Showing posts with label Sastrawan. Show all posts
Showing posts with label Sastrawan. Show all posts

Saturday, September 26, 2020

“Manunggaling Kawulo” Puisi

 
Sebelum berulang tahun ke-77, pada 10 Agustus 2020 lalu, penyair Umbu Landu Paranggi menelepon dari Denpasar. Kalimat pertama yang ia ucapkan senantiasa, "Apa ada angin di Jakarta?" Aku tahu pasti, ini judul puisi yang ditulisnya pada masa-masa awalnya menjadi manusia urban di Yogyakarta, setelah mengembara dari pedalaman Sumba Timur.

Selengkapnya puisi itu berbunyi: //Apa ada angin di Jakarta/Seperti dilepas desa Melati/Apa cintaku bisa lagi cari/Akar bukit Wonosari/Yang diam di dasar jiwaku/Terlontar jauh ke sudut kota/Kenanganlah jua yang celaka/Orang usiran kota raya/Pulanglah ke desa/Membangun esok hari/Kembali ke huma berhati//. Murid terdekat Umbu, Emha Ainun Nadjib, pernah menulis esai dengan judul sama, yang tergabung dalam buku Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya (1983).

Cak Nun, demikian Emha disapa, memberi konteks pada puisi Umbu, sehingga menemukan korelasinya dengan situasi Jakarta, sebagai titik urban paling genting. Sementara Melati dan Wonosari diposisikan sebagai kota (kecil) dengan segala simbol keudikannya. Jakarta, dalam esai itu, disebut sebagai simpul segala peristiwa, bahkan situs penting bagi keglamoran kehidupan kelas menengah kota.


Mobilitas persilangan orang-orang "desa" dan orang-orang "kota", sehingga disebut urban, terjadi di ganglion kota, seperti terminal, stasiun, pasar, mal, pabrik, dan bahkan perkantoran. Mobilitas yang tinggi itulah yang kini jadi masalah terbesar di saat pendemi. DKI Jakarta tak pernah beranjak dari posisi teratas dalam "menyumbang" angka positif Covid-19.

Angka statistik pada 28 Agustus 2020, di DKI Jakarta ditemukan 869 kasus baru, sehingga menjadi 37.082 kasus, sedangkan di Jawa Timur 417 kasus baru, sehingga total menjadi 32.113 kasus. Secara keseluruhan angka harian di Indonesia, pertambahan positif Covid-19 pada 29 Agustus 2020 meledak ke angka tertinggi, yakni 3.308 kasus!

Kepada Umbu, sebelum ledakan kasus positif Covid-19 ini terjadi, aku bilang, “Angin yang deras selalu menampar stasiun, terminal, mal, dan gedung-gedung tinggi di Jakarta, Bung.”

“Kalau begitu tetaplah berumah,” kata Umbu.


Bercakap dengan Umbu selalu penuh simbol sehingga harus pandai-pandai memberi tafsir. Ia tak pernah langsung mengatakan keinginan sesungguhnya. "Berumah" telah mengingatkan aku pada puisi Umbu yang lain: //dengan mata pena kugali gali seluruh diriku/dengan helai-helai kertas kututup nganga luka lukaku/kupancing udara di dalam dengan angin tanganku/begitulah, kutulis nyawaMu senyawa dengan nyawaku// ("Seremoni", 1978).

Sudah lama Umbu berumah di unggun kata-kata. Ia tak punya alamat dalam pengertian sesungguhnya. Jika suatu kali kau menemukannya sedang jalan malam-malam, dan mencoba mengantarkannya pulang, Umbu selalu bersedia, tetapi aku yakin tak akan sampai di rumah. Ia akan selalu bilang, "Saya turun di dekat gardu saja. Nanti kau terus ya …." Begitu selalu, sehingga tak seorang pun tahu di mana Umbu menetap.

