Showing posts with label Cak Nun. Show all posts
Showing posts with label Cak Nun. Show all posts

Saturday, September 26, 2020

“Manunggaling Kawulo” Puisi

 
Sebelum berulang tahun ke-77, pada 10 Agustus 2020 lalu, penyair Umbu Landu Paranggi menelepon dari Denpasar. Kalimat pertama yang ia ucapkan senantiasa, "Apa ada angin di Jakarta?" Aku tahu pasti, ini judul puisi yang ditulisnya pada masa-masa awalnya menjadi manusia urban di Yogyakarta, setelah mengembara dari pedalaman Sumba Timur.

Selengkapnya puisi itu berbunyi: //Apa ada angin di Jakarta/Seperti dilepas desa Melati/Apa cintaku bisa lagi cari/Akar bukit Wonosari/Yang diam di dasar jiwaku/Terlontar jauh ke sudut kota/Kenanganlah jua yang celaka/Orang usiran kota raya/Pulanglah ke desa/Membangun esok hari/Kembali ke huma berhati//. Murid terdekat Umbu, Emha Ainun Nadjib, pernah menulis esai dengan judul sama, yang tergabung dalam buku Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya (1983).

Cak Nun, demikian Emha disapa, memberi konteks pada puisi Umbu, sehingga menemukan korelasinya dengan situasi Jakarta, sebagai titik urban paling genting. Sementara Melati dan Wonosari diposisikan sebagai kota (kecil) dengan segala simbol keudikannya. Jakarta, dalam esai itu, disebut sebagai simpul segala peristiwa, bahkan situs penting bagi keglamoran kehidupan kelas menengah kota.


Mobilitas persilangan orang-orang "desa" dan orang-orang "kota", sehingga disebut urban, terjadi di ganglion kota, seperti terminal, stasiun, pasar, mal, pabrik, dan bahkan perkantoran. Mobilitas yang tinggi itulah yang kini jadi masalah terbesar di saat pendemi. DKI Jakarta tak pernah beranjak dari posisi teratas dalam "menyumbang" angka positif Covid-19.

Angka statistik pada 28 Agustus 2020, di DKI Jakarta ditemukan 869 kasus baru, sehingga menjadi 37.082 kasus, sedangkan di Jawa Timur 417 kasus baru, sehingga total menjadi 32.113 kasus. Secara keseluruhan angka harian di Indonesia, pertambahan positif Covid-19 pada 29 Agustus 2020 meledak ke angka tertinggi, yakni 3.308 kasus!

Kepada Umbu, sebelum ledakan kasus positif Covid-19 ini terjadi, aku bilang, “Angin yang deras selalu menampar stasiun, terminal, mal, dan gedung-gedung tinggi di Jakarta, Bung.”

“Kalau begitu tetaplah berumah,” kata Umbu.


Bercakap dengan Umbu selalu penuh simbol sehingga harus pandai-pandai memberi tafsir. Ia tak pernah langsung mengatakan keinginan sesungguhnya. "Berumah" telah mengingatkan aku pada puisi Umbu yang lain: //dengan mata pena kugali gali seluruh diriku/dengan helai-helai kertas kututup nganga luka lukaku/kupancing udara di dalam dengan angin tanganku/begitulah, kutulis nyawaMu senyawa dengan nyawaku// ("Seremoni", 1978).

Sudah lama Umbu berumah di unggun kata-kata. Ia tak punya alamat dalam pengertian sesungguhnya. Jika suatu kali kau menemukannya sedang jalan malam-malam, dan mencoba mengantarkannya pulang, Umbu selalu bersedia, tetapi aku yakin tak akan sampai di rumah. Ia akan selalu bilang, "Saya turun di dekat gardu saja. Nanti kau terus ya …." Begitu selalu, sehingga tak seorang pun tahu di mana Umbu menetap.

Puisi bagi Umbu, sangkan paraning dumadi, semacam jalan menuju ke asal muasal dari hidup dan ke mana tujuan dari hidup ini berlayar. Kata Umbu, hidup selalu menuju pada keesaan Tuhan untuk menyelami nilai-nilai kemanusiaan sejati. "Puisi itulah tujuan hidup …," katanya suatu hari di Pantai Sindhu, Sanur, Bali.‎


Angin berembus dari Selat Badung mengantarkan aroma asin. Kami berempat, bersama penyair Warih Wisatsana dan sutradara Agus Noor, menyesap botol terakhir sebelum tengah malam benar-benar menyungkup pantai. Sanur selalu menguarkan aura mistis di malam hari. Debur ombak, siulan angin, dan lolong anjing menambah dingin hati kami masing-masing.

Umbu masih mengoceh tentang masa lalunya yang berani menyeberangi sepi sebelum tiba di Yogyakarta sebagai anak desa ingusan. Maunya, kata dia, bersekolah di Tamansiswa, tetapi karena terlambat mendaftar, ia terdampar di SMA Bopkri, Kotabaru, Yogyakarta. "Tetapi di situ malah ketemu Ibu Lasiyah Soetanto, guru Bahasa Inggris yang tidak menggurui," tutur Umbu.

Lasiyah Soetanto sampai sekarang dianggap sebagai guru sejati. Ia membiarkan Umbu asyik menulis sajak di dalam kelas, justru saat-saat jam pelajaran berlangsung. "Itu kemewahan," ujar Umbu. Benar saja, ketika sajak-sajak Umbu diterbitkan di koran-koran terbitan Yogyakarta pada tahun-tahun 1960-an, Lasiyah mengapresiasinya. Lantaran itu, Umbu pelan-pelan merasa bahwa jalan hidupnya adalah puisi, tak ada lainnya. Sesungguhnya ia kemudian berkuliah di dua fakultas di Kota Yogyakarta, tetapi keduanya ia tinggalkan untuk "mengabdi" pada puisi.


Awal tahun 2020, aku bertemu Sutardji Calzoum Bachri dalam satu perhelatan bernama Tegal Mas Island International Poetry Festival 2020, yang digagas penyair Isbedy Stiawan ZS. Bang Tardji, demikian ia selalu disapa, tak merasa canggung bergaul dengan para penyair pemula. Ia bahkan menunggu di bibir pantai saat-saat para penyair bermain air.

