Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Thursday, January 21, 2021

Indonesia Rumah Persaudaraan


Setiap tanggal 10 Desember kita merayakan Hari HAM Sedunia. Dan pada 10 Desember 2020 kemarin, kita peringati 72 tahun deklarasi universal hak asasi manusia (DUHAM). Dekalarasi ini merupakan kulminasi dari fakta kekerasan tak terkendali segelintir negara kuat. Selama masa ini, dunia menjadi arena pertarungan kekuatan fisik yang menumbalkan warga.

Dunia yang berjalan tanpa kepastian hukum dan norma yang berlaku umum telah mengubah kehidupan menjadi keadaan darurat yang konstan. Filsuf Thomas Hobbes melukiskan kondisi ini: bellum omnium contra omnes, perang semua melawan semua.

Para penguasa bertindak sewenang-wenang. Warga kehilangan kepercayaan pada para pemimpin. Hukum tak punya arti dan tak punya taring karena ditafsirkan sesuka hati seturut kuasa dan uang. Kondisi ini mengantar dunia ke jurang kehancuran tragis.

Situasi kelam ini memunculkan kesadaran pentingnya sebuah panduan bersama yang menggerakkan keyakinan para pemimpin negara Barat pada paruh pertama abad ke-20 untuk mendeklarasikan paham universal HAM. Ada kesadaran bersama bahwa kehidupan masyarakat global tidak dapat dibangun atas dasar kekuatan fisik.


Adagium usang, si vis pacem para bellum: jika mau berdamai, bersiap-siaplah berperang, tidak memiliki kekuatan lagi karena telah menelan jutaan korban. Totalitarianisme abad ke-20, baik totalitarianisme atas nama bangsa (fasisme), atas nama ras (rasisme) maupun atas nama kelas sosial (sosialisme), telah berakhir pada pembantaian massal jutaan manusia. Dalam bahasa Rousseau, kekuatan belaka harus diterjemahkan ke dalam bahasa hukum, ketaatan buta menjadi kewajiban rasional sebagai jaminan perdamaian sosial.

"Der Starkste ist nie stark genug, um immerdar Herr zu bleiben, wenn er seine Staerke nicht in Recht und den Gehorsam nicht in Pflicht verwandelt: Yang paling kuat sekalipun tidak pernah cukup kuat untuk tetap menjadi tuan jika ia tidak berhasil menerjemahkan kekuatan itu ke dalam hukum dan ketaatan menjadi kewajiban (JJ Rousseau, Der Gesellschaftsvertrag, I,3: 8)".

Maka, dalam konteks sosio-historis ini, deklarasi HAM merupakan bentuk protes moral dan jawaban politis atas sejarah penindasan yang mendera umat manusia. Deklarasi HAM dapat dipandang sebagai puncak prestasi intelektual abad pencerahan yang menjadikan martabat manusia sebagai basis legitimasi etis universal kehidupan bersama pada umumnya serta konsep negara hukum demokratis khususnya (Otto Gusti Madung: Dialektika antara Agama dan Teori Diskursus dalam Diskusi tentang Hak-hak Asasi Manusia, 2013).


Deklarasi universal melihat HAM sebagai hak-hak dasar yang melekat pada diri setiap manusia secara kodrati, universal, dan abadi. Pasal 1 Ayat (1) UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM mendefinisikan HAM sebagai seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum dan pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Hak asasi ini keberadaanya mendahului institusi negara. Maka, negara tidak berhak menghilangkan HAM setiap warga. Pengakuan negara atas hak setiap warga merupakan bukti negara menghormati martabat manusia.

Maka, hak adalah suatu klaim yang dapat dibenarkan, berdasarkan landasan moral dan hukum untuk memiliki atau memperoleh sesuatu atau untuk bertindak dengan cara tertentu (Dorkwin 267: 1978). John Locke menegaskan bahwa klaim-klaim HAM itu semata-mata karena kita adalah manusia (Natural Rights Theory, Locke).


Malu dan bosan
UUD 1945 adalah hukum dasar tertulis (basic law) sebagai Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Deklarasi universal HAM termuat dalam UUD 1945 dalam Pasal 27-34 mencakup hak sipil dan politik, hak ekonomi, sosial, dan budaya. Pasal-pasal ini telah merepresentasi empat elemen dalam deklarasi universal HAM, yaitu penghargaan terhadap individu tiap manusia berhadapan dengan kelompok sosial, penghargaan pada pribadi individual, kebebasan sipil dan hak politik, serta pemenuhan hak-hak sosial, ekonomi dan budaya (ecosoc).

Fakta ini membuktikan bahwa Deklarasi Universal HAM telah menjadi jantung konstitusi negara kita. Pertanyaannya adalah apakah jantung konstitusi itu masih berdegup atau tidak, di tengah realitas kehidupan berbangsa?