Puisi bagi Umbu, sangkan paraning dumadi, semacam jalan menuju ke asal muasal dari hidup dan ke mana tujuan dari hidup ini berlayar. Kata Umbu, hidup selalu menuju pada keesaan Tuhan untuk menyelami nilai-nilai kemanusiaan sejati. "Puisi itulah tujuan hidup …," katanya suatu hari di Pantai Sindhu, Sanur, Bali.‎


Angin berembus dari Selat Badung mengantarkan aroma asin. Kami berempat, bersama penyair Warih Wisatsana dan sutradara Agus Noor, menyesap botol terakhir sebelum tengah malam benar-benar menyungkup pantai. Sanur selalu menguarkan aura mistis di malam hari. Debur ombak, siulan angin, dan lolong anjing menambah dingin hati kami masing-masing.

Umbu masih mengoceh tentang masa lalunya yang berani menyeberangi sepi sebelum tiba di Yogyakarta sebagai anak desa ingusan. Maunya, kata dia, bersekolah di Tamansiswa, tetapi karena terlambat mendaftar, ia terdampar di SMA Bopkri, Kotabaru, Yogyakarta. "Tetapi di situ malah ketemu Ibu Lasiyah Soetanto, guru Bahasa Inggris yang tidak menggurui," tutur Umbu.

Lasiyah Soetanto sampai sekarang dianggap sebagai guru sejati. Ia membiarkan Umbu asyik menulis sajak di dalam kelas, justru saat-saat jam pelajaran berlangsung. "Itu kemewahan," ujar Umbu. Benar saja, ketika sajak-sajak Umbu diterbitkan di koran-koran terbitan Yogyakarta pada tahun-tahun 1960-an, Lasiyah mengapresiasinya. Lantaran itu, Umbu pelan-pelan merasa bahwa jalan hidupnya adalah puisi, tak ada lainnya. Sesungguhnya ia kemudian berkuliah di dua fakultas di Kota Yogyakarta, tetapi keduanya ia tinggalkan untuk "mengabdi" pada puisi.


Awal tahun 2020, aku bertemu Sutardji Calzoum Bachri dalam satu perhelatan bernama Tegal Mas Island International Poetry Festival 2020, yang digagas penyair Isbedy Stiawan ZS. Bang Tardji, demikian ia selalu disapa, tak merasa canggung bergaul dengan para penyair pemula. Ia bahkan menunggu di bibir pantai saat-saat para penyair bermain air.

Dalam percakapan di bawah pohon waru denganku, Bang Tardji bilang, "Puisi ini seperti jalan hidupku, sudah kucoba berbagai jalan, ketemu puisi selalu." Bang Tardji pernah berkuliah di Bandung, dan anehnya mengambil fakultas yang sama dengan Umbu, tetapi juga tidak selesai. Ia kemudian asyik masyuk ke dalam sajak dan menebarkannya ke berbagai media di Bandung.

Dalam satu sajak, Bang Tardji pernah menulis begini: //Walau penyair besar/takkan sampai sebatas allah/dulu pernah kuminta tuhan/dalam diri/sekarang tak/kalau mati/mungkin matiku bagai batu bagai pasir tamat/jiwa membumbung dalam baris sajak/tujuh puncak membilang-bilang/nyeri hari mengucap-ucap/di butir pasir kutulis rindu rindu/walau huruf habislah sudah/alif bataku belum sebatas allah// ("Walau", 1970).‎


Tentu tidaklah menjadi pembenaran bahwa penyair selalu harus putus sekolah karena alasan totalitas bersama puisi. Banyak juga penyair yang secara akademis mumpuni. Sebut saja salah satunya Sapardi Djoko Damono, yang bahkan bergelar profesor doktor. Ada juga sastrawan beken, seperti Budi Darma dan Maman S Mahayana. Bukan soal putus berkuliah yang ingin kubahas bersamamu, tetapi ikhwal beralamat di baris sajak. Coba saja kembali baca larik sajak Bang Tardji ini, "mungkin matiku bagai batu bagai pasir tamat/jiwa membumbung dalam baris sajak."