Dalam percakapan di bawah pohon waru denganku, Bang Tardji bilang, "Puisi ini seperti jalan hidupku, sudah kucoba berbagai jalan, ketemu puisi selalu." Bang Tardji pernah berkuliah di Bandung, dan anehnya mengambil fakultas yang sama dengan Umbu, tetapi juga tidak selesai. Ia kemudian asyik masyuk ke dalam sajak dan menebarkannya ke berbagai media di Bandung.

Dalam satu sajak, Bang Tardji pernah menulis begini: //Walau penyair besar/takkan sampai sebatas allah/dulu pernah kuminta tuhan/dalam diri/sekarang tak/kalau mati/mungkin matiku bagai batu bagai pasir tamat/jiwa membumbung dalam baris sajak/tujuh puncak membilang-bilang/nyeri hari mengucap-ucap/di butir pasir kutulis rindu rindu/walau huruf habislah sudah/alif bataku belum sebatas allah// ("Walau", 1970).‎


Tentu tidaklah menjadi pembenaran bahwa penyair selalu harus putus sekolah karena alasan totalitas bersama puisi. Banyak juga penyair yang secara akademis mumpuni. Sebut saja salah satunya Sapardi Djoko Damono, yang bahkan bergelar profesor doktor. Ada juga sastrawan beken, seperti Budi Darma dan Maman S Mahayana. Bukan soal putus berkuliah yang ingin kubahas bersamamu, tetapi ikhwal beralamat di baris sajak. Coba saja kembali baca larik sajak Bang Tardji ini, "mungkin matiku bagai batu bagai pasir tamat/jiwa membumbung dalam baris sajak."

Begitu pula yang ditulis Umbu, setelah menggali-gali diri lewat pena dan helai-helai kertas, ia bilang, "begitulah, kutulis nyawa-Mu senyawa dengan nyawaku." Keduanya memiliki kesadaran besar bahwa puisi menjadi bahasa pencaharian menuju manunggaling kawulo lan Gusti, penyatuan diri dengan zat Mahasuci bernama sifat-sifat ketuhanan. Puisi menjadi jalan sunyi yang sufi, bukan dalam pengertian wadag, bersatunya ruh setelah mengembara di jagat fana, tetapi bersenyawanya sifat-sifat ketuhanan ke diri (manusia).

Ketika senyawa diri dengan ruh ketuhanan terjadi lewat puisi, Tuhan akan bekerja sesuai kehendak-Nya. Ajaran sufi memberi contoh, jika seseorang sedang kesulitan keuangan di masa pandemi ini, padahal ia sedang membutuhkan biaya untuk bayar sekolah anak-anaknya, tiba-tiba saja seorang teman memberinya pekerjaan. Tuhan selalu bekerja tanpa pemberitahuan, tetapi melalui pertanda. Pekerjaan yang diperoleh seseorang yang tadinya kesulitan, jika ia menghayati sifat-sifat ketuhanan, seharusnya secara spontan akan terdorong melakukan hal yang sama, ketika mendengar seseorang lainnya mengalami kesulitan.


Dorongan spontan untuk memberi dalam sufi tidak boleh disertai dengan keinginan untuk menerima sebaliknya. Di situlah puisi menjadi pertanda yang paling sufi dari seluruh inti kebudayaan. Puisi tak pernah meminta, tetapi telah begitu banyak memberi. Ia memberi imajinasi, ketajaman intuisi, dan kedalaman filosofi. Toh begitu, puisi tak pernah menuntut kesetiaan, apalagi pengabdian yang membabi buta. Banyak penyair keluar masuk rumah puisi; kadang datang atau seterusnya menghilang ….

Dalam satu sajak lain, Umbu menulis: //Jadi/sajak bilang apa saja pada kau/jadi buang diri kau/alhamdulillah begitu rupa kau/jadi pengembara//("Upacara XXXIII, 1980). Pengembaraan seseorang tak hanya berarti perjalanan fisik, tetapi lebih-lebih adalah pencariannya ke inti dari kata. Kau bisa terlunta-lunta karena kata, bisa pula membara karena kata.

Jadi, apa masih ada angin di Jakarta? Itu artinya Umbu bertanya tentang seberapa jauh kau telah berbuat, bukan semata menghasilkan buku-buku puisi, tetapi lebih-lebih adalah penghayatanmu pada nilai kemanusiaan yang sufistik. Sebuah nilai kemanusiaan, yang menginternalisasi sifat-sifat ketuhanan ke dalam diri. Bukankah itu inti dari semua pencarian sains, ilmu, sastra, dan filsafat? Kalaulah ia harus sampai pada titik paling jauh dari pengembaraan keilmuan, maka ia selalu berhasrat menemukan kebenaran hakikat, yakni kesempurnaan.


Kau mungkin bertanya, mengapa kita mengejar kesempurnaan? Aku bisa saja bertanya balik, untuk apa setiap hari kau bersembahyang, bukankah untuk menuju kesempurnaan hidupmu sebagia manusia? Selain menumpuk harta benda untuk kepuasaan duniawimu, bukankah pada titik tertentu kau harus menyeimbangkannya dengan kepuasaan batiniah?

Puisi adalah peristiwa batiniah. Larik-lariknya mengantarkanmu pada kedalaman imajinasi, yang akan menjadi bahan bakar bagi seluruh kreativitas yang tumbuh di dalam dirimu. Di situ, puisi akan menjadi jalan lain untuk mencapai kemanunggalan dirimu dengan zat Mahasuci, bernama "kesejatian".

Terakhir kata Umbu kepadaku, tak perlu banyak menuntut dari puisi. Kalau kau serahkan dirimu sepenuh-penuhnya, ia akan memberi seutuh-utuhnya kepadamu. Benar kan, Umbu diam-diam selalu merahasiakan kata-kata "suci" yang mampu menyulut api gelisah di dalam diriku. Jadi, apakah gunanya buku-buku yang kutulis dan sudah pula kau baca itu? Mari sama-sama kita cari jawabannya. Kelak kalau kau menemukannya lebih dulu, tolong berkabar ….

Putu Fajar Arcana
Sastrawan Indonesia asal Bali
Sarjana Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Udayana
Redaktur harian Kompas

KOMPAS, 2 September 2020

Thursday, June 25, 2020

Syeikh Qaryatul ‘Ilmi


Allah telah memerdekakan Pak Nursamad Kamba.

