Showing posts with label WHO. Show all posts
Showing posts with label WHO. Show all posts

Wednesday, February 19, 2020

Resesi Ekonomi Global Kian Nyata


Krisis ekonomi global dalam waktu dekat kian nyata pascaraksasa ekonomi dunia itu limbung dihantam virus korona tipe baru.

Jumlah korban meninggal akibat virus korona (COVID-19) di seluruh dunia, Kamis (13/2/2020), sudah mencapai 1.383 orang.

Total penduduk di seluruh dunia yang terjangkit virus korona tipe baru hingga pukul 15.00 telah mencapai 64.441 orang.

Epidemi virus korona kian meresahkan warga dunia. Pasalnya, sejak 11 Februari 2020, untuk pertama kalinya korban meninggal akibat virus korona mencapai tiga digit dalam kurun waktu 24 jam, yakni 108 orang. Tragedi ini merupakan yang pertama pasca-merebaknya virus itu di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, pada Desember 2019.


Epidemi korona jauh lebih dahsyat dari kasus serangan pernapasan akut berat (SARS) pada tahun 2002-2003, yang menelan korban sekitar 800 jiwa. Sementara korban virus korona tipe baru hanya dalam waktu dua bulan mencapai 1.000 jiwa lebih dan menginfeksi hingga puluhan ribu orang, mayoritas di China daratan dan sebagian warga dunia.

Kasus yang menakutkan ini mendorong Presiden Joko Widodo menggelar rapat terbatas membahas antisipasi penyebaran dan ancaman resesi ekonomi global. Presiden meminta kepada seluruh pembantunya mengikuti perkembangan secara saksama dan mewaspadai kemungkinan memburuknya ekonomi dunia.

Kini suasana muram mulai dirasakan dunia setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan darurat kesehatan dunia pada akhir Januari 2020 yang membuat Dana Moneter Internasional (IMF) ketar-ketir.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, seperti dikutip CNBC, Rabu (12/2/2020), meramalkan, dampak virus korona tipe baru jauh lebih buruk daripada epidemi SARS.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva.

Kekhawatiran itu sangat masuk akal, menurut Faisal Basri di Tjokro TV pada pekan kedua Februari. Sebab, China saat ini bukan hanya negara dengan penduduk terbesar di dunia, tetapi China adalah gravitasi perekonomian dunia.

China telah menjelma menjadi raksasa dengan nilai perdagangan terbesar di dunia dan pasar untuk berbagai kategori barang konsumsi dan barang mewah di dunia.

Oleh sebab itu, kata Faisal Basri, persoalan ini menjadi krusial khususnya bagi Pemerintah China dan dunia. Sebab, dampak penyebaran virus korona yang harus diatasi Pemerintah China bukan hanya faktor ekonomi teknis semata, melainkan juga faktor psikologis yang jauh lebih berat.

Apabila dunia, khususnya Indonesia, resah menghadapi persoalan ini sangat bisa dipahami. Sebab, dampak pelemahan aktivitas di China akan memukul kinerja ekonomi dunia, mengingat pertumbuhan perdagangan dan industri China yang melesat.

Pakar Ekonomi, Faisal Basri.

Raksasa ekonomi
Simak saja data perkembangan ekonomi China pada tahun 2003, masih di urutan keenam dunia dengan tingkat produk domestik bruto (PDB) sebesar 1,7 triliun dollar AS atau sekitar sepertujuh dari PDB Amerika Serikat.

Namun, berselang 15 tahun kemudian PDB China melonjak menjadi 13,6 triliun dollar AS sehingga menjadikan "Negeri Panda" ini terbesar kedua setelah AS. Rentang PDB antara China dan AS semakin sempit, tinggal 1,5 kali lipat.

Setahun kemudian, tepatnya 2019, PDB "Negeri Tirai Bambu" ini sudah menjadi 14,55 triliun dollar AS atau nyaris sama dengan PDB seluruh negara Uni Eropa. China benar-benar digdaya dan tidak ada satu pun negara di dunia yang mampu menandingi nilai perdagangan China.

Nilai perdagangan China (ekspor-impor) pada tahun 2018 mencapai 4,6 triliun dollar AS. Jumlah ini melampaui nilai perdagangan AS yang mencapai 4,3 triliun dollar AS.

Hubungan dagang China juga kian menguat dengan negara-negara besar di dunia, termasuk AS, Jepang, dan India yang merupakan negara importir terbesar produk China.