Begitu pula yang ditulis Umbu, setelah menggali-gali diri lewat pena dan helai-helai kertas, ia bilang, "begitulah, kutulis nyawa-Mu senyawa dengan nyawaku." Keduanya memiliki kesadaran besar bahwa puisi menjadi bahasa pencaharian menuju manunggaling kawulo lan Gusti, penyatuan diri dengan zat Mahasuci bernama sifat-sifat ketuhanan. Puisi menjadi jalan sunyi yang sufi, bukan dalam pengertian wadag, bersatunya ruh setelah mengembara di jagat fana, tetapi bersenyawanya sifat-sifat ketuhanan ke diri (manusia).

Ketika senyawa diri dengan ruh ketuhanan terjadi lewat puisi, Tuhan akan bekerja sesuai kehendak-Nya. Ajaran sufi memberi contoh, jika seseorang sedang kesulitan keuangan di masa pandemi ini, padahal ia sedang membutuhkan biaya untuk bayar sekolah anak-anaknya, tiba-tiba saja seorang teman memberinya pekerjaan. Tuhan selalu bekerja tanpa pemberitahuan, tetapi melalui pertanda. Pekerjaan yang diperoleh seseorang yang tadinya kesulitan, jika ia menghayati sifat-sifat ketuhanan, seharusnya secara spontan akan terdorong melakukan hal yang sama, ketika mendengar seseorang lainnya mengalami kesulitan.


Dorongan spontan untuk memberi dalam sufi tidak boleh disertai dengan keinginan untuk menerima sebaliknya. Di situlah puisi menjadi pertanda yang paling sufi dari seluruh inti kebudayaan. Puisi tak pernah meminta, tetapi telah begitu banyak memberi. Ia memberi imajinasi, ketajaman intuisi, dan kedalaman filosofi. Toh begitu, puisi tak pernah menuntut kesetiaan, apalagi pengabdian yang membabi buta. Banyak penyair keluar masuk rumah puisi; kadang datang atau seterusnya menghilang ….

Dalam satu sajak lain, Umbu menulis: //Jadi/sajak bilang apa saja pada kau/jadi buang diri kau/alhamdulillah begitu rupa kau/jadi pengembara//("Upacara XXXIII, 1980). Pengembaraan seseorang tak hanya berarti perjalanan fisik, tetapi lebih-lebih adalah pencariannya ke inti dari kata. Kau bisa terlunta-lunta karena kata, bisa pula membara karena kata.

Jadi, apa masih ada angin di Jakarta? Itu artinya Umbu bertanya tentang seberapa jauh kau telah berbuat, bukan semata menghasilkan buku-buku puisi, tetapi lebih-lebih adalah penghayatanmu pada nilai kemanusiaan yang sufistik. Sebuah nilai kemanusiaan, yang menginternalisasi sifat-sifat ketuhanan ke dalam diri. Bukankah itu inti dari semua pencarian sains, ilmu, sastra, dan filsafat? Kalaulah ia harus sampai pada titik paling jauh dari pengembaraan keilmuan, maka ia selalu berhasrat menemukan kebenaran hakikat, yakni kesempurnaan.


Kau mungkin bertanya, mengapa kita mengejar kesempurnaan? Aku bisa saja bertanya balik, untuk apa setiap hari kau bersembahyang, bukankah untuk menuju kesempurnaan hidupmu sebagia manusia? Selain menumpuk harta benda untuk kepuasaan duniawimu, bukankah pada titik tertentu kau harus menyeimbangkannya dengan kepuasaan batiniah?

Puisi adalah peristiwa batiniah. Larik-lariknya mengantarkanmu pada kedalaman imajinasi, yang akan menjadi bahan bakar bagi seluruh kreativitas yang tumbuh di dalam dirimu. Di situ, puisi akan menjadi jalan lain untuk mencapai kemanunggalan dirimu dengan zat Mahasuci, bernama "kesejatian".

Terakhir kata Umbu kepadaku, tak perlu banyak menuntut dari puisi. Kalau kau serahkan dirimu sepenuh-penuhnya, ia akan memberi seutuh-utuhnya kepadamu. Benar kan, Umbu diam-diam selalu merahasiakan kata-kata "suci" yang mampu menyulut api gelisah di dalam diriku. Jadi, apakah gunanya buku-buku yang kutulis dan sudah pula kau baca itu? Mari sama-sama kita cari jawabannya. Kelak kalau kau menemukannya lebih dulu, tolong berkabar ….

