Monday, September 26, 2016

Jangan ikuti Cak Nun, jangan .…


Ini bukan kampanye rokok. Saya tidak akan menganjurkan Anda sekalian untuk merokok. Saya bahkan tidak meminta Anda menjadi pengikut saya. Saya tidak perlu dan tidak mau diikuti, karena saya hanya pengikut Nur Muhammad saw.

Sejak menulis tentang Cak Nun dan Kiai Kanjeng, April silam, beberapa kawan mengirimkan pertanyaan lewat email, inbox di Facebook, dan SMS kepada saya. Poin pertanyaannya hampir sama: “Mengapa saya [tiba-tiba] menulis tentang Cak Nun? Berkali-kali, dan untuk kepentingan apa?” Semua pertanyaan itu tidak saya jawab, karena saya bermaksud menjelaskannya lewat tulisan. Tulisan yang sedang Anda baca ini.

Saya mengikuti Cak Nun dan Kiai Kanjeng sebab diongkosi seorang kawan, dan perkara ini sebetulnya sudah saya jelaskan di tulisan pertama saya [lihat: Dan para petani tembakau itu memeluk Cak Nun]. Dia tahu saya tidak punya penghasilan tetap, dan tampaknya berusaha untuk menyenangkan saya, membantu agar saya bertahan hidup. Soal apakah dia punya kepentingan atau tidak, tentu hanya dia yang tahu. Andaipun punya kepentingan, yang saya tahu kemudian, kawan saya itu merencanakan penulisan sebuah buku tentang Cak Nun, dan meminta saya untuk menuliskannya.

Tentu saya senang. Bagi saya, rencana penulisan buku tentang Cak Nun adalah sebuah niat baik, dan saya tidak pernah mampu menolak niat baik, setidaknya saya berusaha untuk tidak bersangka-sangka. Reportase tentang pengajian Cak Nun yang saya tulis beberapa kali, hanya sebagai bagian dari buku yang direncanakan oleh kawan saya itu.


Dia, seperti halnya saya, juga sedang mengalami proses kebatinan yang luar biasa. Mungkin karena faktor umur meski usianya jauh lebih muda dari usia saya. Pada suatu subuh, dia misalnya pernah mengutarakan pada saya, ingin hapal Al-Quran. Dia juga beberapa kali hadir di acara pengajian Cak Nun di Yogyakarta dan di beberapa kota lainnya. Beberapa kali, dia juga bercerita tentang perjalanan hidupnya yang penuh warna. Ditikam pengkhianatan, dibanting oleh kemunafikan, diterkam kerakusan. Dia berdiri tegar, sebab dia yakin, yang dilakukannya, sejauh ini, tidak dilandasi niat buruk, dan dia memang banyak membantu sahabat-sahabatnya, termasuk saya.

Lalu, setiap kali saya menyampaikan terima kasih kepadanya karena telah banyak membantu saya, termasuk menghibur saya dengan memperjalankan ke beberapa kota dan memberi kesempatan untuk menulis sebuah buku tentang Cak Nun, dia biasanya hanya [akan] selalu menjawab pendek: “Bagi-bagi rezeki Cak,” atau “Bantu apa Cak?

Saya tahu, Allah bertanggungjawab terhadap semua ciptaannya termasuk dalam soal rezeki saya, tapi setiap kali kawan saya mengatakan hal itu, saya selalu membisu. Tak mampu mengucapkan apa pun, karena saya tahu, kami bahkan baru saling mengenal lalu berkawan sejak empat tahun silam, dan sejak itu dia banyak memperhatikan saya dan keluarga saya. Tak pernah saya merasa dia berharap, apalagi meminta saya untuk membalas budi baiknya.