Beliau Syeikh Prof. Dr. Nursamad Kamba-lah yang meneguhkan keyakinan dan ilmu bahwa yang ditempuh oleh pergerakan zaman yang bernama Maiyah adalah Jalan Nubuwah. Jalan Kenabian. Itu bukan klaim bahwa Maiyah adalah shirath an-Nubuwah sedang yang lainnya bukan atau tidak. Peneguhan Syeikh bermakna suatu pengetahuan baqa’ bahwa tidak ada jalan lain yang seyogianya ditempuh oleh umat manusia selain Jalan Nubuwah. Itu kalau manusia legawa hatinya memastikan dirinya bersikap ilmiah terhadap kehidupan, berkesadaran historis dan realistis terhadap asal-usul dan tujuan kehidupan semua makhluk Allah Swt.

Kita semua hidup, dididik dan dibesarkan oleh ilmu dan sikap yang menggambarkan “supremasi manusia” atas segala sesuatu yang lain, termasuk Tuhan. Peradaban ilmu dan kebudayaan manusia abad 20-21 sangat mencerminkan mungguhnya hati makhluk yang bernama manusia. “GR”. Ananiyah. Abaa wastakbara. Fir’aunistik. Baik dalam arti dan konteks keberkuasaan atas alam dan sesama manusia, maupun ideologi diam-diam di dalam struktur berpikir dan sistem psikologi mereka yang sangat cenderung menuhankan dirinya sendiri dan meletakkan Allah Swt sebagai pelengkap penderita dari kepentingannya, dari ambisinya, dari ilmunya, serta segala kosmos sangkan-parannya.


Sejak kanak-kanak saya heran dan “kagum” kepada atmosfer akal pikiran manusia. Saya menempuh jalan yang sama sekali berbeda. Sendirian. Kenapa di masa remaja Allah Swt mencemplungkan saya ke kawah penuh pergolakan dunia puisi, sepertinya dalam rangka mempersiapkan agar saya tidak terlalu mengalami frustasi dalam kesendirian rasa hidup saya, serta di dalam kesepian dan keterpinggiran gagasan hidup saya. Setamat SMA saya menulis puisi: “Orang-orang maju ke belakang. Orang-orang mundur jauh ke kehampaan. Ketelingsut di tikungan-tikungan zaman”.

Saya tidak sekolah secara normal sebagaimana umumnya remaja dan kaum muda di dunia modern. Bahkan juga tidak menguningkan pemahaman saya dengan kitab-kitab pesantren tradisional. Saya gelandangan ilmu dan kehidupan dalam arti yang sebenarnya. Saya tidak punya bahan untuk mempertahankan kepada sesama manusia kenapa saya memilih “jalan sunyi” yang jauh dari riuh rendah zaman. Saya tidak punya ilmu untuk berargumentasi. Saya tidak punya kepustakaan untuk membela diri. Saya bersembunyi di Gua Iman dan Cinta diam-diam kepada dan dengan Allah saya, yang saya dekati, sentuh dan rasakan secara apa adanya kehidupan batin saya.


Saya solo-fighter yang nekat bertarung sendirian melawan arus besar peradaban. Tetapi Allah memperkenankan sejumlah hal, sejumlah pelimpahan hidayah dan perlindungan sampai saya bisa bertahan hingga hari ini. Saya berbeda bahkan bertentangan pendapat dengan pemahaman-pemahaman baku umat manusia hampir di bidang apa saja. Dari keseharian hidup hingga politik nasional dan globalisasi kolonialistik atau kolonialisme global yang mayoritas manusia menganggapnya justru sebagai berkah, kemajuan hidup dan sukses zaman. Andaikan ada saudaraku yang lain yang berposisi sama dengan saya, tetap juga kami bertentangan pendapat tentang bagaimana merespons semua hal yang kami tidak sepakat. Dari soal perubahan sosial, metode dakwah, revolusi dan evolusi sosial, hingga hal-hal yang kecil dan mikro.

Saya mengalami penindasan, pencekalan, penentangan, permusuhan, sinisme atau bentuk macam-macam lainnya selama Orla, Orba hingga Orlaba sekarang ini. Sudah pasti Allah melindungi siapapun hamba-hamba-Nya yang menurut Allah memang seharusnya dilindungi. Tetapi pasti perlindungan Allah kepada saya belum pernah dan mungkin memang tidak akan pernah sampai ke taraf perintah sebagaimana yang Allah berikan kepada Nabi Musa atas Fir’aun, Nabi Ibrahim atas Namrud atau Nabi Muhammad Saw atas kejahiliyahan zaman. Saya hanya ditakdirkan menjadi seonggok kerikil di tepian sungai, yang dilindungi-Nya untuk tidak kintir atau terseret oleh arusnya.


Sampai akhirnya Allah mengiguh Maiyah melebar meluas mendidih menjadi suatu gelombang sosial yang tidak bisa dianggap tidak ada, meskipun untuk menganggapnya ada juga dunia tidak memiliki rumus atau ilmu untuk mengidentifikasikannya. Di tengah berkah Allah itulah di tepian Sungai Nil Kairo Mesir, Allah mempertemukan saya dengan Syeikh Nursamad Kamba. Allah memodulasikan dan memperjodohkan sangat banyak hal antara semua yang saya lakukan dengan samudera ilmu Syekh Nursamad. Beliau dengan saya dan Maiyah adalah semacam symbiose-mutualistik. Semacam “azwajuz-zaman”, perjodohan ilmu dan hikmah sejarah. Syeikh Nursamad 16 tahun di Al-Azhar Kairo, universitas tertua di kehidupan Kaum Muslimin modern. Beliau bisa menjawab apa yang tidak mungkin bisa saya jawab. Beliau mempelajari, mengetahui, mengerti dan menguasai sangat banyak hal yang saya tidak memilikinya.

Beliau adalah Marja’ Maiyah dalam arti yang sebenarnya. Dalam segala makna dan dimensi. Ilmunya, uswatun hasanah hidupnya, harmoni keluarganya, ketabahan dan kesabaran hatinya, keluasan dan kelembutan jiwanya, keterukuran dan kesantunan sikap sosialnya. Jangan tanya lagi hal keluasan pengetahuannya serta kedalaman ilmunya.


Baru tadi malam (19/06/2020) saya selesaikan tulisan Pengantar untuk buku beliau “Mencintai Allah Secara Merdeka”. Pagi diniharinya (20/06/2020), pukul 01.00 Allah memanggilnya. Allah memerdekakannya.