Putu Fajar Arcana
Sastrawan Indonesia asal Bali
Sarjana Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Udayana
Redaktur harian Kompas

KOMPAS, 2 September 2020

Monday, August 24, 2020

Bahasa Ajip Rosidi


Ada kelakar di antara rekan-rekan di Bandung, Jawa Barat,  tentang mengapa Ajip Rosidi, sepulang ia dari Jepang, justru memilih Magelang, Jawa Tengah, sebagai tempat kediamannya. Bukan Jakarta atau Bandung yang merupakan tempat kegiatan utamanya hingga tahun-tahun pengujung hayatnya.

Boleh jadi dia lebih sering berada di dua kota ini ketimbang di Magelang. Di Pasar Minggu, Jakarta, ada rumahnya yang lingkungannya tenang dan nyaman. Juga ada Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, yang selalu dia sempatkan diri buat mengunjungi tiap kali dia sedang berada di Jakarta. Di Bandung, ia membangun perpustakaan. Di sana juga ada lokasi usaha penerbitannya, PT Dunia Pustaka Jaya.

Khusus di Bandung, tampaknya banyak yang ia kangenkan dari masa lalu, raut kota dan paras muka teman-teman lama. Terasa bahwa dia sangat mencintai kota itu. Mungkin karena kultur dan bahasa Sunda yang setia menghidupi cekungan Priangan itu. Luar biasa cintanya dia pada kesundaan, tetapi tetap pedas kritiknya terhadap hipokrisi sosial serupa benalu yang inheren di dalam kulturnya.

Perpustakaan pribadi Ajip Rosidi di Pabelan, Magelang, Jawa Tengah. (Foto: Fadli Zon)

Jadi, kenapa ia menyusahkan diri, memaksakan badan yang menua dan digerogoti rupa-rupa penyakit, bolak-balik Magelang-Bandung-Jakarta dengan Kijangnya? Menurut celoteh yang usil, Ajip merasa perlu menjauh sebab di dua kota ini banyak "musuhnya", dari bekas-bekas polemik tentang sastra dan lain-lain.

Namanya guyon, pasti berlebihan dan tanpa batas, tapi Ajip memang keras kepala selama itu berkaitan dengan prinsip pemikiran. Ada kalanya, saking kerasnya polemik, tak ayal serangan melenceng ke luar konteks hingga menyambar soal pribadi. Tentu saja, kasus semacam ini di kancah pemikiran lazim terjadi, siapa pun orangnya.

Sebagai seorang otodidak —ini yang kerap ia banggakan: hidup tanpa ijazah, frase yang jadi judul otobiografinya— kuat kesan bahwa pada dirinya ada semacam arogansi atau sikap batin atas wawasan dan bahasa yang ia gunakan selaku penulis. Yang saya maksud bukan sombong dalam hal adab, sebab sebagai pribadi, ia hangat dan rendah hati.


Kita tahu Ajip menulis beragam genre: sajak, novel, kritik sastra dan sosial, kisah perjalanan, hingga opini politik. Wajar jika seorang sastrawan berambisi mengukuhkan sikap bahasanya, yang menurut pandangannya sendiri punya dasar yang kuat.

Biasanya, hanya editor selaku pembaca pertama draf atau naskah yang dapat mengenali sikap bahasa seorang penulis. Khalayak yang menjumpai tulisannya berupa artikel atau buku yang sudah rapi disunting editor koran, majalah, atau penerbit buku relatif berjarak buat mengenali sikap bahasa penulis yang sesungguhnya. Bahasa pada teks yang muncul di koran atau buku yang sudah dipajang di etalase sedikit banyak sudah dicampuri tangan editor, tak sepenuhnya mewakili sikap bahasa si penulis.

Kebetulan, Ajip mengelola penerbitan yang semula didirikan dengan dukungan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dan seiring berjalannya waktu dan dinamika bisnis, penerbitan itu ia kelola sendiri dan terus mencetak buku-bukunya. Boleh jadi, situasi ini memungkinkan dia mempertahankan sikap bahasa yang dia tetapkan sejak tahap draft hingga dipublikasikan.

