk kebahagiaan makhluk lain. Bodhisatwa berasal dari pohon bodhi, yang telah menjelma menjadi simbol pencerahan, dan satwa tak lain adalah bermakna dirimu dan makhluk-makhluk Tuhan di sekitar dirimu. Kisah yang berlangsung tahun 588 SM ini, telah menjadi catatan penting untuk menandai relasi intim antara manusia dengan pepohonan.

Pohon cemara sebagai simbol Pohon Natal.

Tahun 1830, menurut cerita, para pemeluk Nasrani di Jerman mulai mendekorasi rumah-rumah mereka dengan pohon Natal atau cemara saat memasuki bulan Desember. Pohon Natal, kemudian menjelma menjadi simbol “kehijauan” rohaniah yang terus menerus tumbuh, bahkan ketika musim salju.

Ia tidak hanya mengabarkan aura kebahagiaan dan kegembiraan, tetapi menjadi harapan peningkatan dunia rohaniah umat manusia. Jika hari-hari ini kau menemukan begitu banyak pohon Natal menghias sudut-sudut kota atau plasa sebuah mal, semoga hari-hari ini juga ikatan kita kepada pohon semakin lekat.

Kalau kau pergi ke negeri tetangga seperti Singapura, hampir seluruh ruas jalan meriah oleh lampu kerlap-kerlip, dengan pohon Natal yang tiba-tiba tumbuh di bulan Desember. Betapa pun artifisialnya, kau tak perlu terlalu risau, karena begitulah cara kita dewasa ini menghayati pertemanan kita dengan pohon-pohon.

Penjor menghiasi jalanan di Bali.

Jika hutan-hutan telah ludes oleh tumbuhnya gedung-gedung di kotamu, di desaku orang-orang masih merayakan hari raya pohon. Kami menyebutnya sebagai Tumpek Uduh, sebuah hari raya penghormatan terhadap pepohonan.

Tumpek Uduh selalu dirayakan pada hari Saniscara Kliwon Wariga, sebuah pertemuan hari dalam perhitungan kalender Bali, di mana Dewa Sangkara akan turun ke Bumi memberi berkat kepada pohon-pohon agar tumbuh subur, hijau, dan memberi manfaat.

Pada prakteknya, nenekku selalu pergi ke teba (kebun) di sudut barat laut, di mana Dewa Sangkara “bermukim” dalam kosmologi Bali, untuk berbicara dengan pohon. Aku masih ingat nenek selalu berhadap-hadapan “muka” dengan pohon mangga golek yang tumbuh besar dan rimbun.

Masyarakat Bali, memuliakan pohon (tumbuhan, tanaman).

Dengan terbata-bata nenek berucap, “Nini Nini, buin selae dina Galungan, mabuah apang nged nged… nged… nged….” Doa sederhana ini artinya,"Nenek Nenek, 25 hari lagi Galungan, berbuahlah yang lebat selebat-lebatnya …."

Lalu nenek biasanya, komat-komat dan menepuk-nepuk batang pohon mangga seolah-olah sedang menyentuh kaki seorang tua yang ia hormati. Kalau aku hanya diam saja, nenek memerintahkan kepadaku untuk menatap lekat-lekat pohon mangga golek, dari akar-akarnya sampai kepada pucuk-pucuk daunnya.

Nyatanya, pohon mangga golek yang besar dan rimbun itu selalu memberi buah tanpa henti. Kendati begitu, nenek tak pernah menjualnya. Ia selalu meminta kepada para cucunya, kalau mengunjunginya ke kebun, yang jaraknya kira-kira 10 kilometer dari rumahku di kota Negara, agar melihat apakah mangga golek sudah ada yang matang. “Kalau sudah matang, silakan kau petik, sisakan kepada saudara yang lain,” selalu begitu kata nenek.


Dalam perayaan Tumpek Uduh, memandang pohon sebagai Nini, menjadi semacam pengakuan bahwa pohon-pohon diposisikan sebagai “leluhur”, sebagai cikal-bakal atau asal mula. Kitab Bhagawadgita menyebutkan: patram, puspam phalam toyam// yo me bhaktya prayacchati/tad aham bhakti-upahrtam/asnami prayatatmanah// (Siapa saja yang sujud kepada-Ku dengan persembahan/setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah atau seteguk air/Aku terima sebagai bakti/persembahan dari orang yang tulus hati).