Pertumbuhan perdagangan dan industri yang begitu besar membuat China menjadi importir minyak terbesar di dunia. Namun, karena aktivitas industri dan jasa melorot, membuat permintaan minyak dunia merosot. Imbasnya, dalam empat minggu terakhir langsung terlihat harga jual minyak dunia menurun.

Pada satu sisi, kondisi ini menguntungkan Indonesia karena bisa memotong komponen biaya produksi untuk energi. Namun, di sisi lain, penurunan ini justru berdampak signifikan terhadap penerimaan negara karena ada bagi hasil migas dalam APBN. Hal ini dikhawatirkan akan menekan neraca perdagangan luar negeri Indonesia.

Demikian juga dengan pariwisata dunia yang terancam turun. Menurut data Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) tahun 2018, wisatawan China yang melakukan perjalanan ke dunia mencapai 150 juta orang dengan nilai belanja 277 miliar dollar AS atau setara Rp 3.739,5 triliun (kurs Rp 13.500 per dollar AS) dolar AS. Posisi kedua ditempati AS dengan nilai belanja separuhnya, yakni 144 miliar dollar AS.

Bagi Indonesia, serangan virus ini juga akan berdampak menurunkan jumlah wisatawan. Data menunjukkan, tahun 2018 wisatawan dari China ke Indonesia mencapai 2,1 juta orang. Jumlah wisatawan China ini sekitar 13,5 persen dari total wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia atau kedua setelah Malaysia.

Ekonomi Indonesia belum meroket, masih tekor.

Kekhawatiran Indonesia
Jika persoalan korona ini berlangsung dalam tiga bulan hingga satu semester ke depan, akan membuat kinerja ekonomi Indonesia melorot. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2020 sebesar 5,3 persen sulit tercapai. Menembus angka 5 persen saja itu sudah merupakan prestasi yang luar biasa.

Kekhawatiran itu karena China saat ini merupakan salah satu investor terbesar Indonesia. China juga merupakan pasar ekspor terbesar bagi produk agroindustri curah atau mentah, barang tambang, dan produk manufaktur lain bagi Indonesia.

Impor terbesar untuk bahan baku dan bahan penolong, khususnya untuk manufaktur otomotif roda dua, empat atau lebih, elektronika, tekstil dan produk tekstil, mainan, kayu, baja, produk pertanian dan olahan, serta buah-buahan, juga dari China.

Dengan demikian, jika penurunan impor ini berlangsung dalam waktu yang lama, akan menurunkan kemampuan produksi industri manufaktur Indonesia.


Penurunan aktivitas produksi juga akan mendorong pengurangan waktu kerja karena hilangnya aktivitas produksi yang akhirnya akan mendorong pemutusan hubungan kerja buruh berbagai industri manufaktur.

Hal ini akan menurunkan daya beli dan kegiatan ekonomi lainnya. Praktis akan berdampak pada penurunan penerimaan negara dari pajak dan kegiatan jasa keuangan lainnya. Secara keseluruhan akan membuat kinerja ekonomi Indonesia semakin lesu.

Padahal, tahun 2019, defisit neraca perdagangan Indonesia masih 3,196 miliar dollar AS. Hal ini menunjukkan, berbagai strategi kebijakan yang dilakukan pemerintah selama ini belum efektif.

Di tengah situasi ketakutan akan krisis ekonomi yang kian menghantui, Pemerintah Indonesia melihat adanya ketidakpastian dan risiko global yang sangat besar. Berbagai masalah itu terjadi sangat cepat dan tidak dapat diprediksi waktunya.


Padahal, tahun 2020 sebenarnya berpotensi menjadi tahun pemulihan pasca-perang dagang antara AS dan China. Dua raksasa ekonomi ini telah memberikan sinyal positif pada Desember 2019 karena China dan AS sudah masuk dalam perjanjian perdamaian dagang termin pertama.

Oleh sebab itu, kabar meningkatnya cadangan devisa Indonesia pada Januari dibandingkan bulan sebelumnya menjadi tanda tanya besar. Cadangan devisa Indonesia pada Januari 2020 mencapai 131,7 miliar dollar AS atau naik 2,5 miliar dollar AS dibandingkan bulan Desember 2019.