Maka sejak April itu, saya mengikuti Cak Nun. Dimulai dari Temanggung, lalu ke Semarang, Kudus, Surabaya, dan ke Jakarta, di Taman Ismail Marzuki. Tentu banyak pengalaman dan pelajaran hidup yang saya ambil dari mengikuti Cak Nun di lima kota itu, terutama untuk belajar selalu berdamai dengan banyak tuduhan. Belajar menjadi manusia yang berdaulat. Dan sewaktu muncul di TIM, Jumat malam sepekan yang lalu, penjelasan Cak Nun mengagetkan saya. “Saya dan Kiai Kanjeng tidak pernah mengemis. Mengaju-ajukan proposal agar kami dibiayai. Pementasan kami tidak ada sponsor.


Saya tidak tahu apakah Cak Nun marah atau tidak, meski saya juga tahu, dia pantas marah. Lima hari sebelumnya, sewaktu akan tampil di Kampus B Universitas Airlangga Surabaya karena diundang BEM Fisip di sana dan komunitas BangbangWetan, saya tahu ada tuduhan: Cak Nun dan Kiai Kanjeng membela industri rokok. Tuduhan itu  ditulis secara pengecut oleh satu akun anonim, yang menggunakan nama samaran dan menyembunyikan identitas. Disebarkan ke banyak akun di media sosial, dan tampak berusaha agar BEM Fisip Unair menggagalkan pentas Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Unair.

Saya tidak mengerti ada orang semacam itu, yang tahan dengan semangat membenci tapi ketakutan untuk menampakkan diri. Orang-orang yang menurut Cak Nun hanya berani bersuara di belakang dan menebarkan fitnah lewat media sosial tapi terlalu pengecut berhadapan muka. Dan penulis anonim itu, tampaknya adalah orang yang bersemangat mengkampanyekan anti-rokok, untuk tidak disebut sebagai orang atau kelompok yang sebetulnya menerima dana kampanye anti-rokok.

Mereka karena itu harus berkampanye terus-menerus agar dana yang diterimanya bisa terpakai untuk menolak ide lain tentang semua yang dianggap berlawanan dengan antirokok, bahkan jika itu hanya berupa semangat kepada petani tembakau seperti yang dilakukan Cak Nun di Temanggung. Dan itu sah-sah saja karena banyak cara orang mencari makan.

Masalahnya: apakah karena membela petani tembakau di Temanggung misalnya, Cak Nun lalu dianggap membela industri rokok? Apa karena itu semua, Cak Nun dianggap mengkampanyekan rokok dan menyarankan orang merokok? Apa karena itu semua, pementasan Cak Nun dan Kiai Kanjeng dituding dibiayai oleh industri rokok?


Kalau boleh menduga, tuduhan  dari orang-orang semacam itu pada Cak Nun, dipicu antara lain oleh tulisan saya tentang Cak Nun di Temanggung. Tentang Cak Nun yang waktu itu berusaha membangkitkan harapan dan kekuatan petani-petani tembakau di sana. Mereka merasa terusik. Mungkin juga merasa terancam sebab Cak Nun membela petani tembakau.

Sebelum saya mengikuti Cak Nun dan menulis tentang kehadirannya di tengah petani-petani tembakau di Temanggung yang cemas dan bersedih, beberapa kali saya menyimak rekaman pengajian, ceramah, orasi Cak Nun yang bisa diakses dari Youtube. Beberapa kali dia menyinggung masalah rokok karena dia adalah perokok. Tapi sejauh yang bisa saya tangkap dari penjelasan Cak Nun di beberapa tayangan video, konteksnya adalah, dia merasa aneh karena bahkan untuk meminta sekadar hak boleh merokok, di negara ini, sekarang dipersoalkan, dipersulit. Dan Cak Nun menyampaikan semua itu dengan gayanya yang selalu penuh guyonan ala Jawa Timuran.

Di sebuah video yang direkam ketika diundang berbicara di rumah Anas Urbaningrum dua tahun lalu misalnya, Cak Nun bilang, tidak mau ikut pergerakan baru kalau dilarang merokok. Dia menyampaikan hal itu dengan mimik wajah dan senyuman khas. Seperti meledek. Tamu undangan yang mendengarkan ucapannya ikut tertawa.