Sloka ini menempatkan daun (patram), bunga (puspam), buah (phalam), dan air (toyam), sebagai inti dari persembahan kepada Tuhan. Sudah pasti kau tahu, bahwa daun, bunga, buah, dan air adalah bagian tak terpisahkan dari sebatang pohon.

Kita bisa menafsirkannya, jika kitab suci meletakkan bagian-bagian dari pohon sebagai inti dari persembahan, maka sudah selayaknya manusia menghormati pohon sebagai simpul yang menghubungkannya dengan sifat-sifat ketuhanan.

I Lubdaka bersembunyi di atas pohon.

Pada bagian ini, aku harus mengutip kisah mitologi yang amat populer di Bali tentang seorang pemburu bernama I Lubdaka. Sebagai pemburu hewan di hutan, Lubdaka dicap telah “menimbun” dosa yang begitu besar.

Pekerjaannya tiada lain seorang pembunuh, yang memburu hewan-hewan liar lalu dagingnya diperjual-belikan. Kau tahu, membunuh sesama makhluk Tuhan adalah salah satu yang dilarang dalam ajaranku.

Suatu hari, I Lubdaka sudah jelajahi seisi hutan, tetapi ia tak mendapatkan hewan buruan satu pun. Sore hari ketika lamat-lamat ia menemukan bayangan seekor kijang, ia coba memburunya. Kijang yang lincah itu seketika menghilang di balik rerimbunan hutan. Ketika hari benar-benar gelap dan suara-suara hutan menggema menyeramkan, membuat bulu kuduk I Lubdaka berdiri.

Auman suara harimau, telah membawanya memanjat sebuah pohon rindang yang tumbuh di tepi sebuah telaga. Lubdaka menyelamatkan diri dari sergapan hewan buas dengan duduk di sebuah dahan pohon bilva. Karena takut jatuh jika tiba-tiba ia terserang rasa kantuk, Lubdaka memetik daun-daun bilva dan kemudian menjatuhkannya satu per satu.

Pohon Bilva, Bila atau Maja.

Tanpa sengaja daun-daun bilva yang melayang itu menyentuh bagian-bagian tubuh (lingga) Dewa Siwa yang sedang melakukan tapa semadi di bulan mati. Siapa pun yang melakukan laku bakti dengan cara "bergadang" dan merapal ayat-ayat suci semalam suntuk di saat Dewa Siwa sedang melakukan tapa semadi, seluruh dosa-dosanya akan dibersihkan. Benar, ketika I Lubdaka meninggal dunia, ia memperoleh surga, karena dinilai telah melakukan penyucian diri saat hari suci, yang kemudian disebut sebagai Siwaratri.

Secara populer kemudian hari raya Siwaratri diperingati setahun sekali, tepat pada Purwaning Tilem atau panglong ping 14 sasih Kepitu (bulan ketujuh) sebelum bulan benar-benar mati. Biasanya, Siwaratri jatuh sekitar bulan Januari dalam penanggalan Masehi. Pada malam Siwaratri, umat Hindu memanjatkan doa dan bergadang semalam suntuk dengan membaca sloka-sloka kitab suci untuk menebus dosa.

Oleh sebab itu, Siwaratri kemudian dikenal sebagai malam peleburan dosa. Daun-daun pohon bilva, di Indonesia dikenal dengan pohon bila, yang dipetik dan diluncurkan Lubdaka, menjadi representasi sloka-sloka suci yang dilantunkan untuk memuja kebesaran Dewa Siwa.


Kalau akhir-akhir ini di sekitar dirimu banyak yang menanam, merawat, dan bahkan berbicara dengan pohon-pohon di pekarangan rumahnya, hendaknya jangan kau cap sebagai keanehan, apalagi “kebodohan”. Jika kau lihat Maudy menayangkan gambar-gambar pohon di akun media sosialnya, itu pertanda ia sungguh-sungguh mencintai pohon. Bahkan kalau ia bangun di pagi hari, pohon-pohon selalu menjadi yang pertama ia pikirkan, sebelum menyapa, “Hai … semoga kalian baik-baik saja ….”

