Wednesday, April 11, 2018

Persekolahan dan Nekolim Berkelanjutan


Bahaya neokolonialisme dan imperialisme sudah diingatkan oleh Bung Karno sebelum dijatuhkan secara tragis justru oleh kekuatan nekolim itu. Kini peringatan itu semakin menjadi kenyataan di banyak negara yang dulu dimerdekakan di atas rumah negara-bangsa, termasuk Indonesia. Melalui jargon investasi, globalisasi dan pasar bebas, hampir semua kekayaan alam kita saat ini sudah dikuasai asing.

Dulu penjajahan dilakukan dengan menghadirkan penjajah beserta seluruh perangkat kerasnya. Sekarang penjajahan itu bisa dilakukan tanpa menghadirkan tentara dan penjajah, namun cukup dilakukan secara –remotely controlled– dengan menghadirkan seperangkat instrumen. Sang Penjajah cukup duduk-duduk manis di rumah sambil tekan tombol “remote”. Instrumen itu berupa regulasi internasional dan nasional, sekaligus kelembagaannya.


Berbagai perjanjian internasional dilakukan terutama perjanjian perdagangan dan keuangan; bukan dengan semangat “duduk sama rendah berdiri sama tinggi”. Tapi antara majikan dan pesuruh. Dibentuklah Bank Dunia (World Bank) dan IMF (International Monetary Fund). Melalui perjanjian Bretton Woods 1944 dibentuklah IMF yang konstitusinya menghalalkan uang kertas dan mengharamkan dinar. Padahal selama kekhalifahan Islam, perdagangan hanya bisa dilakukan dengan dinar, uang kertas dilarang. Namun sejak 1974, Nixon secara sepihak menyatakan tidak lagi harus memenuhi seluruh perjanjian Bretton Woods. Pencetakan uang kertas tidak perlu lagi dikaitkan dengan stock emas sebagai pondasi uang kertas itu.

Melihat US Dollar akan segera kehilangan kredibilitas, Henry Kissinger, Menlu AS saat itu memperoleh persetujuan Raja Faisal dari Kerajaan Saudi Arabia, untuk mengaitkan US Dollar dengan setiap transaksi minyak bumi: pembelian minyak bumi hanya bisa dilakukan dengan US Dollar. Maka lahirlah Petrodollar.


Secara sederhana berarti AS boleh mencetak US Dollar –out of thin air–, sementara untuk setiap lembar $ 100 US Dollar kita harus membayarnya dengan ekspor 1 ton mangga atau 1 m3 minyak. Melalui model perdagangan ini negara penghasil produk pertanian dan pertambangan seperti Indonesia dimiskinkan, lingkungan hidupnya dihancurkan, dan mentalitas manusianya dirusak secara terus menerus hingga saat ini.

Harus dikatakan bahwa, “kemajuan” negara-negara “dunia pertama” bukan karena mereka lebih cerdas, lebih produktif dan lebih jujur dari negara-negara “dunia ketiga”, tapi dilakukan dengan penjarahan sistemik melalui transaksi ribawi ini. Bung Karno, JF Kennedy, Charles de Gaulle, lalu Saddam Hussein dan Muammar Khadafy dijatuhkan atau dibunuh karena mereka tahu dan tidak mau negara-negara mereka dijarah seperti itu.


Sementara itu, agar proses penjajahan secara –remotely controlled– ini bisa berjalan secara berkelanjutan –sustained colonialism–, harus diciptakan juga sebuah masyarakat baru dengan satu cara berpikir “inlander” melalui sistem persekolahan (school system). Sistem persekolahan yang dikenalkan di Hindia Belanda sejak Politik Etis di akhir abad 19 tidak pernah dimaksudkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Apalagi untuk menumbuhkan jiwa merdeka seperti kata Ki Hadjar Dewantara. Rancangan dasar persekolahan yang kita kenal sejak Orde Baru hingga saat ini tidak banyak berubah sejak persekolahan diperkenalkan: menciptakan buruh dan pegawai.

Di sekolah, guru memberikan pelajaran untuk menguji kemampuan siswa. Sedangkan di kehidupan nyata, alam menguji manusia untuk memberi pelajaran dalam menghadapi segala permasalahan.

Melalui sistem persekolahan itu, taruhan besar atas nasib negara-negara muslim di dunia, termasuk Indonesia, dipindah dari masjid ke sekolah. Guru adalah khotib-khotib baru, –seperti dikatakan Ali Syariati–, kitab-kitab fiqh dibawa dari kuburan ke kota, sedangkan Al-Qurān dibacakan (di kuburan) untuk orang-orang yang mati.

Korban instrumen nekolim berupa persekolahan itu tidak hanya masjid, tapi juga keluarga. Keluarga dijadikan unit konsumtif (non-edukatif) dalam model ekonomi makro. Tugas produktif keluarga digeser ke pabrik, sedangkan tugas edukatifnya dirampas oleh sistem persekolahan. Melalui persekolahan itu warga negara dipersiapkan mentalnya untuk kompeten (hanya) sebagai buruh.