Di sebuah video lain, yang tampaknya direkam bertahun-tahun sebelumnya, Cak Nun mengatakan, ketika semua hak sebagai warga negara telah diambil, dia hanya minta hak untuk merokok. “Aku minta hak untuk merokok ini saja loh Rek, masak tak boleh?” Berkali-kali pula dia menyatakan, dirinya tak berani mengharam-haramkan sesuatu yang diciptakan Allah.

Allah serius menciptakan tembakau, masak saya berani mengharam-haramkan? Nanti kalau Allah bertanya, ‘Lho Nun, Aku ini serius menciptakan tembakau, kok kamu haram-haramkan padahal Aku tidak mengharamkannya? Kamu bisa menciptakan tembakau?’ Wah bisa repot saya.” Dan kata-kata semacam itu, kata-kata penuh candaan, diulangi Cak Nun di TIM.


Saya tahu Cak Nun merokok. Perokok berat. Begitu juga saya, tapi dia tidak pernah mengkampanyekan agar orang membeli rokok atau menyarankan orang untuk merokok. Dia hanya meminta, agar tidak ekstrem menolak atau menerima sesuatu, termasuk dalam soal rokok. Misalnya orang yang merokok, tidak anti pada yang tidak merokok. Orang yang tidak merokok, tidak anti pada orang yang merokok. Kepada perokok pun, Cak Nun mengingatkan agar tahu, kapan bisa merokok, kapan harus tidak merokok. Dan permintaannya itu, boleh dipenuhi dan silakan ditolak.

[Acara Kiai Kanjeng] ini bukan kampanye rokok. Saya tidak akan menganjurkan Anda sekalian untuk merokok. Saya bahkan tidak meminta Anda menjadi pengikut saya. Saya tidak perlu dan tidak mau diikuti, karena saya hanya pengikut Nur Muhammad saw.

Cak Nun lalu memberi perumpamaan soal jilbab. Perempuan yang mengenakan jilbab bukan berarti anti dengan perempuan yang tidak berjilbab. Perempuan yang tidak berjilbab, bukan berarti anti terhadap yang berjilbab. Bahwa kemudian, jilbab menjadi industri dan membuat persaingan antara pembuat jilbab, itu bukan urusan orang yang mengenakan jilbab dan yang tidak mengenakan jilbab. “Semua orang berdaulat atas dirinya.

Selama berkunjung ke lima kota, saya tahu, tema pengajian Cak Nun adalah tentang kedaulatan. Sinau kedaulatan atau belajar tentang kedaulatan. Itulah yang menurut saya, tampaknya yang juga dicurigai oleh beberapa orang yang aktif mengkampanyekan anti-rokok. Cak Nun dianggap seolah-olah mengkampanyekan rokok. Acara Kiai Kanjeng dituduh disponsori perusahaan rokok.

Mereka tidak tahu, Cak Nun dan Kiai Kanjeng sudah ribuan kali pentas di banyak tempat, di berbagai kota. Diundang oleh banyak orang. Dari Yogyakarta hingga Korea. Dari Surabaya hingga Maroko. Dan semua pementasannya terutama di Indonesia, adalah pementasan rutin yang dibiayai oleh orang-orang yang mencintainya. Orang-orang yang ingin mendengarkan lelucon-leluconnya. Orang-orang yang mau belajar keluar dari batas-batas kepura-puraan. Orang-orang yang ingin terhibur setelah hidup mereka disuguhi banyak kemunafikan.


Di berbagai kota, karena itu muncul komunitas-komunitas. Di Jakarta ada Kenduri Cinta, Macopat Syafaat ada di Yogyakarkarta, Gambang Syafaat di Semarang, Padhang mBulan di Jombang, Bangbang Wetan di Surabaya, Paparandang Ate Mandar di Makassar, Maiyah Baradah di Sidoarjo, Obor Ilahi di Malang. Ada juga beberapa komunitas di Hong Kong, di Bali, dan di Papua. Komunitas-komunitas yang terbentuk karena orang-orang yang merindukan Cak Nun, yang jumlah orangnya di setiap komunitas bisa mencapai ribuan. Mereka orang-orang kecil. Buruh pabrik, penjual kopi, tukang becak, para preman, pedagang sendal dan kopiah, TKI, dan sebagainya.