Sebagai rakyat kecil yang mengais hidup di pinggiran negeri ini, sejujurnya ada rasa bosan dan malu untuk menulis realitas bangsa yang diseraki perilaku tidak terpuji para pemimpin. Mata manusiawi telah lama sakit dan nurani kemanusiaan terkoyak oleh pesta pora elite di atas derita rakyat. Tragedi kemanusiaan yang menginspirasi lahirnya deklarasi HAM tetap eksis dalam kemasan baru.


Mengutip Antologi 100 Puisi Taufiq Ismail, "Malu (Aku) Menjadi Orang Indonesia" (YI, 2003), rakyat sekadar menjadi pasien penderita rasa malu di negeri yang sedang sakit dan dokter-dokternya gagap memberi terapi. Reformasi 1998 hanya sebentuk pil penenang.

Bangsa di negeri yang subur makmur kaya-raya nan molek permai ini terpuruk karena dongeng kebesaran ekonomi yang kehilangan daya bius; dan rakyat terus merasa sakit disuntik dengan retorika dan slogan-slogan yang kehilangan mujarabnya menyembuhkan amnesia sejarah.

Para elite kekuasaan, baik politik maupun ekonomi, dari Jakarta hingga ke daerah terus saja memerintah berbendera korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Mereka memerintah dengan cara korup (mencuri milik bersama dan makan sendiri), kolusi (mencuri milik bersama dan makan di antara sesama koruptor) dan nepotisme (mencuri milik bersama dan makan bersama keluarga). Hasil curian mereka terus melegenda, bahkan semakin menggila di tengah penderitaan rakyat akibat pandemi Covid-19.

Bosan itu bukan sekadar istilah psikologi. Ada riak politis yang membeku dalam perasaan muak terhadap cara elite mengelola bangsa. Bosan itu semacam manuver batin rakyat jelata yang menuntut perubahan dengan jalan membosani sepak terjang pengelola negara yang tak kunjung memberi solusi di tengah keterpurukan. Rasa bosan itu bisa saja memasuki wilayah populis berskala sosial politik, bahkan berpotensi menuju matinya rasa kebangsaan. (VOX, Ledalero, Seri 43/1/1999: 7).


Rumah rakyat
Indonesia adalah hasil konsensus bersama seluruh bangsa. Mereka adalah pribadi-pribadi yang dalam konsepsi HAM dan agama-agama didefinisikan sebagai wajah, citra Allah (Imago Dei). HAM mesti menjadi landasan demokrasi. HAM adalah ungkapan dari prinsip martabat manusia.

Dari perspektif ini, martabat manusia dipahami sebagai prinsip etis yang memiliki validitas transhistoris serta kriteria yang melampaui segala model masyarakat. Maka, proses kerja pemerintahan yang demokratis mesti memperhatikan eksistensi setiap individu yang diselaraskan dalam konstitusi negara.

Prinsip utama adalah kesetaraan, kebebasan, kesejahteraan, dan keamanan. Nilai-nilai dasar ini telah lama menjadi kemewahan bagi mayoritas rakyat. Kondisi ini semakin diperparah dengan perilaku elite yang terasing dari demokrasi dengan basis HAM yang menjadi jantung konstitusi.


Kembali ke rumah rakyat adalah sebuah solusi rasional atas rasa malu dan bosan bernada cemooh. Kebosanan rakyat lebih dahsyat dari teror terang-terangan sebab menyertakan unsur kompulsif yang oleh Sigmund Freud diidentifikasi sebagai "kompleks terdesak". Pemberontakan model ini cenderung irasional. Karena rakyat tetap dalam kesangsian abadi.

Dalam perspektif filsuf Rene Descartes, kembali ke rumah rakyat berarti menguji suatu kebenaran dengan pendekatan rasional-konstitusional sambil mempertanyakan segala hal yang terjadi menuju perubahan. Hal ini dapat mencegah kesangsian abadi versi kompleks dengan ekspresi keputusasaan yang parah, seperti misalnya sebagian rakyat Papua yang menuntut opsi kemerdekaan karena hak-hak dasarnya terabaikan.


Rumah rakyat adalah kota adil yang kembali menyatukan seluruh rakyat yang telah lama mengungsi karena bosan dan malu menjadi bagian bangsa ini. Rumah rakyat adalah Indonesia tempat rakyat hidup bersama sebagai satu keluarga yang demokratis di bawah hukum yang adil dan benar.

Mahatma Gandhi mengingatkan bahwa kita perlu memperluas hukum kekeluargaan untuk membentuk suatu bangsa, yaitu keluarga dalam lingkungan yang luas, tempat semua orang bisa hidup bersaudara (Gandhi, 2009: 145).