KA Argobromo Anggrek 31 Maret 2018

Prof. Daniel Mohammad Rosyid PhD, M.RINA,
Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
MEPNews.id

Sunday, March 4, 2018

NU dan Pancasila: Dulu dan Kini


Nahdlatul Ulama (NU) kini telah menjadi salah satu ormas Islam yang lantang mendukung Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara.

Seperti diberitakan di website NU, peringatan Hari Santri 22 Oktober tahun 2017 kemarin, mengambil tema “Meneguhkan Peran Santri dalam Bela Negara, Menjaga Pancasila, dan NKRI.”

Di antara ormas-ormas Islam, NU paling keras suaranya dalam mendukung penerapan Perppu 2/2017 untuk membubarkan ormas (baca: Hizbut Tahrir Indonesia) yang mengampanyekan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.

Sepekan sebelum peringatan Hari Santri, dikabarkan lebih dari 20 ribu Nahdliyin berkumpul di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, mendeklarasikan “Front Penggerak Pancasila”.

Terkait sikapnya dengan Pancasila, sesungguhnya NU mengalami pergulatan yang dinamis. Di awal-awal perumusan Pancasila, perwakilan NU menginginkan Islam sebagai dasar negara. Sikap ini berubah seiring dengan perubahan rezim dan konfigurasi politik.


Masa Perumusan
Pada masa sidang kedua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) untuk membuat rancangan konstitusi (UUD), perwakilan NU kala itu, Kiai Haji Wachid Hasjim (bapaknya Gus Dur) ingin mempertahankan “tujuh kata” setelah kata “Ketoehanan” (yakni “dengan kewadjiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja”), sebagaimana dinyatakan dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945, sebagai hasil kesepakatan Panitia Sembilan.

Wachid Hasjim juga mengusulkan untuk dimasukkan dalam rancangan konstitusi bahwa presiden Indonesia harus seorang Muslim dan bahwa negara Indonesia berdasarkan Islam, bukan Ketuhanan Yang Maha Esa seperti yang kini tercantum di pasal 29 UUD ’45.

Perwakilan Indonesia Timur, Johanes Latuharhary sempat keberatan dengan “tujuh kata” itu. Namun Wachid Hasjim bersikukuh bahwa itu sudah merupakan kesepakatan Panitia Sembilan. Sukarno, dengan berlinang air mata, membujuk agar yang tak setuju dengan Piagam Jakarta bersedia berkorban karena itu merupakan “hasil jerih payah untuk menghilangkan perselisihan paham antara golongan kebangsaan dan golongan Islam.” Dan usulan Kiai Haji Wachid Hasjim terpenuhi hingga akhir sidang BPUPKI.


“Tujuh kata” beserta turunannya itu baru dicoret dalam pertemuan selama 15 menit yang diinisiasi oleh Mohammad Hatta pada pagi hari menjelang sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945 untuk mengesahkan UUD. Dalam lobi singkat untuk mencoret “tujuh kata” itu, Mohammad Hatta membujuk tokoh-tokoh Islam.

Komposisi anggota PPKI berbeda dari BPUPKI. Jika anggota BPUPKI dipilih berdasarkan latar belakang ideologis dan perwakilan golongan, sedangkan anggota PPKI tersusun  terutama dari perwakilan kedaerahan dan organisasi. Dari 27 anggota PPKI, hanya 4 saja yang bisa dihitung “mewakili” Islam, yaitu Wachid Hasjim (NU), Ki Bagus Hadikoesoemo (Muhammadiyah), Kasman Singodimedjo (komandan PETA), dan Teuku Hasan (Aceh).

Dalam Memoir-nya, Hatta menyatakan telah membujuk keempat tokoh Islam di PPKI itu untuk mencoret “tujuh kata”. Namun dalam catatan AB Kusuma, yang dikutip di buku Yudi Latif (kini kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila [UKP-PIP]), Wachid Hasjim tidak hadir dalam lobi itu karena sedang ke Surabaya dan barangkali Hatta lupa. Jika catatan AB Kusuma ini benar, berarti tidak ada perwakilan “golongan Islam” yang menandatangani Piagam Jakarta yang ikut dalam momen krusial pencoretan “tujuh kata” itu. Pada kenyataannya, nantinya pada sidang Badan Konstituante 1956-1959 untuk membuat konstitusi baru, “kelompok Islam” menyatakan “kelompok Pancasila” telah melakukan intrik politik dalam pencoretan “tujuh kata” dari Piagam Jakarta.


Masa Orde Lama
Di Badan Konstituante, NU bersama Masyumi berada dalam kelompok Islam yang mengadvokasi Islam sebagai dasar negara melawan kelompok Pancasila yang tersusun dari Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Komunis Indonesia (PKI), dan partai-partai kecil lainnya.

Dalam sidang Konstituante, perwakilan NU, Kiai Ahmad Zaini menyatakan Pancasila adalah “rumusan kosong” yang ambigu dan dapat mengakui keberadaan “penyembah pohon”. Perwakilan NU lainnya, Saifuddin Zuhri (bapak dari Menteri Agama sekarang), menyatakan bahwa sila pertama Pancasila kabur maknanya dan dapat ditafsirkan oleh tiap kelompok agama sesuai keinginan mereka sendiri.