Tujuh belas tahun yang lalu, sewaktu Jakarta dibakar kerusuhan dan banyak orang ketakutan, Cak Nun dan Kiai Kanjeng bahkan berkeliling ke pelosok-pelosok Jakarta yang sempit dan bau, semata berusaha memberi ketenangan dan kesabaran dengan membaca shalawat beramai-ramai. Dan semua itu, tidak pernah disorot oleh media. Cak Nun dan Kiai Kanjeng dianggap sampah, dan Cak Nun memang selalu menempatkan dirinya sebagai tempat sampah. Tempat orang membuang keluhan. Melemparkan kemarahan. Meletakkan kesedihan. Mengais harapan.

Lalu, Jumat malam sepekan yang silam, di lapangan parkir di dekat dua pintu masuk ke areal TIM itu, Cak Nun menurut saya, memang perlu menjelaskan posisinya dan Kiai Kanjeng, karena tuduhan dan kecurigaan dari orang-orang pengecut [yang sebetulnya merekalah yang menerima dana kampanye anti-rokok dari donor di luar negeri], sungguh keterlaluan. Barangkali karena itu pula, Cak Nun mempersilakan Mohammad Sobary, budayawan, peneliti LIPI, eks pemimpin redaksi kantor berita Antara, ikut berbicara soal rokok dan tembakau.

Ketika pemerintah menyiapkan rancangan peraturan tembakau, 12 April 2012, 10 ribu petani tembakau di Temanggung merokok kretek bersama. Mereka berdaulat. Merokok kretek menjadi bahasa perlawanan. Memperotes rancangan itu agar tidak menjadi peraturan. Melawan negara yang tidak berdaulat.

Mas Sobary berhak mengutarakan itu semua karena dia adalah penasehat APTI, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia. Tentu dia berkepentingan membela petani tembakau, meski pembelaannya terhadap petani tembakau tidak senorak kampanye para demagog anti-rokok. Mas Sobary menulis buku. Menyelenggarakan diskusi imiah.


Saya tahu kampanye global antitembakau bertujuan untuk mengambil tembakau Indonesia. Dan saya tahu pula, sudah ada penelitian, sembilan manfaat tembakau bagi kesehatan.

Saya tahu, Mas Sobary sebelumnya tidak merokok. Dia merokok beberapa bulan kemudian, setelah rombongan petani tembakau, menemuinya, memintanya ikut membela mereka di tengah kepungan tuduhan dan ancaman, beberapa tahun yang lalu. Rokok yang dia isap pun bukan buatan pabrik rokok, melainkan devine cigarette, kretek yang dikenalkan kali pertama dan diusahakan mandiri oleh Dr Gretha Zahar, yang kemudian didukung oleh Prof Sutiman Bambang Sumitro, guru besar di Universitas Brawijaya Malang, sebagai metode alternatif pengobatan.

Saya mengambil napas dalam-dalam mendengar ucapan Mas Sobary tentang nasib petani tembakau yang hendak dipinggirkan, yang saya rasakan penuh kemarahan. Malam itu, saya datang ke TIM dalam keadaan payah. Baru dua hari sebelumnya saya mengalami kecelakaan. Beberapa bagian tubuh saya masih berdarah. Dagu penuh jahitan. Tubuh saya ringsek.

Saya memaksa hadir di acara Cak Nun, karena saya harus menyelesaikan tugas saya: mencatat untuk bahan penulisan buku tentang Cak Nun. Lalu ketika Mas Sobary menguraikan betapa bangsatnya negara ini terhadap petani tembakau, saya berusaha menarik napas panjang. Berupaya menyadarkan diri.

Bernapas Rusdi, bernapaslah. Saya terus mengajak diri saya berdialog.


Malam sudah begitu larut. Sudah melampaui jam dua dinihari. Perih di dagu karena bengkak sehabis dijahit tak begitu saya pedulikan, tapi dada saya seperti ditekan-tekan. Entah oleh apa. Sesak.