Ong Hok Ham, Tjipta Lesmana, dan Ajip Rosidi.

Dari draft naskah dan buku-buku yang dia sunting sendiri, saya mencatat sejumlah kata yang dipakai dengan keras kepala tanpa toleransi dengan, misalnya, suasana zaman atau, sebutlah "dinamika bahasa". Beda dengan Ong Hok Ham atau Tjipta Lesmana, yang sepintas gayanya menarik, ternyata naskah aslinya memaksa editor berjibaku merapikan sebelum disajikan ke publik, draf Ajip disusun dengan kesungguhan penulis sekaligus editor cermat: kesungguhan yang memagari sikap bahasanya, termasuk kegigihannya membubuhi diakritik pada huruf /e/ untuk membedakan, misalnya, "pesan" dengan "pepesan".

Membaca draf Ajip serasa membaca teks dari zaman lampau. Kata-kata tertentu ditulis tanpa peduli tren dan sikap evaluatif, misalnya "sistim" (bukan "sistem"), "sipat" (bukan "sifat"), "masarakat" (bukan "masyarakat"), "sastera" (bukan "sastra") —tapi pada catatan saya, ia tak menulis "Inggeris", entahlah. Ia menolak pengembalian "kuatir" ke lafaz Arab "khawatir". Ia tulis "ahir" (bukan "akhir"); "sekedar" (bukan "sekadar"). Ia gigih dengan diakritik, maka ia tulis "modren" (bukan "modern")— antara 2017 dan 2019, sekilas saya lihat Goenawan Mohamad di media sosial menyinggung pentingnya diakritik bagi /e/, meski ia tak menyebut nama Ajip.

Tampak kuat kecenderungan Ajip memformalkan ragam lisan sehari-harinya pada tulisannya, sebagai contoh: "tadinya" (untuk "semula"); "dirobah" dan "merobah" (bukan "diubah" dan "mengubah" menurut ejaan yang baku). Eksesnya, kelisanan Ajip mendominasi bahasa tulisnya, misalnya ia gunakan koma bukan untuk memisahkan unsur-unsur dalam perincian, atau pemisah anak kalimat yang mendahului induk kalimat, melainkan sebagai jeda jika kalimat dianggap terlalu panjang, untuk bernapas, sonder peduli batasan subyek dan predikat.


Kasus ini bertebaran di berbagai tulisannya, tapi cukup saya petik dari "Mengatasi berbagai Masalah Bahasa Indonesia", artikel dari kolom bahasa setiap pekan di koran yang kemudian dibukukan. Perhatikan penempatan koma pada empat kalimat berikut: "Bahwa hal itu telah terjadi, menunjukkan bahwa pelajaran bahasa Indonesia kita tidak berhasil." "Selama ini telah diakui, bahwa bahasa pers besar pengaruhnya bagi perkembangan bahasa nasional." "Harus diakui bahwa para anak didik khususnya dan masyarakat umumnya lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca majalah." "Dari bahasa yang digunakan kelihatan bahwa sekalipun wartawan surat kabar terkemuka, kurang banyak membaca."

Pada Ajip, pengertian arbitrer dalam bahasa sedemikian luasnya sehingga dia membolehkan dirinya membikin sistem sendiri tanpa memusingkan sistematika berfondasi kaidah tertentu yang bukan hanya konsisten, tetapi juga harus punya akar kuat bagi perkembangan bahasa di dalam zaman yang kesetanan menantang kelembaman semua bahasa dunia saat ini. Kecuali dalam hal diakritik pada aksara /e/.

Kurnia JR,
Pujangga
KOMPAS, 11 Agustus 2020


Biografi Singkat Ajip Rosidi

Ajip Rosidi, dibaca dengan ejaan baru: Ayip Rosidi, lahir di Jatiwangi, Jawa Barat, 31 Januari 1938 – meninggal di Magelang, 29 Juli 2020 pada umur 82 tahun. Beliau adalah salah seorang sastrawan Indonesia, penulis, budayawan, dosen, pendiri, dan redaktur beberapa penerbit, juga pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage.