Pendeknya, kelompok Islam (NU dan Masyumi) berpandangan bahwa Islam merupakan dasar yang lebih jelas dan komprehensif dibanding Pancasila. Persoalan dasar negara ini membuat sidang Konstituante menemui jalan buntu. Karena kegagalan tiap kelompok untuk memperoleh kuorum 2/3 dari total suara tiap kali diadakan pemungutan suara, Sukarno akhirnya membubarkan Konstituante melalui Dekrit Presiden, 5 Juli 1959. Dekrit ini menyatakan UUD ‘45 kembali aktif sebagai konstitusi dan bahwa Piagam Jakarta “menjiwai” UUD ’45.

Ambiguitas makna “menjiwai” ini di kemudian hari masih mempengaruhi diskursus hubungan Islam dan negara dalam konstitusi dan perundang-undangan dan sempat terangkat dalam upaya reformasi konstitusi pasca-Orde Baru.


Masa Orde Baru
Pada masa Orde Baru, rezim Soeharto ingin menerapkan Pancasila hampir di segala lini kehidupan: dari demokrasi Pancasila, ekonomi Pancasila, hingga moral Pancasila. Mengklaim ingin melindungi Pancasila dari ancaman ideologi Islam, rezim merestrukturisasi partai-partai politik menjadi tiga, dengan semua partai Islam (NU, PSII, Perti, dan Parmusi —Partai Masyumi pada saat itu sudah dibubarkan) berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Pada tahun 1970-an, untuk menentang kebijakan rezim mengenai Pancasila, terutama mengenai penerapan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) untuk pegawai negeri dan umum serta Pendidikan Moral Pancasila (PMP) untuk siswa-siswi di sekolah, Kiai Bisri Syansuri, ketua Dewan Penasehat PPP dan Rais Syuriah NU, berfatwa wajib hukumnya bagi setiap Muslim untuk memilih PPP, satu-satunya partai Islam, sekalipun menanggung risiko kehilangan jabatan dan pekerjaan.

Pada Sidang Umum MPR 1978 mengenai legalisasi P4, PPP dipimpin Kiai Bisri keluar dari sidang (walk out) sebagai bentuk protes. Pada 1970-an, orang-orang NU di dalam PPP dipandang sebagai orang-orang garis keras oleh rezim. NU pada dekade ini menjadi oposan paling kritis terhadap rezim, satu hal yang membuat rezim berupaya mempenetrasi PPP dan mengganti orang-orang NU dengan yang lebih bersahabat dengan rezim.


Perubahan Sikap
Posisi NU terhadap Pancasila mulai berubah pada dekade selanjutnya, tahun 1980-an, terutama setelah rezim Orde Baru mengumumkan rencana untuk menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal alias satu-satunya asas bagi semua partai politik (parpol) dan organisasi massa (ormas). PPP dan ormas-ormas Islam tentu menghadapi pilihan sulit: berkompromi agar partai atau organisasinya tetap hidup atau dibubarkan.

NU pada dekade itu mulai mengubah haluan sikapnya terhadap rezim, dari konfrontasi menjadi bersedia kompromi. NU menunjukkan penerimaannya terhadap Pancasila pada Munas 1982 dan mendeklarasikannya secara resmi pada muktamar ke-27 tahun 1984 di Situbondo. Keputusan penting lain dari muktamar itu ialah NU kembali ke “Khittah1926” sebagai organisasi sosial keagamaan (jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah) dan tak ingin lagi terlibat dalam “politik praktis”, yang kemudian diwujudkan dengan keluar dari PPP. Arsitek dari manuver ini adalah Kiai Achmad Siddiq (yang kemudian menjadi Rais ‘Aam Syuriah NU) dan Gus Dur (yang kemudian menjadi Ketua Umum PBNU).

NU menjadi yang pertama dari semua ormas Islam dalam menerima Pancasila sebagai asas organisasi, bahkan sebelum UU Partai Politik dan Organisasi Kemasyarakatan diumumkan resmi oleh rezim. (NU merumuskan pada 1983, resmi pada 1984; Muhammadiyah merumuskan pada 1983 dan resmi pada muktamar 1985.) NU juga merumuskan argumen-argumen keislaman untuk menunjukkan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. Argumen-argumen ini bahkan kemudian diadopsi oleh Departemen Agama, diwujudkan dalam buku Pedoman Pelaksanaan P4 bagi Umat Islam, untuk dijadikan model bagi ormas-ormas Islam lain.


Argumen yang bernada anekdotal dari Kiai Achmad Siddiq misalnya menyatakan: “Ibarat makanan, Pancasila sudah dikunyah dan ditelan sekian lama, kok baru sekarang dibahas halal-haramnya?

Argumen yang lebih serius, misalnya dari Gus Dur, menyatakan bahwa fikih tidak saja membagi dunia hanya dalam dua kawasan: darul-Islam (negeri Islam) dan darul-harb (negeri perang). Ada alternatif ketiga, yakni darus-shulh atau negeri tempat umat Islam dapat hidup damai dan menjalankan Islam meski negeri itu tak diatur dengan hukum Islam.