Banyak hal yang Jamaah Maiyah harus lakukan sesudah proklamasi kemerdekaan Syekh Kamba dari dunia yang hina dina ini. Meneliti kembali, mengingat-ingat, mencatati, dan menghimpun segala ilmu dan hikmah yang pernah beliau taburkan selama sekian tahun beliau menemani dan menjadi pemandu Maiyah. Beliau adalah Qaryatul ‘Ilmi, kampung halaman ilmu Maiyah kita bersama. Di dalam jiwa saya dan semua Jamaah Maiyah, pagi ini terdapat lubang sangat besar. Lubang duka tak terkira. Lubang hampa. Lubang derita. Tapi semoga Allah akan mengisinya dengan makna.

إنا لله وإنا إليه راجعون

بقلوب مؤمنة بقضاء الله وقدره ومليئة بالحزن والأسى نشاطر الأحزان للأستاذة فاتن حمامة وأولادها وأحفادها بوفاة الشبخ الحبيب الغالي الأستاذ الدكتور محمد نور صمد كمبا 

ونسال الله ان يتغمده بواسع رحمته ومغفرته ويسكنه فسيح جناته  

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأكرم نزله ووسع مدخله واغسله بالماء والثلج والبرد ونقه من الذنوب والخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس

برحمتك الواسعة يا أرحم الراحمين 

(احمد فؤاد أفندي والزوجة الكريمة أضحية جواهر وجميع الأولاد والأحفاد)

Emha Ainun Nadjib
Nama aslinya Muhammad Ainun Nadjib atau biasa dikenal Cak Nun atau Mbah Nun,
Tokoh Budayawan dan Intelektual Muslim Indonesia,
Penggiat Jamaah Maiyah.
CAKNUN.COM

Monday, September 26, 2016

Jangan ikuti Cak Nun, jangan .…


Ini bukan kampanye rokok. Saya tidak akan menganjurkan Anda sekalian untuk merokok. Saya bahkan tidak meminta Anda menjadi pengikut saya. Saya tidak perlu dan tidak mau diikuti, karena saya hanya pengikut Nur Muhammad saw.

Sejak menulis tentang Cak Nun dan Kiai Kanjeng, April silam, beberapa kawan mengirimkan pertanyaan lewat email, inbox di Facebook, dan SMS kepada saya. Poin pertanyaannya hampir sama: “Mengapa saya [tiba-tiba] menulis tentang Cak Nun? Berkali-kali, dan untuk kepentingan apa?” Semua pertanyaan itu tidak saya jawab, karena saya bermaksud menjelaskannya lewat tulisan. Tulisan yang sedang Anda baca ini.

Saya mengikuti Cak Nun dan Kiai Kanjeng sebab diongkosi seorang kawan, dan perkara ini sebetulnya sudah saya jelaskan di tulisan pertama saya [lihat: Dan para petani tembakau itu memeluk Cak Nun]. Dia tahu saya tidak punya penghasilan tetap, dan tampaknya berusaha untuk menyenangkan saya, membantu agar saya bertahan hidup. Soal apakah dia punya kepentingan atau tidak, tentu hanya dia yang tahu. Andaipun punya kepentingan, yang saya tahu kemudian, kawan saya itu merencanakan penulisan sebuah buku tentang Cak Nun, dan meminta saya untuk menuliskannya.

Tentu saya senang. Bagi saya, rencana penulisan buku tentang Cak Nun adalah sebuah niat baik, dan saya tidak pernah mampu menolak niat baik, setidaknya saya berusaha untuk tidak bersangka-sangka. Reportase tentang pengajian Cak Nun yang saya tulis beberapa kali, hanya sebagai bagian dari buku yang direncanakan oleh kawan saya itu.


Dia, seperti halnya saya, juga sedang mengalami proses kebatinan yang luar biasa. Mungkin karena faktor umur meski usianya jauh lebih muda dari usia saya. Pada suatu subuh, dia misalnya pernah mengutarakan pada saya, ingin hapal Al-Quran. Dia juga beberapa kali hadir di acara pengajian Cak Nun di Yogyakarta dan di beberapa kota lainnya. Beberapa kali, dia juga bercerita tentang perjalanan hidupnya yang penuh warna. Ditikam pengkhianatan, dibanting oleh kemunafikan, diterkam kerakusan. Dia berdiri tegar, sebab dia yakin, yang dilakukannya, sejauh ini, tidak dilandasi niat buruk, dan dia memang banyak membantu sahabat-sahabatnya, termasuk saya.

Lalu, setiap kali saya menyampaikan terima kasih kepadanya karena telah banyak membantu saya, termasuk menghibur saya dengan memperjalankan ke beberapa kota dan memberi kesempatan untuk menulis sebuah buku tentang Cak Nun, dia biasanya hanya [akan] selalu menjawab pendek: “Bagi-bagi rezeki Cak,” atau “Bantu apa Cak?

Saya tahu, Allah bertanggungjawab terhadap semua ciptaannya termasuk dalam soal rezeki saya, tapi setiap kali kawan saya mengatakan hal itu, saya selalu membisu. Tak mampu mengucapkan apa pun, karena saya tahu, kami bahkan baru saling mengenal lalu berkawan sejak empat tahun silam, dan sejak itu dia banyak memperhatikan saya dan keluarga saya. Tak pernah saya merasa dia berharap, apalagi meminta saya untuk membalas budi baiknya.

Maka sejak April itu, saya mengikuti Cak Nun. Dimulai dari Temanggung, lalu ke Semarang, Kudus, Surabaya, dan ke Jakarta, di Taman Ismail Marzuki. Tentu banyak pengalaman dan pelajaran hidup yang saya ambil dari mengikuti Cak Nun di lima kota itu, terutama untuk belajar selalu berdamai dengan banyak tuduhan. Belajar menjadi manusia yang berdaulat. Dan sewaktu muncul di TIM, Jumat malam sepekan yang lalu, penjelasan Cak Nun mengagetkan saya. “Saya dan Kiai Kanjeng tidak pernah mengemis. Mengaju-ajukan proposal agar kami dibiayai. Pementasan kami tidak ada sponsor.


Saya tidak tahu apakah Cak Nun marah atau tidak, meski saya juga tahu, dia pantas marah. Lima hari sebelumnya, sewaktu akan tampil di Kampus B Universitas Airlangga Surabaya karena diundang BEM Fisip di sana dan komunitas BangbangWetan, saya tahu ada tuduhan: Cak Nun dan Kiai Kanjeng membela industri rokok. Tuduhan itu  ditulis secara pengecut oleh satu akun anonim, yang menggunakan nama samaran dan menyembunyikan identitas. Disebarkan ke banyak akun di media sosial, dan tampak berusaha agar BEM Fisip Unair menggagalkan pentas Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Unair.