Melonjaknya cadangan devisa itu merupakan prestasi atau justru sinyal awal kelesuan ekonomi. Sebab, meningkatnya cadangan devisa ibarat pisau tajam bermata dua. Melonjaknya devisa karena prestasi ekspor Indonesia yang meningkat tajam sehingga menghasilkan devisa besar.

Mungkinkah hal itu justru fenomena sebaliknya karena belum dibelanjakan atau memang tidak bisa dibelanjakan. Kondisi itu sebagai akibat dari ketakutan melakukan kegiatan dagang dengan China.


Mungkin juga cadangan itu belum digunakan karena adanya larangan dari pemerintah untuk tidak melakukan perdagangan dengan China untuk sementara waktu.

Dengan begitu, semua pihak, termasuk pemerintah, wajib melihat seluruh fenomena dan fakta itu dengan jeli. Jangan sampai membaca data meningkat sebagai sinyal positif, padahal kondisi itu justru fakta negatif awal terjadinya krisis ekonomi global.

Sebab, perlu diingat, Indonesia adalah negara dengan tingkat pengimpor bersih untuk segala urusan, mulai dari makanan, bahan baku industri, energi, hingga jasa wisata.

Banu Astono,
Wartawan harian Kompas tahun 1991-2019
KOMPAS, 13 Februari 2020

Sunday, May 15, 2016

Orangtua Abad Digital


Menjadi orangtua di masa kini sungguh tidak mudah. Manusia sudah demikian banyak. Untuk dapat bertahan hidup, kita harus sangat siap berkompetisi dan bekerja keras karena biaya hidup semakin hari semakin membubung tinggi.

Hidup makin tegang dengan jarak rumah yang semakin jauh dari tempat kerja. Jam kerja yang lebih panjang daripada sebelumnya, dan ditambah lagi, kemacetan di jalan raya. Mal dan kungkungan beton menggantikan alam terbuka sebagai tempat rekreasi dan teknologi informasi telah mengubah cara kita berinteraksi. Belum lagi setiap hari kita membaca berita menakutkan, seperti penjualan narkoba yang dikemas menarik untuk anak-anak, kekerasan seksual, dan banyak berita buruk lagi yang lainnya.

Dengan kesempatan untuk mendampingi dan mengawasi anak yang makin terbatas, jadilah orangtua merasa bingung, serba salah, panik dan tak berdaya. Belum lagi ketika tidak ada dukungan atau bahkan banyak dipersalahkan oleh lingkungan.


Lima peran orangtua
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan buku Helping Parents in Developing Countries Improve Adolescents' Health (2007), menjelaskan temuan program dan penelitian di 34 negara yang dapat kita ambil sebagai model pembelajarannya.

Marilah mengatur napas untuk menghilangkan rasa panik dan dengan tenang mempelajari bahwa peran orangtua, atau orang dewasa yang mendampingi anak, memiliki lima dimensi. Orangtua perlu (a) memastikan keterhubungan dengan anak (koneksi, kasih sayang), (b) mengajarkan batasan berperilaku, (c) menjadi teladan berperilaku yang tepat, (d) menghormati individualitas anak, serta (e) menyediakan kebutuhan sekaligus melindungi anak.

Anak dan remaja yang merasa ditolak, tidak dipedulikan, atau diperlakukan menyakitkan akan tumbuh dengan perasaan marah, rasa diri kurang berharga, dan emosi yang tidak stabil. Mereka lebih mudah masuk dalam perilaku berisiko, seperti narkoba, melampiaskan kemarahan lewat kekerasan, atau lebih dini melakukan hubungan seksual. Sebaliknya, yang merasa diterima oleh orangtua akan kurang tertarik untuk melakukan berbagai perilaku berisiko, mampu berkata tidak terhadap ajakan seksual, dan lebih mampu mengembangkan jati diri.

Kasih sayang dan keterhubungan perlu dibarengi dengan peran orangtua dalam mengajarkan batasan perilaku. Menyayangi bukan berarti memanjakan atau selalu mengiyakan keinginan anak. Mengajarkan batasan bukan pula berarti memarah-marahi, melarang-larang, atau tidak mempercayai anak. Menyayangi berarti orangtua tahu teman dari anak, dengan siapa anak pergi (apalagi di malam hari), apa yang dilakukan anak di waktu senggang. Orangtua memantau, mensupervisi, memberlakukan aturan yang sehat ––tidak terlalu ketat, tapi juga jangan terlampau longgar–– serta memberikan sanksi yang wajar dan tepat untuk perilaku yang salah.