Muhammadiyah punya istilah berbeda tapi kurang lebih sama maknanya: darul-‘ahdi wasy-syahadah atau negeri konsensus dan persaksian —istilah ini resmi diperkuat lagi dalam muktamar ke-47 Muhammadiyah pada tahun 2015. Dalam argumen ini, negara Pancasila adalah contoh dari darus-shulh atau darul-‘ahdi wasy-syahadah itu.


Ideologis atau Pragmatis?
Yang menjadi pertanyaan besar di sini dan membuat para analis berbeda pendapat ialah: apa yang melatar-belakangi keputusan NU untuk berubah haluan menjadi menerima Pancasila pada 1980-an itu? Apakah manuver ini bersifat tulus secara ideologis atau sekadar pragmatisme politis belaka?

Sebagian analis menyatakan itu tak murni ideologis dan lebih banyak dipengaruhi oleh konfigurasi politik saat itu. Kalau saja Orde Baru tak memaksakan asas tunggal Pancasila, NU kemungkinan masih tetap tak mau menerima Pancasila. Faktor lainnya ialah retaknya hubungan antara NU dan PPP. NU adalah basis mayoritas pendukung PPP namun orang NU kurang terakomodasi secara proporsional di kalangan elite PPP. Dengan kata lain, keputuan NU untuk kembali ke Khittah 1926 juga memiliki latar belakang politik, yakni dishamorni dengan PPP. Dan kita tahu, bahwa pada pemilu 1987, NU melakukan “aksi penggembosan” terhadap PPP sehingga membuat suara PPP jatuh.

Namun penjelasan dari Gus Dur, sebagaimana tertuang dalam pengantar terhadap buku Einar Martahan Sitompul, “Nahdlatul Ulama dan Pancasila” yang terbit tahun 1989, tampak ingin menunjukkan bahwa itu merupakan manuver ideologis yang selaras dengan ajaran Ahlus-sunnah wal-Jamaah. Menurut Gus Dur, NU dalam Konstituante memperjuangkan Islam karena itu bagian dari “idealisme”. Tapi karena ia tak berhasil, harus ada pilihan lain, yaitu alternatif ketiga sebagai darus-shulh. Dalam penjelasannya, Gus Dur mengutip kaidah fikih (dan Gus Dur kerap kali mengutip beragam kaidah fikih untuk menjelaskan manuver politiknya) yang berbunyi “apa yang tak dapat diwujudkan semuanya, jangan tinggalkan semuanya” (ma la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu).


Saya pribadi tak sepenuhnya puas dengan penjelasan Gus Dur ini. Salah satu pertanyaan yang masih tersisa adalah: mengapa argumen seperti yang disampaikan Gus Dur itu tak muncul sejak awal perumusan Pancasila dan juga dalam sidang Konstituante? Andai saja demikian sedari awal, dan NU misalnya bergabung dengan kelompok Pancasila, kemungkinan Konstituante untuk mencapai kuorum lebih besar; kita punya konstitusi baru yang lebih kuat sebagai suatu produk konsensus; dan dampaknya besar terhadap diskursus umat Islam sejak republik ini baru berusia remaja.

Kendati demikian, di luar soal apakah ia merupakan manuver ideologis atau pragmatisme politik, yang jelas sikap rezim terhadap umat Islam sejak pertengahan 1980-an mulai melunak —kecuali tentu terhadap yang masih kukuh menolak asas tunggal Pancasila. Satu dekade terakhir Orde Baru kerap ditandai sebagai era “rapprochement” rezim dengan umat Islam: larangan jilbab bagi siswi-siswi sekolah dicabut; bisnis judi SDSB dibubarkan; dan rezim mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Kalau memakai perspektif utilitarianisme yang berpandangan bahwa keberhasilan manuver politik dinilai bukan dari idealisme ideologis melainkan pada hasilnya yang lebih bermaslahat secara umum (dalam hal ini, umat Islam), keputusan NU pada awal 1980-an itu berhasil. Dengan menerima Pancasila, rezim tak lagi punya alasan untuk menekan umat Islam secara umum, sehingga energi umat Islam bisa dialihkan ke hal yang lain, bahkan mengkritik kebijakan rezim Orde Baru lainnya. Pada kenyataannya, Gus Dur dan NU tetap bisa kritis terhadap Orde Baru. Buktinya, ketika Orde Baru mendirikan ICMI, Gus Dur membentuk Forum Demokrasi.


Pascareformasi
Kini, hampir dua dekade pascareformasi, NU sudah menjadi salah satu pendukung kuat Pancasila. Suara-suara penolakan terhadap kebijakan pimpinan pusat di PBNU bukannya tidak ada. Dan sejak dulu pun demikian. Salah satu contoh yang terkenal adalah pada tahun 1980-an, Kiai As’ad Syamsul Arifin saat itu menyatakan mufaraqah atau memisahkan diri dan keluar dari NU yang dipimpin Gus Dur.