Saya tidak mengerti ada orang semacam itu, yang tahan dengan semangat membenci tapi ketakutan untuk menampakkan diri. Orang-orang yang menurut Cak Nun hanya berani bersuara di belakang dan menebarkan fitnah lewat media sosial tapi terlalu pengecut berhadapan muka. Dan penulis anonim itu, tampaknya adalah orang yang bersemangat mengkampanyekan anti-rokok, untuk tidak disebut sebagai orang atau kelompok yang sebetulnya menerima dana kampanye anti-rokok.

Mereka karena itu harus berkampanye terus-menerus agar dana yang diterimanya bisa terpakai untuk menolak ide lain tentang semua yang dianggap berlawanan dengan antirokok, bahkan jika itu hanya berupa semangat kepada petani tembakau seperti yang dilakukan Cak Nun di Temanggung. Dan itu sah-sah saja karena banyak cara orang mencari makan.

Masalahnya: apakah karena membela petani tembakau di Temanggung misalnya, Cak Nun lalu dianggap membela industri rokok? Apa karena itu semua, Cak Nun dianggap mengkampanyekan rokok dan menyarankan orang merokok? Apa karena itu semua, pementasan Cak Nun dan Kiai Kanjeng dituding dibiayai oleh industri rokok?


Kalau boleh menduga, tuduhan  dari orang-orang semacam itu pada Cak Nun, dipicu antara lain oleh tulisan saya tentang Cak Nun di Temanggung. Tentang Cak Nun yang waktu itu berusaha membangkitkan harapan dan kekuatan petani-petani tembakau di sana. Mereka merasa terusik. Mungkin juga merasa terancam sebab Cak Nun membela petani tembakau.

Sebelum saya mengikuti Cak Nun dan menulis tentang kehadirannya di tengah petani-petani tembakau di Temanggung yang cemas dan bersedih, beberapa kali saya menyimak rekaman pengajian, ceramah, orasi Cak Nun yang bisa diakses dari Youtube. Beberapa kali dia menyinggung masalah rokok karena dia adalah perokok. Tapi sejauh yang bisa saya tangkap dari penjelasan Cak Nun di beberapa tayangan video, konteksnya adalah, dia merasa aneh karena bahkan untuk meminta sekadar hak boleh merokok, di negara ini, sekarang dipersoalkan, dipersulit. Dan Cak Nun menyampaikan semua itu dengan gayanya yang selalu penuh guyonan ala Jawa Timuran.

Di sebuah video yang direkam ketika diundang berbicara di rumah Anas Urbaningrum dua tahun lalu misalnya, Cak Nun bilang, tidak mau ikut pergerakan baru kalau dilarang merokok. Dia menyampaikan hal itu dengan mimik wajah dan senyuman khas. Seperti meledek. Tamu undangan yang mendengarkan ucapannya ikut tertawa.

Di sebuah video lain, yang tampaknya direkam bertahun-tahun sebelumnya, Cak Nun mengatakan, ketika semua hak sebagai warga negara telah diambil, dia hanya minta hak untuk merokok. “Aku minta hak untuk merokok ini saja loh Rek, masak tak boleh?” Berkali-kali pula dia menyatakan, dirinya tak berani mengharam-haramkan sesuatu yang diciptakan Allah.

Allah serius menciptakan tembakau, masak saya berani mengharam-haramkan? Nanti kalau Allah bertanya, ‘Lho Nun, Aku ini serius menciptakan tembakau, kok kamu haram-haramkan padahal Aku tidak mengharamkannya? Kamu bisa menciptakan tembakau?’ Wah bisa repot saya.” Dan kata-kata semacam itu, kata-kata penuh candaan, diulangi Cak Nun di TIM.


Saya tahu Cak Nun merokok. Perokok berat. Begitu juga saya, tapi dia tidak pernah mengkampanyekan agar orang membeli rokok atau menyarankan orang untuk merokok. Dia hanya meminta, agar tidak ekstrem menolak atau menerima sesuatu, termasuk dalam soal rokok. Misalnya orang yang merokok, tidak anti pada yang tidak merokok. Orang yang tidak merokok, tidak anti pada orang yang merokok. Kepada perokok pun, Cak Nun mengingatkan agar tahu, kapan bisa merokok, kapan harus tidak merokok. Dan permintaannya itu, boleh dipenuhi dan silakan ditolak.

[Acara Kiai Kanjeng] ini bukan kampanye rokok. Saya tidak akan menganjurkan Anda sekalian untuk merokok. Saya bahkan tidak meminta Anda menjadi pengikut saya. Saya tidak perlu dan tidak mau diikuti, karena saya hanya pengikut Nur Muhammad saw.

Cak Nun lalu memberi perumpamaan soal jilbab. Perempuan yang mengenakan jilbab bukan berarti anti dengan perempuan yang tidak berjilbab. Perempuan yang tidak berjilbab, bukan berarti anti terhadap yang berjilbab. Bahwa kemudian, jilbab menjadi industri dan membuat persaingan antara pembuat jilbab, itu bukan urusan orang yang mengenakan jilbab dan yang tidak mengenakan jilbab. “Semua orang berdaulat atas dirinya.

Selama berkunjung ke lima kota, saya tahu, tema pengajian Cak Nun adalah tentang kedaulatan. Sinau kedaulatan atau belajar tentang kedaulatan. Itulah yang menurut saya, tampaknya yang juga dicurigai oleh beberapa orang yang aktif mengkampanyekan anti-rokok. Cak Nun dianggap seolah-olah mengkampanyekan rokok. Acara Kiai Kanjeng dituduh disponsori perusahaan rokok.

Mereka tidak tahu, Cak Nun dan Kiai Kanjeng sudah ribuan kali pentas di banyak tempat, di berbagai kota. Diundang oleh banyak orang. Dari Yogyakarta hingga Korea. Dari Surabaya hingga Maroko. Dan semua pementasannya terutama di Indonesia, adalah pementasan rutin yang dibiayai oleh orang-orang yang mencintainya. Orang-orang yang ingin mendengarkan lelucon-leluconnya. Orang-orang yang mau belajar keluar dari batas-batas kepura-puraan. Orang-orang yang ingin terhibur setelah hidup mereka disuguhi banyak kemunafikan.