Steph Tupeng Witin,
Penulis,
Alumnus STFK Ledalero, Flores

KOMPAS, 10 Desember 2020

Saturday, September 26, 2020

“Manunggaling Kawulo” Puisi

 
Sebelum berulang tahun ke-77, pada 10 Agustus 2020 lalu, penyair Umbu Landu Paranggi menelepon dari Denpasar. Kalimat pertama yang ia ucapkan senantiasa, "Apa ada angin di Jakarta?" Aku tahu pasti, ini judul puisi yang ditulisnya pada masa-masa awalnya menjadi manusia urban di Yogyakarta, setelah mengembara dari pedalaman Sumba Timur.

Selengkapnya puisi itu berbunyi: //Apa ada angin di Jakarta/Seperti dilepas desa Melati/Apa cintaku bisa lagi cari/Akar bukit Wonosari/Yang diam di dasar jiwaku/Terlontar jauh ke sudut kota/Kenanganlah jua yang celaka/Orang usiran kota raya/Pulanglah ke desa/Membangun esok hari/Kembali ke huma berhati//. Murid terdekat Umbu, Emha Ainun Nadjib, pernah menulis esai dengan judul sama, yang tergabung dalam buku Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya (1983).

Cak Nun, demikian Emha disapa, memberi konteks pada puisi Umbu, sehingga menemukan korelasinya dengan situasi Jakarta, sebagai titik urban paling genting. Sementara Melati dan Wonosari diposisikan sebagai kota (kecil) dengan segala simbol keudikannya. Jakarta, dalam esai itu, disebut sebagai simpul segala peristiwa, bahkan situs penting bagi keglamoran kehidupan kelas menengah kota.


Mobilitas persilangan orang-orang "desa" dan orang-orang "kota", sehingga disebut urban, terjadi di ganglion kota, seperti terminal, stasiun, pasar, mal, pabrik, dan bahkan perkantoran. Mobilitas yang tinggi itulah yang kini jadi masalah terbesar di saat pendemi. DKI Jakarta tak pernah beranjak dari posisi teratas dalam "menyumbang" angka positif Covid-19.

Angka statistik pada 28 Agustus 2020, di DKI Jakarta ditemukan 869 kasus baru, sehingga menjadi 37.082 kasus, sedangkan di Jawa Timur 417 kasus baru, sehingga total menjadi 32.113 kasus. Secara keseluruhan angka harian di Indonesia, pertambahan positif Covid-19 pada 29 Agustus 2020 meledak ke angka tertinggi, yakni 3.308 kasus!

Kepada Umbu, sebelum ledakan kasus positif Covid-19 ini terjadi, aku bilang, “Angin yang deras selalu menampar stasiun, terminal, mal, dan gedung-gedung tinggi di Jakarta, Bung.”

“Kalau begitu tetaplah berumah,” kata Umbu.


Bercakap dengan Umbu selalu penuh simbol sehingga harus pandai-pandai memberi tafsir. Ia tak pernah langsung mengatakan keinginan sesungguhnya. "Berumah" telah mengingatkan aku pada puisi Umbu yang lain: //dengan mata pena kugali gali seluruh diriku/dengan helai-helai kertas kututup nganga luka lukaku/kupancing udara di dalam dengan angin tanganku/begitulah, kutulis nyawaMu senyawa dengan nyawaku// ("Seremoni", 1978).

Sudah lama Umbu berumah di unggun kata-kata. Ia tak punya alamat dalam pengertian sesungguhnya. Jika suatu kali kau menemukannya sedang jalan malam-malam, dan mencoba mengantarkannya pulang, Umbu selalu bersedia, tetapi aku yakin tak akan sampai di rumah. Ia akan selalu bilang, "Saya turun di dekat gardu saja. Nanti kau terus ya …." Begitu selalu, sehingga tak seorang pun tahu di mana Umbu menetap.

Puisi bagi Umbu, sangkan paraning dumadi, semacam jalan menuju ke asal muasal dari hidup dan ke mana tujuan dari hidup ini berlayar. Kata Umbu, hidup selalu menuju pada keesaan Tuhan untuk menyelami nilai-nilai kemanusiaan sejati. "Puisi itulah tujuan hidup …," katanya suatu hari di Pantai Sindhu, Sanur, Bali.‎


Angin berembus dari Selat Badung mengantarkan aroma asin. Kami berempat, bersama penyair Warih Wisatsana dan sutradara Agus Noor, menyesap botol terakhir sebelum tengah malam benar-benar menyungkup pantai. Sanur selalu menguarkan aura mistis di malam hari. Debur ombak, siulan angin, dan lolong anjing menambah dingin hati kami masing-masing.