Namun secara umum, figur-figur penting NU kini berada di belakang Pancasila. Rais Aam NU Kiai Ma’ruf Amin dan Ketua Umum NU Kiai Said Aqil Siradj kini menjadi dua dari sembilan pengarah UKP-PIP (Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila) yang selanjutnya berubah menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Konfigurasi politik saat ini sudah berbeda dari zaman Orde Baru. Rival NU dalam persaingan antarormas Islam juga sudah berbeda. Corak penafsiran politis terhadap Pancasila pun lebih beragam. Di masa pascakemerdekaan hingga berakhirnya Orde Lama, Pancasila cenderung dimaknai sebagai konsensus pemersatu semua kalangan melawan kolonialisme dan imperialisme, dengan ragam sisi terang dan gelapnya. Di zaman Orde Baru, Pancasila cenderung menjadi instrumen penjaga “stabilitas” politik. Pascareformasi, tafsir-tafsir dari beragam spektrum saling berebut untuk memaknai Pancasila. Dan NU tampaknya berada dalam kalangan yang memaknai Pancasila sebagai simbol penjaga kebhinekaan, kalau bukan malah instrumen “penggebuk” ormas “subversif”.

Apakah NU bisa merumuskan ulang tafsir Pancasila yang lebih dari sekadar itu, misalnya terkait persoalan sektarianisme internal umat Islam dan tafsir lain yang bukan sekadar soal kebhinekaan dan hubungan agama dengan negara, melainkan juga “keadilan sosial” di sila kelima? Jawabannya ada di tahun-tahun mendatang.

Azis Anwar Fachrudin
Penulis adalah alumnus dan kini staf CRCS UGM. Sebagian besar data sejarah dalam tulisan ini diambil dari disertasi doktoral Faisal Ismail, “Islam, Politics and Ideology in Indonesia: A Study of the Process of Muslim Acceptance of the Pancasila” di McGill University pada 1995.
CRCS UGM – Perspektif, 23 Oktober 2017
https://crcs.ugm.ac.id/news/11596/nu-dan-pancasila-dulu-dan-kini.html

Sunday, February 25, 2018

Tentang Islam Kejawen (Kejawaan) di Indonesia


Mungkin ini jawaban Islam Kejawen di Indonesia. Alhamdulillah, akhir-akhir ini orang merasakan manfaatnya Nahdlatul Ulama (NU). Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan berkahnya NU adalah keluarga orang yang sudah meninggal, karena setiap hari dikirimi doa dan tumpeng.

Hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di kawasan negeri-negeri Muslim di Timur Tengah, terjadi perang sesama umat Islam. Di Afghanistan, di Suriah, di Irak, di Yaman, terjadi perang sesama umat Islam. Indonesia jadi menarik. Masyarakat dunia banyak yang ingin tahu, ‒‒ketika semua sudah jebol‒‒ kok ada yang masih utuh: Islam di Indonesia.

Akhirnya semua ingin kesini. Seperti apa Islam di Indonesia kok masih utuh? Akhirnya semua sepakat: utuhnya Islam di Indonesia itu karena memiliki Jam’iyyah NU. Akhirnya semua pingin tahu NU itu seperti apa?

Ternyata, zaman dulu ada orang Belanda yang sudah menceritakan santri NU, namanya Christiaan Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Al-Qurān, hafal Hadits Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in, dan lain-lain, tapi bukan penganut Islam. Sebab tugasnya memang mau menghancurkan Islam di Indonesia.

Mengapa? Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Semuanya santri. Semua santri dan semua melawan Belanda.

Aneka wajah Christiaan Snouck Hurgronje.

Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya agar Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya sebagai Syekh Abdul Ghafur. Dia belajar Islam, menghafalkan Al-Qurān dan Hadits di Arab. Hingga akhirnya paham betul seluk-beluk agama Islam.

Hanya saja begitu datang di Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Arab (Timur Tengah), tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje di Arab itu tidak ada di Indonesia.

Mencari Allah di sini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada Pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng Ratu. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang, ketemunya ngibadah. Mencari syaikhun, ustadzun, tidak ketemu, ketemunya Kiai. Padahal ada kerbau namanya Kiai Slamet. Ada seekor gajah namanya Kiai Rebo. Ada senjata keris namanya Kiai Sengkelat. Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar, dan lain-lain.

Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu oleh Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa.

Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang di sini makanannya nasi (bahasa Jawanya sego). Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahwa beras itu bahasa Inggrisnya rice, bahasa Arabnya ar-ruz.

Dari tanaman padi lahirlah gabah, beras, nasi, lontong, ketupat, bubur, dll.

Yang disebut rice atau ar-ruz, ketika di sawah, namanya padi (pari). Di sana masih ar-ruz, masih rice. Begitu padi dipanen, di sini namanya ulen-ulen, atau ulenan. Disana masih ar-ruz, rice. Jadi pemahaman ilmunya mulai membingungkan, mulai kucluk, alias korslet.

Begitu ditumbuk (ditutu), digiling, mereka masih memahami sebagai ar-ruz, rice, padahal di sini sudah dinamai gabah. Begitu sudah terbuka kulitnya, di sini namanya beras, namun disana masih ar-ruz, rice. Begitu berasnya ada yang pecah kecil-kecil (cuil), di sini namanya menir, disana masih ar-ruz, rice. Begitu dimasak, di sini barulah dinamai nasi (sego), disana masih sama saja ar-ruz, rice.