Di berbagai kota, karena itu muncul komunitas-komunitas. Di Jakarta ada Kenduri Cinta, Macopat Syafaat ada di Yogyakarkarta, Gambang Syafaat di Semarang, Padhang mBulan di Jombang, Bangbang Wetan di Surabaya, Paparandang Ate Mandar di Makassar, Maiyah Baradah di Sidoarjo, Obor Ilahi di Malang. Ada juga beberapa komunitas di Hong Kong, di Bali, dan di Papua. Komunitas-komunitas yang terbentuk karena orang-orang yang merindukan Cak Nun, yang jumlah orangnya di setiap komunitas bisa mencapai ribuan. Mereka orang-orang kecil. Buruh pabrik, penjual kopi, tukang becak, para preman, pedagang sendal dan kopiah, TKI, dan sebagainya.

Tujuh belas tahun yang lalu, sewaktu Jakarta dibakar kerusuhan dan banyak orang ketakutan, Cak Nun dan Kiai Kanjeng bahkan berkeliling ke pelosok-pelosok Jakarta yang sempit dan bau, semata berusaha memberi ketenangan dan kesabaran dengan membaca shalawat beramai-ramai. Dan semua itu, tidak pernah disorot oleh media. Cak Nun dan Kiai Kanjeng dianggap sampah, dan Cak Nun memang selalu menempatkan dirinya sebagai tempat sampah. Tempat orang membuang keluhan. Melemparkan kemarahan. Meletakkan kesedihan. Mengais harapan.

Lalu, Jumat malam sepekan yang silam, di lapangan parkir di dekat dua pintu masuk ke areal TIM itu, Cak Nun menurut saya, memang perlu menjelaskan posisinya dan Kiai Kanjeng, karena tuduhan dan kecurigaan dari orang-orang pengecut [yang sebetulnya merekalah yang menerima dana kampanye anti-rokok dari donor di luar negeri], sungguh keterlaluan. Barangkali karena itu pula, Cak Nun mempersilakan Mohammad Sobary, budayawan, peneliti LIPI, eks pemimpin redaksi kantor berita Antara, ikut berbicara soal rokok dan tembakau.

Ketika pemerintah menyiapkan rancangan peraturan tembakau, 12 April 2012, 10 ribu petani tembakau di Temanggung merokok kretek bersama. Mereka berdaulat. Merokok kretek menjadi bahasa perlawanan. Memperotes rancangan itu agar tidak menjadi peraturan. Melawan negara yang tidak berdaulat.

Mas Sobary berhak mengutarakan itu semua karena dia adalah penasehat APTI, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia. Tentu dia berkepentingan membela petani tembakau, meski pembelaannya terhadap petani tembakau tidak senorak kampanye para demagog anti-rokok. Mas Sobary menulis buku. Menyelenggarakan diskusi imiah.


Saya tahu kampanye global antitembakau bertujuan untuk mengambil tembakau Indonesia. Dan saya tahu pula, sudah ada penelitian, sembilan manfaat tembakau bagi kesehatan.

Saya tahu, Mas Sobary sebelumnya tidak merokok. Dia merokok beberapa bulan kemudian, setelah rombongan petani tembakau, menemuinya, memintanya ikut membela mereka di tengah kepungan tuduhan dan ancaman, beberapa tahun yang lalu. Rokok yang dia isap pun bukan buatan pabrik rokok, melainkan devine cigarette, kretek yang dikenalkan kali pertama dan diusahakan mandiri oleh Dr Gretha Zahar, yang kemudian didukung oleh Prof Sutiman Bambang Sumitro, guru besar di Universitas Brawijaya Malang, sebagai metode alternatif pengobatan.

Saya mengambil napas dalam-dalam mendengar ucapan Mas Sobary tentang nasib petani tembakau yang hendak dipinggirkan, yang saya rasakan penuh kemarahan. Malam itu, saya datang ke TIM dalam keadaan payah. Baru dua hari sebelumnya saya mengalami kecelakaan. Beberapa bagian tubuh saya masih berdarah. Dagu penuh jahitan. Tubuh saya ringsek.

Saya memaksa hadir di acara Cak Nun, karena saya harus menyelesaikan tugas saya: mencatat untuk bahan penulisan buku tentang Cak Nun. Lalu ketika Mas Sobary menguraikan betapa bangsatnya negara ini terhadap petani tembakau, saya berusaha menarik napas panjang. Berupaya menyadarkan diri.

Bernapas Rusdi, bernapaslah. Saya terus mengajak diri saya berdialog.


Malam sudah begitu larut. Sudah melampaui jam dua dinihari. Perih di dagu karena bengkak sehabis dijahit tak begitu saya pedulikan, tapi dada saya seperti ditekan-tekan. Entah oleh apa. Sesak.

Saya teringat kerabat bapak di Sumenep Madura yang menanam tembakau. Ingat kawan-kawan saya di Besuki, yang sejak dari kakek moyangnya menanam tembakau. Ingat sahabat saya yang memberdayakan para petani tembakau di Jember. Ingat para petani tembakau di Temanggung, yang memeluk dan merubuhkan diri pada Cak Nun, minta dibela.

Ya Allah, apa sebetulnya dosa para petani itu? Kenapa orang-orang hebat itu yang harus menentukan, apa yang boleh dan tidak boleh ditanam oleh petani tembakau? Kenapa orang-orang besar itu yang harus mendikte, jumlah dan jenis tembakau yang bisa ditanam? Apa yang telah diberikan oleh orang-orang pintar yang mengatur dan membuat undang-undang itu, kepada para petani tembakau selain hanya menganggap para petani itu sebagai orang-orang yang dituduh penanam benih penyakit?


Cak Nun mengakhiri Kenduri Cintanya di TIM menjelang subuh, dan itu adalah acara terlama dari pentas Cak Nun dan Kiai Kanjeng yang saya ikuti di lima kota. Ketika berdoa, suaranya terdengar menahan isak. Seribuan orang yang hadir di sana, barangkali juga ikut sesenggukan.

Ya Allah mudahkanlah mereka yang sedang kesusahan. Gembirakanlah mereka yang sedang kesedihan. Sembuhkanlah mereka yang sedang kesakitan. Lunaskanlah mereka yang terbelit utang. Jangan jadikan Indonesia mengemis dan merengek-rengek .…

Begitulah Cak Nun. Selama mengikutinya di lima kota, saya mengenalnya sebagai apa saja. Budayawan, intelektual, kiai, dan mungkin tempat sampah, seperti yang selalu dia sampaikan, dan saya banyak belajar dari tempat “sampah” itu. Belajar berdaulat terutama untuk menjadi diri sendiri. Menjadi manusia apa adanya. Manusia yang tidak berpura-pura. Manusia yang menolak hidupnya ditentukan dan didikte oleh orang lain.