Pengetahuan dan pantauan dari orangtua akan meminimalkan terjadinya berbagai perilaku berisiko, seperti penggunaan obat dan alkohol, kekerasan, aktivitas seksual, pelanggaran hukum, ataupun persoalan-persoalan di sekolah.

Orangtua sering lupa bahwa meskipun anaknya berusia kanak-kanak atau remaja, orangtua tetap harus bisa menghormati anak sebagai pribadi. Orangtua perlu menahan diri untuk tidak terlalu mengatur atau mengendalikan anak. Orangtua perlu memberi kepercayaan kepada anak (misal: dalam memilih hobi atau aktivitas), membiarkan anak memiliki waktu pribadi, serta tidak membanding-bandingkan anak secara tidak adil dengan anak lain.

Dengan cara di atas, orangtua dapat membantu anak mengenal diri, mengembangkan jati diri, cita-cita dan tujuan hidup, serta tanggung jawab atas diri sendiri. Anak yang merasa sangat diatur-atur dan tidak dipercaya mungkin dapat kehilangan kepercayaan diri atau bahkan akan mengembangkan masalah-masalah, seperti depresi atau melarikan diri kepada berbagai perilaku berisiko.

Hal penting yang juga sering dilupakan para orangtua adalah menjadi teladan perilaku positif. Memiliki orangtua yang berperilaku positif membuat anak memiliki contoh yang juga positif mengenai bagaimana berhubungan dan memperlakukan orang lain, bagaimana bersikap dan bertanggung jawab, bagaimana menangani persoalan dan menyelesaikan konflik. Jika kita sendiri berperilaku kacau dan tidak dapat diteladani, bagaimana mungkin dapat mengharap anak-anak kita berperilaku terpuji?


Dukungan bagi orangtua
Hal yang sulit bagi sebagian orangtua adalah memenuhi berbagai kebutuhan anak dan menyediakan lingkungan yang melindungi karena kondisi dan pendapatan orangtua yang terbatas. Misalnya, terpaksa tinggal di lingkungan yang kurang aman, anak bersekolah di sekolah yang kurang baik, atau orangtua tinggal terpisah.

Jika demikian halnya, orangtua perlu mencarikan sumber daya yang dapat mengkompensasi keterbatasan itu. Misalnya, berhubungan lebih intensif dengan guru, meminta dukungan dari keluarga besar, atau mengembangkan sikap saling dukung di antara tetangga. Dalam berbagai keterbatasan, sebaiknya orangtua tetap berupaya maksimal menjalankan peran-peran yang ada, termasuk mendampingi anak dalam belajar. Keikutsertaan orangtua dalam pencapaian pendidikan anak terbukti meningkatkan aspirasi keberhasilan anak.

Agar anak dan remaja dapat tumbuh kembang dengan optimal, tampaknya pemerintah dan kelompok-kelompok dalam masyarakat perlu membantu dengan menyediakan program yang dapat mengoptimalkan peran orangtua dan keluarga dalam mendampingi anak. Orangtua perlu paham mengenai isu-isu anak dan remaja, terampil berkomunikasi dengan anak, serta paham pula bagaimana mengelola tekanan hidup dan stresnya sendiri sebagai orang dewasa dan orangtua. Orangtua perlu saling terhubung dengan para orangtua lain dan dengan berbagai layanan yang tersedia. Dalam setiap kesempatan, selalu tunjukkan bahwa ayah dan ibu bekerja sama saling mendukung dalam mendidik anak.

Dunia memang sedang berubah sangat pesat dengan karakteristik tantangan yang berbeda dan lebih kompleks daripada masa sebelumnya. Kita sulit menyelesaikan masalah dengan kembali ke cara lama. Namun menyalah-nyalahkan orangtua juga dapat membuat orangtua makin bertambah panik dan tidak efektif dalam menjalankan perannya.

Untuk itu dibutuhkan konsep baru dalam rangka menguatkan keluarga dan memastikan anak serta remaja dapat tumbuh dan berkembang secara optimal agar menjadi generasi masa depan yang mampu menjaga dan memajukan masyarakatnya.

Kristi Poerwandari,
Penulis Kolom PSIKOLOGI Kompas Sabtu
KOMPAS, 8 Mei 2016