Saya teringat kerabat bapak di Sumenep Madura yang menanam tembakau. Ingat kawan-kawan saya di Besuki, yang sejak dari kakek moyangnya menanam tembakau. Ingat sahabat saya yang memberdayakan para petani tembakau di Jember. Ingat para petani tembakau di Temanggung, yang memeluk dan merubuhkan diri pada Cak Nun, minta dibela.

Ya Allah, apa sebetulnya dosa para petani itu? Kenapa orang-orang hebat itu yang harus menentukan, apa yang boleh dan tidak boleh ditanam oleh petani tembakau? Kenapa orang-orang besar itu yang harus mendikte, jumlah dan jenis tembakau yang bisa ditanam? Apa yang telah diberikan oleh orang-orang pintar yang mengatur dan membuat undang-undang itu, kepada para petani tembakau selain hanya menganggap para petani itu sebagai orang-orang yang dituduh penanam benih penyakit?


Cak Nun mengakhiri Kenduri Cintanya di TIM menjelang subuh, dan itu adalah acara terlama dari pentas Cak Nun dan Kiai Kanjeng yang saya ikuti di lima kota. Ketika berdoa, suaranya terdengar menahan isak. Seribuan orang yang hadir di sana, barangkali juga ikut sesenggukan.

Ya Allah mudahkanlah mereka yang sedang kesusahan. Gembirakanlah mereka yang sedang kesedihan. Sembuhkanlah mereka yang sedang kesakitan. Lunaskanlah mereka yang terbelit utang. Jangan jadikan Indonesia mengemis dan merengek-rengek .…

Begitulah Cak Nun. Selama mengikutinya di lima kota, saya mengenalnya sebagai apa saja. Budayawan, intelektual, kiai, dan mungkin tempat sampah, seperti yang selalu dia sampaikan, dan saya banyak belajar dari tempat “sampah” itu. Belajar berdaulat terutama untuk menjadi diri sendiri. Menjadi manusia apa adanya. Manusia yang tidak berpura-pura. Manusia yang menolak hidupnya ditentukan dan didikte oleh orang lain.

Rusdi Mathari
https://rusdimathari.com/2015/05/16/jangan-ikuti-cak-nun-jangan/

Wednesday, August 24, 2016

Krisis Kesadaran atas Keadaan Krisis


Dalam sambutan pertamanya, Arcandra Tahar selaku Menteri ESDM baru sedikit menyinggung tentang UU Minyak dan Gas Bumi. Dan kadarnya baru sebatas menyebut saja, belum ada kejelasan tentang langkah apa yang akan diambil.

Sangat wajar, karena sebagai menteri baru yang lebih dari 20 tahun berkarier di luar negeri, tentu masih dalam tahap penjajakan atas semua isu yang ada di dalam lingkup kerjanya. Melalui tulisan ini, sebagai anggota masyarakat biasa, saya ingin berbagi cerita, yang mungkin bisa bermanfaat untuk lebih memantapkan langkah dan kebijakan Menteri Arcandra Tahar merespons isu terkait UU Migas itu.


Terbengkalai
Begini lebih kurang ceritanya. Jika ada suatu UU, yang lebih kurang seperempat dari keseluruhan jumlah pasal di dalamnya telah dinyatakan tidak berlaku oleh Mahkamah Konstitusi (MK) sejak 2013 tetapi masih tetap kita gunakan sebagai landasan penyelenggaraan pemerintahan di sektor yang sangat strategis, maka itu adalah UU No 22/2001 tentang Migas.

Jika ada proses revisi UU yang telah memakan waktu lebih kurang delapan tahun tetapi hingga kini belum selesai, bahkan proses legislasinya pun belum juga mulai memasuki tahap pembahasan resmi karena secara formal rancangan UU revisinya belum juga ada, maka itu adalah proses revisi UU No 22/2001 tentang Migas.


