Tuesday, November 13, 2018

Perabot Rongsok dari Yunani


Tulisan ini terinspirasi setelah melihat di rak Gramedia sebuah buku yang sudah lama pernah dibaca dan sekarang buku itu hilang entah dipinjam atau memang hilang.

Konon Zaman Orba dulu buku tersebut dilarang tapi sekarang banyak beredar di toko-toko buku bahkan teks asli dalam bentuk pdf juga sudah banyak di internet.

Inilah klaim Max I Dimont si penulis buku tersebut, dalam penggalan kata pengantar bukunya, Jews, God and History, “Perabotan Dunia Barat adalah Yunani, namun rumah tempat mereka tinggal adalah Yahudi.


Kutipan utuh salah satu paragraf dalam kata pengantar buku tersebut sebagai berikut: “The real history of the Jews has not yet been written. It took Europe sixteen hundred years after the decline of Greece to realize that her literature, science, and architecture had their roots in Grecian civilization. It may take another few hundred years to establish that the spiritual, moral, ethical, and ideological roots of Western civilization are embedded in Judaism. To put it differently –the furniture in the Western world is Grecian, but the house in which Western man dwells is Jewish. This is a viewpoint which is beginning to appear more and more in the writings of both churchmen and secular scholars.

Salah satu ‘Perabot’ yang dibangga-banggakan oleh Barat kepada dunia adalah ‘Demokrasi’ !!!

Hampir semua sistem tatanan sosial atau negara yang melibatkan partisipasi rakyat, oleh Dunia Barat di klaim sebagai sistem Demokrasi.


Klaim para intelektual Barat terhadap Demokrasi itu bisa dibaca di buku yang ditulis Mbah-nya guru politik Indonesia, Prof Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, halaman 105, berikut penggalannya: “Probably for the first time in history democracy is claimed as the proper ideal description of all systems of political and social organizations advocated by influential proponets.

Dan kita ikutan-ikutan membeo seolah tak percaya diri, ‘sistem ketatanegaraan berdasar Pancasila’ dengan ‘Musyawarah Mufakat’, dan ‘Perwakilan’ dilabeli Demokrasi. Yah, mirip-mirip pedagang, biar keren, ke barat-baratan, ‘wedang Jahe’ dilabeli ‘coffee ekspresso’. Ini sekedar contoh ekstrim untuk menggambarkan betapa besar perbedaan antara Sistem Politik Pancasila dengan Sistem Demokrasi.

Kenapa, kita bangsa Indonesia minder dengan ‘Perabotan/Produk lokal dalam negerinya sendiri yaitu Pancasila?’ Seolah kalau tak dilabeli demokrasi, kita dianggap kuper, terbelakang, bodoh, dekaden, tiran, dan segerombol julukan lainnya.


Pasca gempa Lombok kemarin, kita baru ngeh bahwa, kita sering mengabaikan ‘pengetahuan-pengetahuan lokal’ (local wisdom) yang dimiliki bangsa ini yang diwariskan dari para pendahulu sebagai teknologi antisipasi bencana. Kita baru sadar bahwa rumah-rumah adat zaman dulu walaupun dari kayu rupanya lebih tahan gempa dibandingkan rumah tembok sekarang.

Kita punya Pancasila sebagai warisan dan konsensus bernegara. Kita punya spirit Ketuhanan yang tinggi bahkan kita mengakui kemerdekaan bangsa ini sebagai rahmat serta anugerah Ilahi.

Kita punya semangat Keadilan, sama rata sama rasa. Sehidup semati sebagaimana dulu dicontohkan oleh para pahlawan ketika menghadapi penjajah. Senasib sepenanggungan.

Kita punya semangat Persatuan, bukan perpecahan. Semangat perlombaan bukan pertandingan.

Gotong Royong dan Musyawarah Mufakat adalah local wisdom Indonesia.

Kita punya semangat Gotong Royong (kolaborasi) bukan kompetisi yang saling mengalahkan, apalagi diiringi caci maki dan buli (inget pil-pilan, copras-capres sekarang ya ....)