Rusdi Mathari
https://rusdimathari.com/2015/05/16/jangan-ikuti-cak-nun-jangan/

Friday, August 22, 2014

Jangan Dekat-dekat Kepada Tuhan


Dibacakan perdana dalam acara Maiyah Kenduri Cinta, Agustus 2014 oleh Wahyu (Penyair KC)

1.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab engkau sudah amat sangat lekat pada dunia
Terlanjur salah pengertian kepada kehidupan
Tidak sungguh-sungguh menelusuri ilmu kematian
Terlalu percaya kepada banyak yang bukan Tuhan

2.
Jangan dekat-dekat pada Tuhan
Karena gemerlap dunia sudah menjadi tuhanmu
Dunia rumahmu, dunia jalanmu, dunia tujuanmu
Tak berani engkau berpisah darinya sejenakpun saja
Maka kalau dekat kepada Tuhan, kau akan menderita

3.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Teguhkan hati menikmati dunia dan mengidamkan sorga
Kalau dekat kepada Tuhan, dunia menjadi remeh
Dan sorga menjadi bukan segala-galanya
Itu tidak sejalan dengan muatan doa-doamu


4.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab yang utama bagimu adalah kekayaan dunia
Yang kau perjuangkan adalah kedudukan di dunia
Harta benda, keunggulan, eksistensi, pangkat dan jabatan
Di dekat Tuhan semua itu rendah dan sia-sia

5.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Nanti engkau dicintai oleh-Nya dan disembunyikan
Mungkin malah ditabiri dengan hijab kehinaan
Diberi pakaian kumuh dan penuh kerendahan
Sehingga dunia mentertawakanmu dan meremehkan

6.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Nanti engkau tidak populer dan dikepung salah paham
Kau disangka timur oleh barat, dituduh utara oleh selatan
Kalau berjasa engkau tak memperoleh pujian
Karena Tuhan menyimpan pialamu di lubuk yang dirahasiakan

7.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab itu membuatmu berpikir dan menilai ulang
Segala sesuatu yang sudah baku di dalam hidupmu
Untung rugi, rejeki bencana, penting tak penting
Harus kau bongkar dan membangunnya kembali


8.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Demi karier duniamu jangan dekat-dekat kepada-Nya
Atau tunggangi dan manfaatkan saja kekuasaan-Nya
Dengan berdoa naik pangkat dan bertambah kaya
Minta kemenangan untuk menguasai harta benda

9.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Kau akan mutlak terserap oleh supra-dimensi
Para makhluk tak sanggup menatapmu
Bumi takkan mampu menemukanmu
Sehingga pun dunia tak menghormatimu

10.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab tak ada yang melebihi-Nya dalam hal dikhianati
Tapi Ia Maha Sabar dari zaman ke zaman diingkari
Kuatkah engkau berada di maqam itu
Terus menerus didera khianat dan ingkar oleh sesamamu

11.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Sebab ia menciptakanmu tanpa kepentingan
Ia mengasuhmu tanpa meminta imbalan
Sedangkan hidupmu adalah kepentingan
Dan setiap langkahmu mendambakan imbalan


12.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Kecuali kau tangguh memanggul ujian
Jika dunia yang kau genggam dan kau eman-eman
Direbut oleh-Nya, dibanting, dicampakkan, disirnakan
Apakah engkau rela, atau merasa itu derita

13.
Jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Kecuali engkau ridha kehilangan dunia
Kecuali engkau ikhlas kehilangan dirimu sendiri
Hilang dari yang dinamakan kehidupan
Dirimu sendiri hilang dari dirimu sendiri

14.
Hayo… gimana
Maka jangan dekat-dekat kepada Tuhan
Berpalinglah dari asal usul dan arah tujuan
Mengembaralah di Bumi dengan kemerdekaan
Jilat sana, jilat sini, cari yang paling menguntungkan


Yogyakarta, 15 Agustus 2014,

Muhammad Ainun Nadjib
http://kenduricinta.com/v4/jangan-dekat-dekat-kepada-tuhan/

Thursday, October 18, 2012

Presiden


Presiden kita berikutnya jangan asal presiden. Rakyatlah yang harus mencari pemimpin bukan menunggu orang-orang yang menyodorkan diri untuk menjadi pemimpin.

Rakyat adalah pemegang kedaulatan. Mari kita belajar untuk tidak meneruskan tradisi kelalaian: membiarkan diri dipimpin “pemimpin setoran” perusahaan bernama partai politik. Parpol tidak perlu pemimpin sejati. Ekspektasi parpol adalah laba sehingga dipilihlah pemimpin yang paling menguntungkan perusahaannya.

Kalau konstitusi dan undang-undang tidak memungkinkan rakyat mencari pemimpin, berarti undang-undang dibuat tanpa kejernihan ilmu, kejujuran demokrasi, dan kecintaan kepada rakyat.

Saya tidak percaya bangsa Indonesia hobi masuk ranjau sehingga menjalani sejarah dengan gairah sakit jiwa mencari ranjau-ranjau baru. Apakah penderitaan dan ketertindasan sudah menjadi narkoba psikologi dan budaya kita?


Mari melipatgandakan kriteria dibanding presiden-presiden sebelumnya. Ini negara besar dan kaya raya, tetapi dikelola dengan kesembronoan melampaui batas. Ini kepulauan raksasa dengan manusia-manusia spesifik dan multitalenta, tetapi di titik nadir ketidakpercayaan diri. Ini garuda yang mabuk jadi emprit.

Calon pemimpin tidak sekadar diuji integritas, kredibilitas, dan kematangan profesionalnya. Ia harus punya visi dan berani mengambil risiko pribadi untuk keperluan rakyat.

Secara nalar, presiden dan pemerintah berani tidak makan sebelum rakyatnya kenyang. Ibarat kepala keluarga, saat kenduri ia makan terakhir. Kalau kebakaran, anggota keluarga ia selamatkan dulu. Ia siap jadi orang paling sedih.