Pendidikan
Ajip Rosidi mulai menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Jatiwangi (1950), lalu melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953) dan terakhir, Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956). Meski tidak tamat sekolah menengah, namun dia dipercaya mengajar sebagai dosen di perguruan tinggi Indonesia, dan sejak 1967, juga mengajar di Jepang. Pada 31 Januari 2011, ia menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

Aktris senior Nani Wijaya (72) resmi diperistri sastrawan Ajip Rosidi (79). Akad nikah dilaksanakan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (16/4/2017).

Proses kreatif
Ajip mula-mula menulis karya kreatif dalam bahasa Indonesia, kemudian melakukan telaah dan menulis komentar tentang sastra, bahasa dan budaya, baik berupa artikel, buku atau makalah dalam berbagai pertemuan di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Ia banyak melacak jejak dan tonggak alur sejarah sastra Indonesia dan Sunda, menyampaikan pandangan tentang masalah sosial politik, baik berupa artikel dalam majalah, berupa ceramah atau makalah. Dia juga menulis biografi seniman dan tokoh politik.

Ia mulai mempublikasikan karya sastranya tahun 1952, dimuat dalam majalah-majalah terkemuka pada waktu itu seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang, Siasat Indonesia, Zenith, Kisah, dll. Menurut penelitian Dr. Ulrich Kratz (1988), sampai dengan tahun 1983, Ajip adalah pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif di Indonesia karena telah menghasilkan 326 judul karya yang dimuat dalam 22 majalah.

Bukunya yang pertama, berjudul “Tahun-tahun Kematian” terbit ketika usianya baru 17 tahun (1955), diikuti oleh kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda, yang jumlahnya sekitar seratus judul.

Karyanya banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bunga rampai atau terbit sebagai buku, a.l. dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perancis, Kroatia, Rusia, dll.


Aktivitas
Pada umur 12 tahun, saat masih duduk di bangku kelas VI Sekolah Rakyat, tulisan Ajip telah dimuat dalam ruang anak-anak pada harian Indonesia Raya.

Sejak SMP Ajip sudah menekuni dunia penulisan dan penerbitan. Ia menerbitkan dan menjadi editor serta pemimpin majalah Suluh Pelajar (1953-1955). Pada tahun 1965-1967 ia menjadi Pemimpin redaksi Mingguan Sunda; Pemimpin redaksi majalah kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979); Pendiri penerbit Pustaka Jaya (1971). Mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam Carita Pantun dan mempublikasikannya (1970-1973).

Bersama kawan-kawannya, Ajip mendirikan penerbit Kiwari di Bandung (1962), penerbit Cupumanik (Tjupumanik) di Jatiwangi (1964), Duta Rakyat (1965) di Bandung, Pustaka Jaya (kemudian Dunia Pustaka Jaya) di Jakarta (1971), Girimukti Pasaka di Jakarta (1980), dan Kiblat Buku Utama di Bandung (2000). Terpilih menjadi Ketua IKAPI dalam dua kali kongres (1973-1976 dan 1976-1979). Menjadi anggota DKJ sejak awal (1968), kemudian menjadi Ketua DKJ beberapa masa jabatan (1972-1981). Menjadi anggota BMKN 1954, dan menjadi anggota pengurus pleno (terpilih dalam Kongres 1960). Menjadi anggota LBSS dan menjadi anggota pengurus pleno (1956-1958) dan anggota Dewan Pembina (terpilih dalam Kongres 1993), tetapi mengundurkan diri (1996). Salah seorang pendiri dan salah seorang Ketua PP-SS yang pertama (1968-1975), kemudian menjadi salah seorang pendiri dan Ketua Dewan Pendiri Yayasan PP-SS (1996). Salah seorang pendiri Yayasan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin (1977).

Sejak 1981 diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daigaku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehidupan sastra-budaya dan sosial-politik di tanah air dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan Hadiah Sastra Rancagé setiap tahun, yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya.