Umbu masih mengoceh tentang masa lalunya yang berani menyeberangi sepi sebelum tiba di Yogyakarta sebagai anak desa ingusan. Maunya, kata dia, bersekolah di Tamansiswa, tetapi karena terlambat mendaftar, ia terdampar di SMA Bopkri, Kotabaru, Yogyakarta. "Tetapi di situ malah ketemu Ibu Lasiyah Soetanto, guru Bahasa Inggris yang tidak menggurui," tutur Umbu.

Lasiyah Soetanto sampai sekarang dianggap sebagai guru sejati. Ia membiarkan Umbu asyik menulis sajak di dalam kelas, justru saat-saat jam pelajaran berlangsung. "Itu kemewahan," ujar Umbu. Benar saja, ketika sajak-sajak Umbu diterbitkan di koran-koran terbitan Yogyakarta pada tahun-tahun 1960-an, Lasiyah mengapresiasinya. Lantaran itu, Umbu pelan-pelan merasa bahwa jalan hidupnya adalah puisi, tak ada lainnya. Sesungguhnya ia kemudian berkuliah di dua fakultas di Kota Yogyakarta, tetapi keduanya ia tinggalkan untuk "mengabdi" pada puisi.


Awal tahun 2020, aku bertemu Sutardji Calzoum Bachri dalam satu perhelatan bernama Tegal Mas Island International Poetry Festival 2020, yang digagas penyair Isbedy Stiawan ZS. Bang Tardji, demikian ia selalu disapa, tak merasa canggung bergaul dengan para penyair pemula. Ia bahkan menunggu di bibir pantai saat-saat para penyair bermain air.

Dalam percakapan di bawah pohon waru denganku, Bang Tardji bilang, "Puisi ini seperti jalan hidupku, sudah kucoba berbagai jalan, ketemu puisi selalu." Bang Tardji pernah berkuliah di Bandung, dan anehnya mengambil fakultas yang sama dengan Umbu, tetapi juga tidak selesai. Ia kemudian asyik masyuk ke dalam sajak dan menebarkannya ke berbagai media di Bandung.

Dalam satu sajak, Bang Tardji pernah menulis begini: //Walau penyair besar/takkan sampai sebatas allah/dulu pernah kuminta tuhan/dalam diri/sekarang tak/kalau mati/mungkin matiku bagai batu bagai pasir tamat/jiwa membumbung dalam baris sajak/tujuh puncak membilang-bilang/nyeri hari mengucap-ucap/di butir pasir kutulis rindu rindu/walau huruf habislah sudah/alif bataku belum sebatas allah// ("Walau", 1970).‎


Tentu tidaklah menjadi pembenaran bahwa penyair selalu harus putus sekolah karena alasan totalitas bersama puisi. Banyak juga penyair yang secara akademis mumpuni. Sebut saja salah satunya Sapardi Djoko Damono, yang bahkan bergelar profesor doktor. Ada juga sastrawan beken, seperti Budi Darma dan Maman S Mahayana. Bukan soal putus berkuliah yang ingin kubahas bersamamu, tetapi ikhwal beralamat di baris sajak. Coba saja kembali baca larik sajak Bang Tardji ini, "mungkin matiku bagai batu bagai pasir tamat/jiwa membumbung dalam baris sajak."

Begitu pula yang ditulis Umbu, setelah menggali-gali diri lewat pena dan helai-helai kertas, ia bilang, "begitulah, kutulis nyawa-Mu senyawa dengan nyawaku." Keduanya memiliki kesadaran besar bahwa puisi menjadi bahasa pencaharian menuju manunggaling kawulo lan Gusti, penyatuan diri dengan zat Mahasuci bernama sifat-sifat ketuhanan. Puisi menjadi jalan sunyi yang sufi, bukan dalam pengertian wadag, bersatunya ruh setelah mengembara di jagat fana, tetapi bersenyawanya sifat-sifat ketuhanan ke diri (manusia).

Ketika senyawa diri dengan ruh ketuhanan terjadi lewat puisi, Tuhan akan bekerja sesuai kehendak-Nya. Ajaran sufi memberi contoh, jika seseorang sedang kesulitan keuangan di masa pandemi ini, padahal ia sedang membutuhkan biaya untuk bayar sekolah anak-anaknya, tiba-tiba saja seorang teman memberinya pekerjaan. Tuhan selalu bekerja tanpa pemberitahuan, tetapi melalui pertanda. Pekerjaan yang diperoleh seseorang yang tadinya kesulitan, jika ia menghayati sifat-sifat ketuhanan, seharusnya secara spontan akan terdorong melakukan hal yang sama, ketika mendengar seseorang lainnya mengalami kesulitan.