Sudah pasti aktivitas ini menjadi pengalihan yang jitu akibat penerapan social distancing dan ketakutan berbicara kepada orang asing. Pohon-pohon akan memberimu aura persahabatan, kebahagiaan, dan kedamaian, lewat daun, bunga, dan buah-buahnya yang segar dan ranum.

Luangkanlah waktumu setiap hari untuk berbicara kepada pohon-pohon, ia akan dengan setia mendengarkan segala keresahan, kecemasan, dan ketakutanmu di saat pandemi seperti sekarang ini.

Putu Fajar Arcana,
Wartawan Kompas
KOMPAS, 9 Desember 2020

Thursday, November 26, 2020

Madu Asli dan Palsu Sulit Dibedakan

Pakar madu yang juga peneliti produk-produk lebah madu di Laboratorium Rekayasa Industri Bio Proses, Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Unversitas Indonesia, Dr Muhammad Sahlan mengakui sulit membedakan madu asli dan palsu yang ada di Indonesia, terutama bagi masyarakat umum.

Hal itu karena banyaknya jenis madu yang ada di Indonesia. Pria yang akrab disapa Sahlan ini menyebutkan sedikitnya ada tiga jenis lebah penghasil madu di Indonesia.

Yakni lebah madu hutan liar (Apis dorsata), yakni madu hutan liar yang diambil dengan cara diburu (belum bisa dibudidaya).

Selanjutnya lebah madu budi daya (Apis mellifera dan Apis cerana) dan lebah tidak menyengat (Stingless bee).

“Kemudian rasa dan khasiat madu sangat dipengaruhi oleh tanaman sumber nektarnya. Sehingga variasi jenis madu di Indonesia sangat banyak,” kata Sahlan kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Kamis (12/11/2020) malam.

Salah kaprah cara cek madu asli
Sahlan yang juga menjabat wakil ketua Bidang Riset dan Pelatihan dari Asosiasi Perlebahan Indonesia ini mengungkapkan bahwa cara sederhana untuk membedakan madu asli dan palsu yang selama ini sering dilakukan masyarakat umum sebenarnya tidak efektif untuk mendeteksi keaslian madu. Bahkan, ia menyebut cara itu salah karena keaslian madu tetap masih bisa dimanipulasi.

Cara pertama yang umum dilakukan adalah dengan uji coba semut. Pandangan umum menyebutkan bahwa madu asli tidak disukai semut. Menurut Sahlan, cara ini adalah salah karena semut juga menyukai madu. “Semut adalah salah satu hama lebah madu, karena mengambil madu dari sarang lebahnya,” kata Sahlan.

Metode lainnya adalah dengan menambahkan air ke madu dan digoyang-goyang. Kalau madu itu asli akan membentuk heksagonal (seperti sarang lebah). Namun cara ini pun masih sulit untuk membedakan madu asli dan palsu. Sebab, dengan ditambahkan gula cair yang kental pun memiliki fenomena yang sama, sehingga metode ini dinilai tidak tepat.

Metode selanjutnya adalah dengan cara dibakar. Madu disebut asli bila mudah terbakar karena menghasilkan oksigen. Namun, madu Indonesia yang sifatnya encer (karena berada di daerah dengan kelembaban tinggi), oksigen yang dihasilkan belum bisa mengalahkan airnya sehingga sulit untuk dibakar.

“Metode disimpan di dalam kulkas juga tidak bisa dipakai, karena ada banyak jenis madu yang memang sifatnya mengkristal seperti madu karet (berasal dari nektar bunga karet),” katanya.

Lalu bagaimana cara sederhana untuk membedakan madu asli dan palsu, Sahlan menyebutkan metode yang paling mudah bagi masyarakat adalah dengan membeli ke penjual yang sudah dipercaya, atau sudah berpengalaman. Sebab, orang yang sudah berpengalaman akan mengenali keaslian madu tertentu melalui aroma dan rasanya.

“Sebaiknya masyarakat umum berusaha mengenali satu atau dua jenis madu supaya ketika membeli produknya bisa merasakannya apabila terjadi perubahan rasa atau aroma,” katanya.

Namun mengenali madu asli dari aroma pun hanya bisa dilakukan untuk jenis madu yang memiliki sumber nektar satu.

Untuk jenis multiflora tetap akan sulit karena rasanya akan berbeda-beda, tergantung dari jenis tanamannya dan juga keberlimpahan tanaman atau bunganya.