Setelah pensiun ia menetap di desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Meskipun begitu, ia masih aktif mengelola beberapa lembaga nonprofit seperti Yayasan Kebudayaan Rancagé dan Pusat Studi Sunda. Pada tahun 2008, beberapa sastrawan mengapresiasi karyanya yang dituangkan dalam buku berjudul Jejak Langkah Urang Sunda 70 Tahun Ajip Rosidi.


Karya-karyanya
Ada ratusan karya Ajip. Beberapa di antaranya:
1. Tahun-tahun Kematian (kumpulan cerpen, 1955)
2. Ketemu di Jalan (kumpulan sajak bersama SM Ardan dan Sobron Aidit, 1956)
3. Pesta (kumpulan sajak, 1956)
4. Di Tengah Keluarga (kumpulan cerpen, 1956)
5. Sebuah Rumah buat Hari Tua (kumpulan cerpen, 1957)
6. Perjalanan Penganten (roman, 1958, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh H. Chambert-Loir, 1976; Kroatia, 1978, dan Jepang oleh T. Kasuya, 1991)
7. Cari Muatan (kumpulan sajak, 1959)
8. Membicarakan Cerita Pendek Indonesia (1959)
9. Surat Cinta Enday Rasidin (kumpulan sajak, 1960);
10. Pertemuan Kembali (kumpulan cerpen, 1961)
11. Kapankah Kesusasteraan Indonesia lahir? (1964; cetak ulang yang direvisi, 1985)
12. Jante Arkidam jeung salikur sajak lianna (kumpulan sajak, bahasa Sunda, 1967);
13. Jeram (kumpulan sajak, 1970);
14. Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia (1969)
15. Ular dan Kabut (kumpulan sajak, 1973);
16. Sajak-sajak Anak Matahari (kumpulan sajak, 1979, seluruhnya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh T. Indoh, dan dimuat dalam majalah Fune dan Shin Nihon Bungaku (1981)
17. Manusia Sunda (1984)
18. Anak Tanah Air (novel, 1985, diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh Funachi Megumi, 1989)
19. Nama dan Makna (kumpulan sajak, 1988)
20. Sunda Shigishi hi no yume (terjemahan bahasa Jepang dari pilihan keempat kumpulan cerita pendek oleh T. Kasuya 1988)
21. Puisi Indonesia Modern, Sebuah Pengantar (1988)
22. Terkenang Topeng Cirebon (kumpulan sajak, 1993)
23. Sastera dan Budaya: Kedaerahan dalam Keindonesiaan (1995)
24. Mimpi Masa Silam (kumpulan cerpen, 2000, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang)
25. Masa Depan Budaya Daerah (2004)
26. Pantun Anak Ayam (kumpulan sajak, 2006)
27. Korupsi dan Kebudayaan (2006)
28. Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam dalam Kenangan (otobiografi, 2008)
29. Ensiklopédi Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya (2000)

Disamping itu, Ajip juga menulis drama, cerita rakyat, cerita wayang, bacaan anak-anak, lelucon, dan memoar serta menjadi penyunting beberapa bunga rampai.


Penghargaan
1. Hadiah Sastera Nasional 1955-1956 untuk puisi (diberikan tahun 1957) dan 1957-1958 untuk prosa (diberikan tahun 1960).
2. Hadiah Seni dari Pemerintah RI 1993.
3. Kun Santo Zui Ho Sho ("Bintang Jasa Khazanah Suci, Sinar Emas dengan Selempang Leher") dari pemerintah Jepang sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang dinilai sangat bermanfaat bagi hubungan Indonesia-Jepang 1999.
4. Anugerah Hamengku Buwono IX 2008 untuk berbagai sumbangan positifnya bagi masyarakat Indonesia di bidang sastera dan budaya.
5. Doktor Honoris Causa (HC) untuk Program Studi Budaya, Fakultas Sastra dari Universitas Padjadjaran, Bandung.

Sumber:
Wikipedia bahasa Indonesia,
Ensiklopedia bebas
https://id.wikipedia.org/wiki/Ajip_Rosidi