Dorongan spontan untuk memberi dalam sufi tidak boleh disertai dengan keinginan untuk menerima sebaliknya. Di situlah puisi menjadi pertanda yang paling sufi dari seluruh inti kebudayaan. Puisi tak pernah meminta, tetapi telah begitu banyak memberi. Ia memberi imajinasi, ketajaman intuisi, dan kedalaman filosofi. Toh begitu, puisi tak pernah menuntut kesetiaan, apalagi pengabdian yang membabi buta. Banyak penyair keluar masuk rumah puisi; kadang datang atau seterusnya menghilang ….

Dalam satu sajak lain, Umbu menulis: //Jadi/sajak bilang apa saja pada kau/jadi buang diri kau/alhamdulillah begitu rupa kau/jadi pengembara//("Upacara XXXIII, 1980). Pengembaraan seseorang tak hanya berarti perjalanan fisik, tetapi lebih-lebih adalah pencariannya ke inti dari kata. Kau bisa terlunta-lunta karena kata, bisa pula membara karena kata.

Jadi, apa masih ada angin di Jakarta? Itu artinya Umbu bertanya tentang seberapa jauh kau telah berbuat, bukan semata menghasilkan buku-buku puisi, tetapi lebih-lebih adalah penghayatanmu pada nilai kemanusiaan yang sufistik. Sebuah nilai kemanusiaan, yang menginternalisasi sifat-sifat ketuhanan ke dalam diri. Bukankah itu inti dari semua pencarian sains, ilmu, sastra, dan filsafat? Kalaulah ia harus sampai pada titik paling jauh dari pengembaraan keilmuan, maka ia selalu berhasrat menemukan kebenaran hakikat, yakni kesempurnaan.


Kau mungkin bertanya, mengapa kita mengejar kesempurnaan? Aku bisa saja bertanya balik, untuk apa setiap hari kau bersembahyang, bukankah untuk menuju kesempurnaan hidupmu sebagia manusia? Selain menumpuk harta benda untuk kepuasaan duniawimu, bukankah pada titik tertentu kau harus menyeimbangkannya dengan kepuasaan batiniah?

Puisi adalah peristiwa batiniah. Larik-lariknya mengantarkanmu pada kedalaman imajinasi, yang akan menjadi bahan bakar bagi seluruh kreativitas yang tumbuh di dalam dirimu. Di situ, puisi akan menjadi jalan lain untuk mencapai kemanunggalan dirimu dengan zat Mahasuci, bernama "kesejatian".

Terakhir kata Umbu kepadaku, tak perlu banyak menuntut dari puisi. Kalau kau serahkan dirimu sepenuh-penuhnya, ia akan memberi seutuh-utuhnya kepadamu. Benar kan, Umbu diam-diam selalu merahasiakan kata-kata "suci" yang mampu menyulut api gelisah di dalam diriku. Jadi, apakah gunanya buku-buku yang kutulis dan sudah pula kau baca itu? Mari sama-sama kita cari jawabannya. Kelak kalau kau menemukannya lebih dulu, tolong berkabar ….

Putu Fajar Arcana
Sastrawan Indonesia asal Bali
Sarjana Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Udayana
Redaktur harian Kompas

KOMPAS, 2 September 2020

Friday, August 22, 2014

Jangan Dekat-dekat Kepada Tuhan


Dibacakan perdana dalam acara Maiyah Kenduri Cinta, Agustus 2014 oleh Wahyu (Penyair KC)

1.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab engkau sudah amat sangat lekat pada dunia
Terlanjur salah pengertian kepada kehidupan
Tidak sungguh-sungguh menelusuri ilmu kematian
Terlalu percaya kepada banyak yang bukan Tuhan

2.
Jangan dekat-dekat pada Tuhan
Karena gemerlap dunia sudah menjadi tuhanmu
Dunia rumahmu, dunia jalanmu, dunia tujuanmu
Tak berani engkau berpisah darinya sejenakpun saja
Maka kalau dekat kepada Tuhan, kau akan menderita

3.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Teguhkan hati menikmati dunia dan mengidamkan sorga
Kalau dekat kepada Tuhan, dunia menjadi remeh
Dan sorga menjadi bukan segala-galanya
Itu tidak sejalan dengan muatan doa-doamu


4.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab yang utama bagimu adalah kekayaan dunia
Yang kau perjuangkan adalah kedudukan di dunia
Harta benda, keunggulan, eksistensi, pangkat dan jabatan
Di dekat Tuhan semua itu rendah dan sia-sia

5.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Nanti engkau dicintai oleh-Nya dan disembunyikan
Mungkin malah ditabiri dengan hijab kehinaan
Diberi pakaian kumuh dan penuh kerendahan
Sehingga dunia mentertawakanmu dan meremehkan