Secara agama presiden adalah orang yang paling berat hatinya melihat penderitaan rakyat dan tidak cengeng atas penderitaannya sendiri. Kalau malaikat mendadak mencabut nyawanya, presiden merintih, “Rakyatku, rakyatku....” Bukan “Ibu...”, “Istriku...”, atau “Anakku....”


Hamba dengan Tuhan
Adab sosial Bangsa Jawa menemukan idiom manunggaling kawula lan Gusti. Menyatunya hamba dengan Tuhan.

Bukan berarti hamba adalah rakyat, Presiden adalah Tuhan. Itu pemahaman manipulatif kekuasaan politik. Dalam demokrasi, Tanah Air dan lembaga negara adalah hak milik rakyat. Presiden pada posisi dimandati, dipinjami sebagian kedaulatan dalam batas ruang dan waktu tertentu. Maka tafsir feodal “menyatunya hamba dengan Tuhan” tidak bisa dipinjam untuk mengabsolutkan kekuasaan.

Mungkin sebagian raja masa lalu memperdaya rakyat dengan penafsiran rakyat adalah “kawula” dan raja adalah “Gusti”. Namun, sejak Sunan Kalijaga pada abad ke-14 hingga ke-16 menginovasikan kehadiran Semar dalam peta kekuasaan raja-raja lewat wayang, struktur hubungan vertikal hamba-Gusti rakyat-raja menjadi relatif.


Semar adalah rakyat biasa. Lengkapnya Ki Lurah Semar Badranaya, tinggal di dusun Karang Kedempel. Pada saat yang sama ia adalah Panembahan Ismaya, dewa senior berposisi sangat tinggi, di atas Batara Guru yang jadi presiden Jagat Raya. Di atas Semar adalah Sang Hyang Widhi (istilah Arabnya ”Ilahi”) atau Sang Hyang Wenang (”Robbi”), atau Tuhan.

Kehadiran Semar melengkungkan struktur kedaulatan vertikal menjadi bulatan. Semar ada di titik tertinggi di bawah Tuhan, sekaligus di titik terendah bersama rakyat. Dua titik itu satu sehingga garis lurus vertikal jadi bulatan. Inilah indahnya desain demokrasi Sunan Kalijaga.

Maka dalam diri seorang presiden, kawula dengan “Gusti” itu manunggal. Di dalam entitas tugas kepresidenan, rakyat dengan Tuhan menyatu. Kalau Presiden menindas rakyat, Tuhan sakit hati. Kalau Presiden mengkhianati Tuhan, rakyat turut tertimpa kehancuran.
Isi kepala presiden adalah upaya menyejahterakan rakyat. Isi dadanya adalah “rasa bersalah” karena belum maksimal bekerja, serta “kerendahan hati” kepada Tuhan dan rakyatnya.

Maka sejak semula ia tidak menawar-nawarkan diri, memasang gambar wajahnya di sepanjang jalan, menyatakan “aku yang baik”. Kata tukang becak di Yogyakarta: Bisa rumangsa, ora rumangsa bisa: sanggup merasa tak mampu, bukan mampu merasa “bisa”. Rakyat yang menilai apakah presiden bisa atau ber-bisa.


Sebenarnya mengherankan melihat orang Jawa kehilangan kearifan lokalnya dan terseret model aplikasi tipu-daya demokrasi untuk memilih pemimpin.

Seluruh cara mencalonkan diri —entah menjadi presiden atau lurah— sangat menunjukkan bahwa mereka “rumangsa bisa”. Ini membuat semua orang yang berkualitas “bisa rumangsa” minggir dari politik. Dengan demikian, hampir mustahil rakyat akan memperoleh pemimpin dambaan dari antara para pemamer wajah yang bermutu “rumangsa bisa”.

Di masjid dan mushala mana pun tidak ada orang bodoh tak tahu diri yang berteriak, “Ayo berbaris makmum, saya yang paling pantas menjadi imam shalat”.

Dalam kehidupan manusia yang berakal, pemimpin lahir dari apresiasi rakyatnya. Rakyat pulalah yang mendaulatnya menjadi pemimpin. Presiden kita haruslah orang yang mengerti dan mengerti bahwa ia mengerti, tahu tentang banyak hal, dan ada sesuatu yang seseorang ataupun masyarakat belum tahu. Tugasnya sebagai presiden adalah mencari tahu. Ia berdiri paling depan menembus kegelapan untuk menemukan cahaya.


Keluasan Hati
Presiden menjadi presiden karena ia punya kesanggupan akal, stamina mental, keluasan hati, kesabaran rohani, dan kekompakan frekuensi dengan seluruh unsur jagat raya untuk membawa “oleh-oleh” buat rakyatnya sesuatu yang rakyat belum tahu. Untuk Indonesia yang hancur lebur sekarang ini, presiden wajib berani mati.

Presiden adalah pengambil keputusan pertama dan utama untuk melangkahkan kaki menapaki kegelapan. Sebab, manusia itu hidup dulu baru mengerti, bukan mengerti dulu baru hidup.

Ya. Masa depan itu gelap. “Aku”, kata Tuhan, “memperjalankan hamba-hamba-Ku menembus kegelapan malam hari”. Hidup adalah malam hari karena “sekarang” sesungguhnya tak ada. Tatkala engkau berada di “se”, tiba-tiba sudah “ka”. Tatkala engkau tiba di “ka”, “se” sudah masa silam yang “tiada”, sementara “rang” adalah masa depan yang engkau tak tahu.


Jika engkau melembut, waktu tampak olehmu. Jika engkau meregang, ketidak-terbatasan ruang tak terjangkau olehmu. Maka kuda-kuda terbaik adalah kerendahan hati. Itulah “kesadaran debu”.

Tak bisa kau tempuh gelapnya “rang” dengan modal “merasa bisa”. Hari siang pun gelap. Sebab, matahari bukan benar-benar bercahaya. Ia hanya mengantarkan kesadaran tentang cahaya. Orang menanam tak tahu panennya, orang berjualan tak tahu berapa calon pembelinya. Orang lahir tak tahu matinya.

Mungkin itu sebabnya Tuhan menuntun melalui salah satu sifat-Nya: Kalau mau jadi presiden, pertama sekali kamu harus “mempelajari kegaiban dan menyaksikannya”. ‘Alimul-ghaibi was-syahadah.’ Kognitif dan empiris. Kegaiban yang paling utama adalah rahasia hati rakyatmu. Di situlah sesungguhnya cahaya itu berada.

Emha Ainun Nadjib
Budayawan
KOMPAS, 13 Oktober 2012