Sebagai masyarakat biasa, terus terang pemikiran saya tidak sampai untuk dapat memahami bagaimana bisa kita yang selalu mengatakan sektor migas adalah sangat strategis dan menguasai hajat hidup orang banyak, para penyelenggara negaranya seperti membiarkan hal seperti itu terus berlangsung. Padahal, produksi minyak mentah sudah terus menurun selama hampir 20 tahun terakhir: dari kisaran 1,6 juta barrel per hari (1997) hingga hanya kurang dari separuhnya, yaitu di kisaran 780.000 barrel per hari saat ini.

Dari semula merupakan negara pengekspor minyak, anggota OPEC yang disegani, hingga sudah menjadi nett oil importer yang bahkan berpotensi menjadi negara pengimpor minyak dan BBM terbesar di dunia seperti saat ini.


Padahal, rasanya tak kurang juga sejumlah kalangan ––dari pakar, praktisi, investor, bahkan dari unsur pemerintah dan DPR sendiri–– telah sejak lama menyuarakan bahwa sektor migas nasional sejatinya telah berada dalam keadaan krisis atau darurat.

Sebagai awam, terus terang saya juga sulit mencerna bagaimana bisa kita yang punya segudang ahli di bidang migas seperti tak mampu menyelesaikan revisi UU Migas itu. Waktu delapan tahun, lebih kurang setara dua kali jangka waktu seseorang untuk dapat menyelesaikan pendidikan doktor yang berkualitas.

Tidak cukupkah waktu delapan tahun itu untuk menyelesaikan proses revisi sebuah UU dan menghasilkan UU penggantinya yang berbobot? Sedemikian komplekskah substansi persoalan UU Migas itu sehingga semua penyelenggara negara dan ahli di negeri ini tak mampu menangani dan menyelesaikannya?


Tak bersungguh-sungguh
Dalam keterbatasan jangkauan daya pikir yang ada, yang bisa masuk di logika sederhana saya tentang penyebab hal ini hanya satu: bahwa kita sejatinya memang tak bersungguh-sungguh di dalam menyelesaikan persoalan ini. Dalam istilah yang jujur dan sederhana, mungkin kita dapat dikatakan “malas” dan sejatinya memang tak sungguh-sungguh di dalam mengerjakan proses revisi itu. Dalam istilah yang lebih keren, mungkin kita sejatinya tidak memiliki sense of urgency, bahwa kita, di sektor migas, sedang dan telah dalam kondisi krisis.

Dalam permainan kata-katanya, kita sedang dalam krisis kesadaran atas keadaan krisis itu sendiri. Tagar #kamitidaktakut, dalam pengertian yang cenderung negatif sepertinya berlaku dalam kasus ini.


Maka, solusi dalam kasus ini sebenarnya sederhana, yaitu tak lain agar para penyelenggara negara, khususnya DPR, segera melakukan langkah konkret dan bekerja bersama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyelesaikan proses revisi UU Migas ini. Sependek yang saya tahu, inisiatif atas revisi ataupun proses revisinya sejak 2009 hingga saat ini masih ada di DPR.

Namun, jika hal ini terus berlarut, katakanlah hingga akhir 2016 belum juga selesai, berangkat dari amanat UUD 1945 bahwa minyak dan gas adalah cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dan telah cukup lama dalam keadaan krisis, kiranya Menteri ESDM dapat memberi masukan dan usulan agar Presiden Joko Widodo mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang alias Perppu. Sebagaimana yang belum lama ini telah dilakukan Presiden untuk menyelesaikan isu dan permasalahan kritis lain di negeri ini.

Pri Agung Rakhmanto
Dosen Universitas Trisakti,
Pendiri Reformer Intitute

KOMPAS, 13 Agustus 2016

Friday, July 29, 2016

Pembiaran: Menebar Kesempatan, Menuai Pembodohan dan Kerusuhan

Arya Permana, bocah usia 10 tahun, asal Cipurwasari, Karawang, terkena obesitas hingga beratnya mencapai 190 kilogram.