6.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Nanti engkau tidak populer dan dikepung salah paham
Kau disangka timur oleh barat, dituduh utara oleh selatan
Kalau berjasa engkau tak memperoleh pujian
Karena Tuhan menyimpan pialamu di lubuk yang dirahasiakan

7.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab itu membuatmu berpikir dan menilai ulang
Segala sesuatu yang sudah baku di dalam hidupmu
Untung rugi, rejeki bencana, penting tak penting
Harus kau bongkar dan membangunnya kembali


8.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Demi karier duniamu jangan dekat-dekat kepada-Nya
Atau tunggangi dan manfaatkan saja kekuasaan-Nya
Dengan berdoa naik pangkat dan bertambah kaya
Minta kemenangan untuk menguasai harta benda

9.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Kau akan mutlak terserap oleh supra-dimensi
Para makhluk tak sanggup menatapmu
Bumi takkan mampu menemukanmu
Sehingga pun dunia tak menghormatimu

10.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab tak ada yang melebihi-Nya dalam hal dikhianati
Tapi Ia Maha Sabar dari zaman ke zaman diingkari
Kuatkah engkau berada di maqam itu
Terus menerus didera khianat dan ingkar oleh sesamamu

11.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab ia menciptakanmu tanpa kepentingan
Ia mengasuhmu tanpa meminta imbalan
Sedangkan hidupmu adalah kepentingan
Dan setiap langkahmu mendambakan imbalan


12.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Kecuali kau tangguh memanggul ujian
Jika dunia yang kau genggam dan kau eman-eman
Direbut oleh-Nya, dibanting, dicampakkan, disirnakan
Apakah engkau rela, atau merasa itu derita

13.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Kecuali engkau ridha kehilangan dunia
Kecuali engkau ikhlas kehilangan dirimu sendiri
Hilang dari yang dinamakan kehidupan
Dirimu sendiri hilang dari dirimu sendiri

14.
Hayo… gimana
Maka jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Berpalinglah dari asal usul dan arah tujuan
Mengembaralah di Bumi dengan kemerdekaan
Jilat sana, jilat sini, cari yang paling menguntungkan


Yogyakarta, 15 Agustus 2014,

Muhammad Ainun Nadjib
http://kenduricinta.com/v4/jangan-dekat-dekat-kepada-tuhan/

Tuesday, July 16, 2013

Surat Buat Anwar


Tiba-tiba, aku ingin menulis surat padamu, Chairil Anwar, sosok legendaris dalam dunia puisi Indonesia. Entah kenapa, ini hanya keinginan yang sekejap saja muncul. Seperti sebuah puisi, terkadang ia pun muncul seketika. Tanpa mesti direncanakan atau dirumuskan dengan teori-teori kesusastraan. Mungkin pula, engkau tak akan membaca surat ini. Toh, engkau sudah berdamai di “alam sana” bersama sejumlah puisimu yang sebentar lagi —akan hidup seribu tahun lagi.

Puisi-puisi yang muncul akhir-akhir ini, menghadapi  banyak sekali godaan. Meskipun sejumlah penyair telah berusaha untuk mencapai kedalaman kata, sebagaimana yang pernah kauucapkan dalam surat  kepada H. B. Jassin itu, mengorek kata-kata dalam puisi sampai ke akarnya. Sebagian besar puisi yang ditulis sekarang mesti melawan kefanaan kata-kata itu. Bersaing dengan sejumlah jargon atau kalimat-kalimat puitis —yang muncul di televisi, surat kabar atau majalah. Pun di sejumlah ruas jalan dengan banyaknya spanduk atau baliho iklan yang ditebar.

Sebagian kata-kata itupun telah mengeras, diucapkan oleh para penguasa —yang terasa begitu semu.  Kata-kata telah lama diperas, Anwar. Kau mungkin akan bilang, justru itulah beratnya menjadi penyair. Ia mesti menciptakan bahasanya sendiri —untuk menemukan lagi makna kata yang murni. Kau, sebagaimana keteguhan yang kau yakini —akan mencari sejumput kata selama berhari-hari, berbulan bahkan tahunan.

Namun dunia yang sekarang aku tinggali terkadang berbeda. Kata-kata mendadak begitu instant, yang maunya hanya sekali seduh lalu menyepuh. Orang-orang begitu sibuk mempermainkan kata. Berkata dengan seenaknya saja, bahkan dalam sebuah pidato. Kata-kata menjelma jadi sebuah sandiwara yang terselubung. Di mana segalanya menjadi bias di setiap maknanya.