Kita punya semangat Musyawarah Mufakat berdasar nalar-nalar Hikmah Kebijaksanaan bukan nalar-nalar Demokrasi, yang selalu mengukur kebenaran dan kemenangan dari ukuran kuantitas. Hukum rimba modern, yang paling banyak dan kuat, dia yang menang.

Nalar Hikmah Kebijaksanaan ala Pancasila membawa kita kepada pemahaman bahwa Kekuasaan adalah Amanat dan Fitrah dari Tuhan, oleh karena itu mari kita kelola dengan amanah bukan jadi ajang perebutan.


Nalar Demokrasi yang berpangkal pada ajaran teori politik Barat yang sampai kepada para intelektual bangsa ini adalah “kekuasaan itu harus diperebutkan.” Karena nalar ini, setiap kali pemilihan pemimpin, maka hampir pasti selalu terjadi keributan dengan berbagai skalanya. Dan sebagai wujud pelaksanaan dari nalar itu, maka harus dibentuk Partai Politik sebagai sarana perebutan dan ajang bagi-bagi kekuasaan.

Apakah ini wujud inferioritas para intelektual bangsa ini terhadap propaganda atau hegemoni wacana intelektual dari dunia Barat? Sehingga apapun wacana dari Barat kita hanya bisa mengekor, membebek dan membeo? Dan lebih parahnya lagi bagai kerbau dicokok hidungnya.

Bangsa ini harus sadar bahwa “gempa-gempa sosial, budaya dan politik” yang melanda bangsa Indonesia akhir-akhir ini adalah konsekuensi logis dari pilihan bangsa ini yang lebih mengutamakan Demokrasi ala Barat dan melupakan azas Musyawarah Mufakat sebagai warisan budaya bangsa sendiri.

Kita sering lupa bahwa “Rumah Pancasila” dengan segala ‘Perabotannya’ sejatinya lebih cocok pada bangsa ini yang memang punya karakter-karakter luhur seperti: kekeluargaan dan tidak individualis, gotong royong/kolaborasi bukan kompetisi, tenggang rasa, tolong menolong, cinta perdamaian bukan perpecahan, toleransi, sama rasa, sepenanggungan, dll. Bangsa ini yang punya  keanekaragaman tinggi, yang sangat rawan dengan gempa-gempa sosial, budaya dan politik membutuhkan ‘Rumah’ dan ‘Perabotan’ yang tahan terhadap aneka macam gempa itu.


Bangsa ini tidak sadar, bahwa “Perabotan rumah tangga yang diimpor dari Barat” dengan ujud Demokrasi Liberal yang kita bangga-banggakan selama ini, justru menimbulkan kegaduhan dan gempa-gempa politik. Muncul karakter-karakter aneh yang sebelumnya tidak pernah terlihat. Fenomena ‘Cebong’ dan ‘Kampret’ mungkin bisa mewakili situasi ini. Belum lagi sikap saling membuli dan nyinyir yang tak habis-habis. Bahkan, bencana yang menimpa bangsa ini, bukannya menumbuhkan rasa persatuan dan solidaritas yang kuat melainkan malah menambah perpecahan. Bencana dijadikan ajang saling memojokkan, kampanye pilpres dan saling nyinyir. Astaghfirullaah ....

Kita lupa bahwa demokrasi yang sekarang diambil adalah dari reruntuhan peradaban Yunani Kuno. Reruntuhan yang sudah sekian lama terkubur dan mungkin saja ‘Perabotan’ yang kita ambil dari reruntuhan itu sebenarnya sudah jadi “rongsokan” sejarah.

Bangsa yang kurang pede terhadap potensi dirinya, biasanya memang lebih senang kepada segala sesuatu yang berbau impor, walaupun barang yang diimpor itu barang bekas atau bahkan barang rongsokan.

Ahmad Syafiudin
Salam Ahad Bahagia dari bekas, 21 Oktober 2018.

NB: Jika ada yang kurang berkenan dengan diksi yang saya pakai mohon dimaafkan dan jangan terlalu ambil hati, sebenarnya bukan untuk membuat sakit hati apalagi antipati tapi hanya  sekedar menstimulasi ranah kognisi sambil ngopi pagi.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10215030092484714&id=1202074435