Begitu ada satu butir yang diambil cicak, di sini namanya upa, disana namanya masih ar-ruz, rice. Begitu dibungkus pakai daun pisang, di sini namanya bisa lontong, bisa arem-arem atau lemper, tapi disana masih ar-ruz, rice. Begitu dibungkus daun kelapa muda (janur kuning) namanya ketupat, disana masih ar-ruz, rice. Ketika dimasak, diaduk hingga hancur dan lembut, di sini namanya bubur, disana namanya masih saja ar-ruz, rice.

Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing tujuh keliling.

Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinthing (berkopiah miring dan bersarung melintir). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit).

Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan tinggal di tanah Arab.

Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, dibilang bid’ah . Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk asli Islam Indonesia. Kelamaan tinggal di luar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini jadi kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja. Padahal, di sini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Oleh karena itu orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.


Lha, akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus dunia Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik, yang ada di dunia.

Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak di sini, tetapi di Arab. Rasulullah orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.

Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.

Islam datang ke Eropa, saat itu bangsa Eropa juga sedang dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya. Bangsa Anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai hampir 2/3 dunia, namanya Majapahit.

Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia saat itu, ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum dan politik terbaik dunia, ‒‒yang menjadi rujukan saat itu‒‒ adanya di Indonesia. Waktu itu adanya di Jawa, kitabnya bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya Sutasoma. Bangsa ini (mestinya) tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan alamnya kaya-raya.


Cerita Arab tentang surga, di Jawa itu tidak laku. Surga itu ‒‒dalam penggambaran Arab¬‒‒ “tajri min tahtihal anhaar” ada air yang mengalir di bawahnya, seperti kali. Kata orang di sini: “mencari air kok sampai surga segala?" Di sini itu, semua sawah ada airnya yang mengalir. Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam. Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena di sini juga banyak buah. Artinya dakwah di sini tidak mudah.

Diceritakan tentang Tuhan, orang Jawa sudah punya, namanya Sanghyang Widhi. Diceritakan tentang Ka’bah orang Jawa juga sudah punya Stupa dan Candi: sama-sama dibuat dari batu dan di tengahnya sama-sama berongga atau ada lubangnya. Malah kalau Ka’bah itu dindingnya polos, tapi kalau Candi berhiaskan relief ukir-ukiran yang njlimet. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa juga punya Lingga Yoni.

Dijelaskan memakai Hari Raya Kurban, orang Jawa punya peringatan Hari Raya Kedri. Jawa sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama Hindu. Prinsip dalam Hindu, yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia.

Di bawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Di bawah itu ada kasta Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini juga tidak boleh bicara agama.

Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra. Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita bahwa Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa diterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan, mereka pasti ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama.


Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, saking bingungnya memahami Islam di Indonesia. Di bawahnya Sudra, ada kasta Paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Di bawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca. Di bawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca. Di bawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.

Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba di-Islamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini.

Namun mereka menghadapi masalah, karena orang di sini ada yang doyan makan daging manusia. Namanya aliran Bhairawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.

Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil, semakin kecil dan akhirnya menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tapi tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kerbaunya, teringat kambingnya, teringat harta bendanya. Maka, yang ini terus menjadi Jenglot atau Batara Karang.

Jika Anda menemukan Jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah ––melalui jalan pintas––  namanya ilmu Ngrogoh Sukmo. Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajaran dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, yang mengajarkan Pancamakara.

Hindu Tantra Bhairawa.

Supaya bisa Ngrogoh Sukmo, semua syahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus.

Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto.

Ketika sudah pada bisa Ngrogoh Sukmo, ketika sukmanya pergi diajak mencuri namanya
Ngepet. Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya Santet. Ketika sukmanya pergi diajak mencintai wanita namanya Pelet. Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu Ngepet, Santet, Pelet dan Nyopet.

Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyuddin habis di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani saat itu, mengirim kembali tentara ulama dari Iran, yang tidak bisa dimakan orang Jawa.

Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Al-Baqir Al-Farsi. Karena lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh Subakir. Di Jawa ini diduduki bala tentara Syekh Subakir, maka kemudian mereka pada lari diusir.


Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cilacap, Pelabuhan Ratu, dan Banten. Dinamai Banten, diambil dari bahasa Sanskerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Di sana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro.

Karena Syekh Subakir sudah sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya, namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.

Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah, melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa, ingkung manusia diganti ayam, mantra Ngrogoh Sukmo diganti Kalimat Tahlil: “Laa ilaaha illallaah.” Maka, kita orang Jawa punya adat tumpengan.

Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah-kan, ceritakanlah ini. Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu dituturkan dengan runtut, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian.

Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi. Orang Jawa sulit mengucapkan namanya, maka disebutlah beliau dengan nama Syekh Jumadil Kubro.


Di sana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon. Punya murid Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati. Inilah yang bertugas meng-Islamkan Pajajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan Walang Sungsang.