Padahal, seorang penyair lainnya pernah mengingatkan bahwa menulis puisi itu adalah sebuah kerja keras yang panjang. Kata-kata mesti senantiasa digosok, bagaikan batu akik, agar senantiasa menyala dan mengilap —sebagaimana filosofi yang pernah diucapkan Acep Zamzam Noor. Puisi-puisi memang menghendaki sejumlah kedalaman makna. Tapi aku senantiasa dihadapkan pada bilangan kata yang mendadak jadi berita misterius —yang diculik di sejumlah gedung parlemen atau pemerintahan. Kata-kata mendadak jadi absurd, membangkai dan hangus tanpa sisa.

Anwar yang senantiasa menggali kata, aku paham jika puisi-puisi yang kau tulis mengisyaratkan sebuah bentuk dunia yang lain. Setiap jelmaan kata yang kau toreh, menyisakan ruang yang panjang. Engkau melompat dan memperkaya setiap khazanah pembendaharaan kata-kata kita. Meskipun dulu belum ada mesin pencari kata di internet, namun kau telah meninggalkan guratan tanpa tepi. Puisimu seperti sebuah upaya penghematan yang tak berhenti. Di mana tak lagi menyisa berbagai ruang di sana. Begitu rapat, sehingga tak ada lagi kekosongan di sana.

Maka puisimu pun terus saja dibaca. Walaupun yang kau tulis mungkin hanya sedikit dari puluhan usia yang kau miliki. Dan setiap kali membaca puisimu, aku mendapati sebuah ruangan yang baru kembali. Ingin membacanya berulang-ulang. Semacam sebuah jeda dari kehidupan yang bising. Kau mungkin bisa berteriak lantang dalam sejumlah puisimu, tapi di lain puisi engkau melengkapkan nuansa pribadi manusia. Bercakap tentang keputus-asaan, menggapai dalam hidup yang lirih, ataupun menghidupkan segala ihwal soliter dalam tubuh manusia.

Anwar, apakah puisi mampu mengatasi segalanya? Membujuk setiap pangkal kesedihan agar manusia bisa riang menerimanya? Atau seperti Iswadi Pratama bilang, bisa merebut segala hal yang remeh dan tak berarti? Aku tak tahu. Aku hanya penikmat puisimu. Anehnya setiap kali membacanya ada yang berkecambah di dadaku. Sebuah getar yang terus berdenyar, bahkan setelah puisi itu berpuluh tahun engkau tinggalkan. Puisimu masih terus saja berjalan, tertanam di dalam kepala —hendak melawan lupa.


Kekuatan melawan lupa itu pun nampak dalam  puisi yang ditulis baru-baru ini. Tentunya dengan mengarifi, dalam bentuk satir, sekaligus mengakomodasi puisimu sebelumnya. Dengan citraan teknologi mutakhir, pula tabiat yang pernah engkau perbuat dulu (gaya hidupmu). Semacam yang ditulis penyair Rian Ibayana “SMS Buat Chairil Anwar”:

bung, negeri ini gawat darurat, jalan juang seperti diperalat, hampir sekarat.
setiap orang bermata merah, bahkan lebih merah dari matamu bung, lebih basah,
predikat jalangmu bukan apa-apa karena banyak yang lebih jalang darimu bung.
lebih lantang, lebih berani, lebih binatang.
budaya rakus yang kakus mendarah daging sehingga menggerogoti negerinya sendiri.

bung, negeri ini wajib selamat.
namun segala peluang dan obat telah disuntik taktik-taktik.
bermacam strategi seperti gerigi yang memotong habis cahaya pagi.
yang lebih liar darimu tak terbilang lagi,
segala jalur ditempuh demi sulur ambisi.

bung, negeri ini hilang wajah.
semangat “diponegoro” serta “karawang-bekasi”-mu seperti terbakar habis.
jalan juangmu terlindas terus-menerus,
oleh gerbong-gerbong kekuasaan.

bung, negeri ini wajib diselamatkan,
meskipun semangat seperti hendak tamat.
otakmu terang cemerlang, adakah kisi-kisi misi membangun kembali?
semacam akar yang keluar biar kelar segala kelakar.
bung, bagaimana jika kita pancung saja semua pengerat itu?

jika setuju, tolong balas sms ini.
(Negeri Abal-Abal, Komunitas Radja Ketjil: Jakarta, hal. 522)


Memang betapa puisimu menyisakan guratan yang abadi. Seperti letak ingatan yang tak sudah-sudah tentangnya. Mungkin puisimu, tak selesai bercakap ihwal zamanmu sendiri. Puisi-puisi itu melebar, melangkahi roda tahun. Tak heran juga selalu setiap tahun, banyak orang-orang yang kembali mengingatnya. Menguliti lagi puisimu selapis demi selapis. Menerka atau sekadar menebak setiap pergulatan ataupun kesedihan yang tak kunjung rampung.