Dalam waktu sebulan, begitu banyak fenomena seputar kesehatan terjadi di negeri ini. Mulai dari perlecehan seksual, obesitas luar biasa, hingga vaksin palsu ––yang bukan suatu kebetulan–– korbannya semua berkisar di dunia anak.

Sebagian besar orang menyebut kejadian-kejadian tersebut hanyalah fenomena puncak gunung es, yang artinya baru terkuak satu-dua kasus, berkat kegencaran teknologi media.

Ibarat gunung es di laut, setiap saat air menyurut, penampakan gunung raksasa semakin mengerikan memperlihatkan kian banyak hal yang sebelumnya tertelan dari pandangan.

Jika mau diurut ke belakang, semua masalah itu bermuara pada satu kata yang amat terlalu sering muncul di negeri ini: pembiaran.

Pembiaran berimbas pada pembiasaan ––sehingga tak ada seorang pun yang menyadari bahwa anomali sebenarnya telah terjadi.

Rita Agustina dan Hidayat, suami istri tersangka produsen vaksin palsu yang menggemparkan dunia kesehatan anak Indonesia.

Terlalu banyak orangtua yang sebenarnya belum siap menjalankan peran sebagai orangtua, dan akhirnya berakibat fatal saat anak-anak mereka hadir.

Perilaku yang jauh dari gaya hidup sehat, kebiasaan pola makan salah kaprah, semua menjadi contoh yang diam-diam ditiru anak. Tidak pandang jenjang ekonomi, pelecehan, obesitas, korban layanan kesehatan yang buruk, bisa mengintai siapa saja.

Padahal, perkawinan berlandaskan agama di negeri ini mengharuskan pasangan yang akan menikah mengikuti kursus singkat untuk menjadi pasangan suami istri dan calon ayah ibu yang baik dan benar.

Jika kursus ini dianggap bermanfaat, disampaikan oleh ahli yang kompeten dan dijalankan dengan benar, sebagian besar perkara yang menimpa anak tidak mungkin terjadi.

Namun, euphoria pasangan calon pengantin yang hanya fokus pada pesta, pamer keluarga atau persiapan yang terburu-buru akibat kehamilan yang di luar rencana, kursus persiapan perkawinan akhirnya hanyalah sekadar ‘syarat’ yang banyak pasangan mengaku mengabaikannya, bahkan dirasa sebagai birokrasi yang menyebalkan.

Kapan jargon "Indonesia Sehat" akan terlaksana? Kapan-kapaaaann.....

Tidak ada sekolah menjadi orangtua. Betul sekali. Tapi, proses menjadi orangtua pun kerap tak terjadi karena fokus kehidupan hanyalah seputar pemenuhan kebutuhan materi yang kelihatannya tak pernah ada kata ‘cukup’ ––di semua lapisan sosial ekonomi.

Alasan tidak punya waktu bagi pasangan berujung menjadi hilang waktu bagi anak-anak. Isi pembicaraan dalam keluarga pun dangkal, sekadar menanyakan sudah makan belum, pulang jam berapa, besok ulangan apa ––atau pemberitahuan ayah pulang telat, karena lembur, dll.

Kedalaman hati dan perilaku afeksi, akhirnya dicurahkan pada orang-orang yang semestinya berada di luar lingkaran. Maka pelecehan fisik pun rentan terjadi.

Waktu 24 jam yang terburai untuk berkutat dengan uang, asyik dengan tontonan yang tidak menuntun, atau "tertelan" pergaulan dunia maya, membuat manusia mencari kepraktisan dalam memelihara dirinya ––yang seharusnya mendapat waktu lebih.


Alasan dengan membeli makanan, maka hidup jadi lebih praktis ketimbang harus memasaknya sendiri. Maka kebiasaan ini pun menular pada anak, menyebabkan mereka mempunyai ‘normalitas yang baru’ tentang prinsip pola makan.

Iklan-iklan produk industri makanan yang kian liar dan menjadi-jadi menyebabkan kecanduan baru yang tak terelakkan. Ketimpangan informasi, ketidakhadiran negara untuk menyeimbangkan kebenaran tentang informasi kesehatan mengakibatkan kekisruhan yang kian kusut dan ruwet.