Nah, Syekh Jumadil Kubro punya putra bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi, inilah bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri. Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas meng-Islamkan Majapahit.

Meng-Islamkan Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya pinter-pinter. Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat sawah yang biasa ditanami padi, kok malah mau ditanami pisang. Kalau Anda berbuat begitu, maka pohon pisang anda bisa ditebang.

Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat Al-Qurān. Dalam surat Al-Fatħ (48) ayat 29, disebutkan : “… matsaluhum fit taurat wa matsaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladla fastawa ‘ala suqıhi yu’jibuz zurra’a, liyagidza bihimul kuffar ....

Artinya: “... Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin) .…”

Islam itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, baru kemudian hamil, kemudian berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti orang kafir. Tanaman apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya hamil? Jawabannya adalah padi.

Maka kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi. Kalau menanam padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau diatas tanah nanti dipatok ayam, dimakan tikus.

Mau menanam Allah, di sini sudah ada istilah Pangeran. Mau menanam shalat, di sini sudah ada istilah sembahyang. Mau menanam syaikhun, ustadzun, di sini sudah ada kiai. Menanam tilmidzun, muridun, di sini sudah ada shastri, kemudian dinamanilah santri. Inilah ulama dulu, menanamnya dengan cara halus, lembut, tidak kelihatan.


Menanamnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit: Kalimat Syahadat, jadi Kalimasada. Syahadatain, jadi Sekaten. Mushalla, jadi langgar. Sampai akhirnya itu semua jadi bahasa masyarakat. Dan yang paling sulit adalah mememberi pengertian orang Jawa tentang mati.

Kalau Hindu kan ada reinkarnasi. Kalau dalam Islam, mati ya mati (tidak kembali ke dunia lagi). Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan. Ini pekerjaan paling revolusioner waktu itu. Tidak main-main, karena ini prinsip. Prinsip “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” berhadapan dengan reinkarnasi. Bagaimana caranya?

Oleh Sunan Ampel, “Inna lillahi wa inna ilaihi raj’iun” kemudian di-Jawa-kan menjadi rumusan: “Ojo Lali Marang Sangkan Paraning Dumadi.

Setelah lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka tembang (lagu), dan suka nembang (nyanyi). Beliau kemudian mengambil pilihan: mengajarkan hal yang sulit itu dengan tembang. Orang Jawa memang memiliki sifat mudah hafal bila dengan tembang.

Orang Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi: “Ndang baliyo, Sri, ndang baliyo ....” Lihat lintang, nyanyi: “Yen ing tawang ono lintang, cah ayu ....” Lihat bebek, nyanyi: “Bebek adus kali nututi sabun wangi ....” Lihat enthok, nyanyi: “Menthok, menthok, tak kandhani, mung rupamu angisin-isini ....” Bahkan, lihat silit (dubur) saja nyanyi: “... ndemok silit, gudhigen ....” Maka kesimpulannya, orang Jawa itu suka nyanyi. Itulah yang jadi pelajaran.

Maka akhirnya, sesuatu yang paling sulit dan berat itu ditembangkan. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” diwujudkan dalam bentuk tembang bernama Macapat. Apa artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat.

Keempat perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika lahir di dunia. Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia. Produk dunia makanannya dunia dan hasil setelah makan adalah sampah dunia. Sampah padatnya keluar lewat pintu belakang, sedangkan sampah yang cair keluar lewat pintu depan.

Maskumambang yang akan Mijil.

Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma). Kalau mani ini penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging. Inilah produk dunia.

Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Dul, turun ya.” “Iya, Ya Allah.” “Alastu birabbikum?” (apakah kamu lupa kalau Aku Tuhanmu?). “Qalu balaa syahidna,” (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa. “fanfuhur ruuh” (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka daging itu menjadi hidup. Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini. [lihat, a.l.: QS. Al-A’raf (7): 172, As-Sajdah (32): 7-10, Al-Mu’min (40): 67].

Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya, yaitu jasad. Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya: kalau orang tuanya hidungnya pesek anaknya ya pesek; orang tuanya mancung anaknya ya mancung; orang tuanya hitam anaknya ya hitam; kalau orang tuanya ganteng dan cantik, anaknya ya ganteng dan cantik.

Itu disebut Tembang Mocopat: orang hidup harus membaca perkara empat. Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, yang ada di dalam jasad. Nyawa itu ditemani empat: dua adalah Iblis yang bertugas menyesatkan, dan dua adalah malaikat yang bertugas mengingatkan dan mengendalikan. Jin Qarin dan Hafadzah.


Itu oleh Sunan Ampel disebut Sedulur Papat Limo Pancer. Ini metode mengajar. Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memakai dulur tengen (teman kanan) atau dulur kiwo (teman kiri). Kalau pancer kok ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca “Ya Rahmanu, Ya Rahimu” tujuh hari di masjid, yang wanita nantinya juga akan cinta.

Tidak mau pakai dulur tengen, ya memakai yang kiri, yang dibaca Aji-aji Jaran Goyang, ya si wanita jadinya cinta, sama saja. Kepingin perkasa, kalau memakai kanan yang dipakai kalimah “La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.” Tak mau yang kanan ya memakai yang kiri, yang dibaca Aji-aji Bandung Bondowoso, kemudian bisa perkasa.