Jenis madu palsu
Sahlan mengatakan, ada tiga jenis madu palsu yang saat ini biasa beredar di masyarakat. Ketiga jenis tersebut antara lain:

1. Madu yang benar-benar dibuat dari bahan-bahan yang ada, seperti gula cair, soda kue, putih telur dan sebagainya.

2. Madu oplosan. Madu asli yang ditambah bahan lain sehingga kuantitasnya bertambah banyak.

3. Madu sirupan. Yaitu madu yang dihasilkan oleh lebah namun lebahnya digelonggong dengan gula. Sirupan ini digunakan peternak lebah ketika musim tidak ada bunga (paceklik) supaya lebahnya tetap hidup, tidak punah.

“Model pemalsuan nomor 3 saat ini juga marak di Indonesia, seiring dengan permintaan madu sarang (madu yang masih di dalam sarang) yang terus meningkat," katanya.

Soal madu palsu, Sahlan mengatakan sebenarnya ini menjadi isu global karena permintaan dan penawarannya (supply and demand) tinggi. Isu tersebut menjadi topik utama pada acara Apimondia di Montreal, Kanada, tahun lalu (2019). Sahlan juga terlibat dalam kegiatan tersebut.

Dampak madu palsu
Sahlan mengatakan, madu palsu sebenarnya tidak berdampak signifikan pada kesehatan tubuh. Sebab, madu palsu ini dibuat dengan menggunakan bahan makanan yang secara prinsip aman.

“Hanya konsumen tidak mendapatkan khasiat madu yang diinginkan. Karena ketika lebah mengambil nektar senyawa, senyawa lainnya juga terambil. Senyawa inilah yang memiliki banyak manfaat,” kata alumnus ITB jurusan teknik kimia ini.

Menurut Sahlan, madu asli memiliki banyak manfaat untuk tubuh. Dari mulai meningkatkan stamina tubuh, menghangatkan badan, meningkatkan daya tahan tubuh, anti-inflamasi, dan lain sebagainya.

Dampak lain dari madu palsu adalah terkait dengan ekonomi. Konsumen tidak bisa membeli madu asli yang notabene harusnya berharga murah. Sementara di sisi lain, produsen madu sulit untuk menjual produknya.

“Belilah kepada penjual madu yang bisa dipercaya. Baca kemasan madu dengan seksama. Kritis pada penjualnya,” saran Sahlan.

Pendekatan AI
Karena untuk membedakan madu asli dan palsu tidak bisa dilakukan secara sederhana, kata Sahlan, maka diperlukan pendekatan teknologis untuk mendeteksi keaslian madu secara akurat.

Salah satunya adalah dengan pendekatan artificial intelligence (kecerdasan buatan).

“Kita perlu mengembangkan diagnostik dengan mengumpulkan data-data madu baik asli maupun palsu, kemudian diolah dengan pendekatan AI, sehingga sistem AI tersebut bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu,” kata peneliti yang rutin mengikuti konferensi perlebahan tingkat dunia ini.

Saat ini, menurut Sahlan, pihaknya sedang mengembangkan pendekatan AI dengan menggunakan database dari spektrum sinar infra merah (infrared).

“Kami membuat database spektrum sinar infra merah dari madu asli dan palsu kemudian diolah sehingga dengan spektrum sinar infra merah (infrared) ini bisa dibedakan mana madu yang asli dan mana madu yang palsu,” ujarnya.

Untuk mendapatkan data tentang madu, ia mengatakan perlu berkolaborasi dengan banyak peternak dan pemburu madu yang terpercaya. Mereka diminta mengumpulkan sampel madunya untuk dimasukkan ke database.

“Kemudian dari informasi teknik pemalsuan madu yang beredar, kita bisa membuat madu palsu tersebut,” jelasnya.

Sahlan mengatakan, pihaknya kini sedang meneliti metode deteksi keaslian madu dengan infrared. Bahkan, pihaknya sudah memiliki alat tersendiri yang ditempatkan di Laboratorium Jasa Departemen Teknik Kimia pada Fakultas Teknik UI.

Sistemnya sudah didaftarkan ke lembaga paten. Sementara penelitiannya sudah dipublikasikan di sejumlah jurnal.

Editor: Farid Assifa
Kompas.com, 13 November 2020