Alhasil, malnutrisi ganda melanda bangsa ini. Dari anak yang kurus kering tinggal tulang berbungkus kulit karena gizi buruk, hingga kelebihan berat badan sekian ratus kilo karena obesitas.

Begitu pula semakin banyak orang tanpa latar belakang pendidikan kesehatan formal yang kredibel mengaku pakar kesehatan, mengajar pelbagai jenis diet aneh, menulis buku “kesehatan”, bahkan dijadikan narasumber di mana-mana.


Kesempatan dalam kesempitan
Istilah kesempatan dalam kesempitan sejak zaman dahulu selalu dijadikan peluang emas. Saat pimpinan bangsa ini ribet dengan berbagi jurus untuk merenggut posisi dan kekuasaan, publik terlantar tanpa pengarahan dan apalagi pengawasan.

Berpuluh tahun penjual obat liar marak di pasar-pasar gelap yang terang-terangan berjualan. Agak sarkastik, memang. Tapi itulah faktanya.

Banyak tempat dikenal sebagai lokasi penjualan berbagai macam merk obat penenang hingga obat kanker impor ––yang kasusnya kini kian amburadul, karena toko ‘online’ siap mengantar obat apa saja, termasuk obat untuk aborsi via dunia maya yang diantar langsung ke rumah.

Bukan rahasia umum, apotik hingga kini bebas menjual langsung ke publik, obat yang berlabel ‘harus dengan resep dokter’ termasuk obat antibiotik.


Pemerintah seakan tak hadir bagi rakyat. Jangankan pembersihan atau penangkapan, pengawasan pun sepertinya tidak ada. Padahal sistemnya ada. Semua menunggu kejadian dan kasus. Setelah kejadian baru ada “gerakan”. Seakan kaget, baru bangun dari tidur lama ….

Jadi, perkara vaksin palsu bukan hal yang mengagetkan. Ada permintaan, maka ada penyedia. Ada kesempatan menjual barang palsu, pasti karena ada yang menginginkan ‘harga bagus’ ––dan tak ada satu pihak pun yang mengawasi apalagi melakukan penjaminan.

Dokter belanja di black market, keluguan tanpa berpikir risiko barang haram ––mulai dari pemasokan hingga isinya yang haram alias tak sesuai label, membuat mereka terjebak dalam etika profesi dan SOP (standar operasional prosedur) yang tak dipatuhi.

Kebebasan publik memilih obat paten ketimbang generik, tak ubahnya sama seperti hak publik memilih vaksin impor ketimbang vaksin generik buatan lokal.


Kewenangan pemerintah memang tak mungkin membatasi hak-hak warga negara untuk membuat pilihan. Tapi, wujud negara bisa hadir dalam bentuk distribusi informasi sejelas dan sebanyak mungkin, agar publik jeli dan tidak salah pilih. Termasuk pengawasan terlaksananya sistem dan penindakan bilamana terjadi pelanggaran.

Pembiaran, pembiasaan dan ketidaktahuan yang mengarah pada pembodohan sudah saatnya diakhiri. Percuma saja kita bermimpi tentang mengubah orang lain, mengubah dunia, mencanangkan bermacam-macam revolusi ––yang hanya berakhir sebagai jargon–– tanpa mengubah perilaku diri sendiri.

Seperti Leo Tolstoy pernah mengatakan, “Everyone thinks about changing the world, but no one thinks of changing himself”.

Seyogyanya, semua perubahan dimulai dari diri sendiri ––orang lain dengan serta merta akan mengikut, bilamana perubahan itu bermakna, tanpa perlu disuruh apalagi dipaksa. Siapa sih, yang tidak mau hidup lebih baik?

DR. dr. Tan Shot Yen, M. hum,
Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku
http://health.kompas.com/read/2016/07/20/090300723/pembiaran.menebar.kesempatan.menuai.pembodohan.dan.kerusuhan