Sebagaimana puisi Rian di atas, ia seperti ingin menghentak kita dengan kondisi terkini yang terjadi. Sepertinya ia ingin sekali mengadu padamu —tentang lanskap negeri ini. Namun apa daya, puisi adalah sebuah persinggahan mata batin, yang menelusup pada relung dada manusia. Ia menyentak kesadaran dari ruang bawah sadar, seperti orang yang sekejap terbangun tidur setelah dihinggapi mimpi buruk.

Buruknya pula, jika puisi ternyata hanya menjelma sekadar de-ja-vu. Yang hanya berkisah tentang imajinasi awang-awang. Ah, betapa puisi kembali di menara gading. Kesepian, sendiri, tanpa bisa berbuat apa-apa. Mengunyah rasa sepi, kecewa, sakit hati ataupun segenap elegi yang melingkupinya. Tapi tetap saja di sana, terbungkus dalam kesendiriannya masing-masing. 

Anwar, maafkanlah jika negeri ini tak pernah sempurna untuk menampung sebuah puisi. Ingatan kolektif negeri ini yang menyisa sekarang cuma berkisar soal kekerasan, korupsi, kenaikan harga, ataupun mencari tokoh yang layak memimpin. Sementara puisi —di negeri ini— mungkin cuma artefak yang (untungnya) masih dibicarakan oleh segelintir orang. Untungnya pula, masih terdapat dalam sebuah bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Meskipun nyatanya, begitu minim para penelaah yang benar-benar serius menekuninya.


Puisi-puisi saat ini menjelma jadi banjir kata-kata. Bertarung di antara wilayah gelap dan terang. Kehilangan dan memanjat maknanya masing-masing. Lalu terasa kedodoran. Begitu banyak puisi yang sudah ditulis oleh para penyair kita, Anwar. Beberapanya redup dengan sendirinya —beberapanya ada yang tetap bergema. Demikianlah. Setidaknya kita merasa masih beruntung, memunyai banyak penyair di negeri ini —yang masih tetap setia— menikmati kata-kata dalam puisinya. Sehingga tidak perlu dihinggapi cemas berlebihan akan kemuraman yang memayungi negeri ini. Ah, Anwar, apakah penguasa negeri ini masih sempat dan sanggup membaca serta memaknai sebuah puisi?

Anwar yang tak lelah mencari, di kedalaman mata merahmu, barangkali engkau telah berdamai dengan puisimu di sana —meskipun sebagian orang tak letih, acapkali gandrung untuk tetap membaca atau sekadar menyibaknya. Setiap kata. Diksi demi diksi. Ah, betapa selalu aku ingin mencari urat dan zat dalam puisimu. Seperti bait puisimu “Catetan Th. 1946”:

Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering,
sedikit mau basah!

Semoga saja surat ini sampai dengan selamat, dan di sana engkau masih sempat membacanya. Kubayangkan pula, bila di sana engkau tetap merawat kata menjadi pohon yang rimbun. Agar negeri ini selalu teduh.

Bung ayo, Bung! 

Alex R. Nainggolan,
Penikmat puisi, menetap di Poris Plawad, Tangerang
Lampung Post, Minggu, 14 April 2013

Wednesday, June 12, 2013

Geguritan Serat Kodrat


Sak durunge donya kiamat
Padha gatekno ombyaking rakyat
Luh, kringet, lan getih lumeber ngebaki jagat

Bismillahi ‘ala kodratillah dadi serat
Ngejawantah, maujud amarga kodrat
Kodrat serat kodrat
Serat kodrat


Hanyekseni jaman dhulumat
Sanepane mendung lan udan barat
Kang ngliputi wong sejagat
Lanang wadon, enom tuwo kabeh sambat

Sing kuwasa kebat kliwat
Ngabul-abul duwite rakyat
Akibate akeh wong mlarat
Malah ora sithik nganti sekarat

Para bocah padha kesrakat
Amarga wong tuwane ora ngrumat
Lanangane ngumbar syahwat
Wong wadone pamer aurat


Rino wengi krungu sesambat
Ora kuwat ngingoni brayat
Sing padha lara ora duwe obat
Mung diombeni jamu kuwat

Yen ketiga kaline asat
Yen rendeng banjire sak arat-arat
Lindune kaliwat-liwat
Samudrane ngelebi darat

Mula padha sregepa shalawat
Aja lali dzikir lan munajat
Muga-muga diparingi rahmat
Slamet donya lan akherat
Saka Gusti Kang Hakarya Jagat


O, Allah
Wong salah bungah-bungah
Wong bener thenger-thenger
Wong bodho diplekotho
Wong pinter dho keblinger

Allah, Allah, Allah,
Allah, Allah,
Allah,
… Hu …
Ahad !!!


Yogyakarta, Medio Juni 2013