Mau kaya, kalau memakai jalan kanan ya Shalat Dluha dan membaca “Ya Fattaahu, Ya Razzaaqu,” bisa kaya. Kalau tidak mau jalan kanan, ya jalan kiri, membawa Kambing Kendhit naik ke Gunung Kawi, setelah pulang jadi kaya.

Maka, kiai dengan dukun itu sama; sama hebatnya kalau tirakatnya kuat. Kiai yang ‘alim dengan dukun yang tak pernah mandi, jika sama tirakatnya, ya sama saktinya: sama-sama bisa mencari barang hilang. Sama terangnya. Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang karena rumah terbakar.

Ibaratnya, yang satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya utuh; sedangkan yang satu lagi, mencari ayam dengan api dari blarak (daun kelapa kering yang dibakar), ayamnya ketemu, tapi blarak-nya habis terbakar. Itulah bedanya nur (cahaya) dengan nar (api).


Maka jalannya hidup manusia ini seperti jalannya tembang. Yang awalan, namanya Maskumambang: kemambange nyowo medun ngalam ndunyo, disebut ngapati, mitoni, ini rohaninya. Tapi jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk imunisasi.

Maka menurut NU ada ngapati, mitoni, karena itu turunnya nyawa. Setelah Maskumambang, manusia mengalami tembang Mijil. Bakal Mijil: lahir laki-laki dan perempuan. Kalau lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya kambing satu.

Setelah Mijil, tembangnya Kinanthi. Anak-anak kecil itu, bekalilah dengan agama, dengan akhlak. Tidak mau ngaji, pukul (tentunya pukulan cinta, pukulan kasih sayang, bukan pukulan kekerasan karena kemarahan). Masukkan ke TPQ, ke Raudlatul Athfal (RA). Waktunya ngaji kok tidak mau ngaji, malah main layangan, potong saja benangnya. Waktunya ngaji kok malah mancing, potong saja kailnya.

Anak Kinanthi ini waktunya sekolah dan ngaji. Dibekali dengan agama dan akhlak. Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom: bakal menjadi anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek, ngeyelan dan bandel.

Apalagi, setelah Sinom, tembangnya Asmaradana, mulai jatuh cinta. Tai kucing serasa coklat. Tidak bisa dinasehati. Setelah itu manusia disusul tembang Gambuh, laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah tangga, rabi, menikah.


Setelah Gambuh, adalah tembang Dandanggula. Merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Setelah Dandanggula, menurut Mbah Sunan Ampel, manusia mengalami tembang Durma.

Durma itu mengajukan pertanyaan: darma bakti hidupmu itu apa? Kalau pohon mangga setelah berbuah bisa untuk makanan codot, kalau pisang berbuah bisa untuk makanan burung, lha buahmu itu apa? Tenagamu hasilnya mana? Hartamu dimana, kemana dan jadi apa? Ilmumu sudah menghasilkan apa? Apa saja yang sudah didarmabaktikan untuk orang lain?

Khairunnas anfa’uhum linnas,” ––sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Sebab, kalau sudah di Durma tapi tidak melakukan darma bakti, maka akan kesusul tembang Pangkur.

Anak manusia yang sudah memunggungi dunia: gigi sudah banyak copot, kaki sudah linu. Ini harus sudah masuk masjid. Kalau tidak segera masuk masjid kesusul tembang Megatruh: megat, memutus raga beserta sukmanya. Mati.

Terakhir sekali, tembangnya Pucung. Lha ini, kalau Hindu reinkarnasi, kalau Islam Pucung. Manusia di pocong. Sluku-sluku Bathok, dimasukkan pintu kecil. Makanya orang tua (dalam bahasa Jawa) dinamai buyut, maksudnya: siap-siap mlebu lawang ciut (siap-siap masuk pintu kecil).

Adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?


Kalau sudah masuk pintu kecil, ditanya Malaikat Munkar dan Nakir. Akhirnya itu, yang satu reinkarnasi, yang satu buyut. Ditanya: “Man rabbuka?” Dijawab: “Awwloh.” Ingin disaduk Malaikat Munkar-Nakir apa karena tidak bisa mengucapkan Allah ?!

Ketika akan disaduk, Malaikat Raqib buru-buru menghentikan: “Jangan disiksa, ini lidah Jawa. Tidak punya Alif, Ba, Ta, punyanya Ha, Na, Ca, Ra, Ka. “Apa sudah mau ngaji?” tanya Munkar-Nakir. “Sudah, ini ada catatanya. NU juga sudah ikut, namun belum bisa sudah meninggal.” “Ya, sudah, meninggalnya orang yang sedang belajar mengaji, meninggal yang dimaafkan oleh Allah.”

Maka, seperti itu belajar. Kalau tidak mau belajar, ditanya, “Man rabbuka?” menjawab, “Ha …???” Langsung dipukul kepalanya: “Plaakkk !!!” Dicanggah lehernya oleh malaikat. Kemudian jadi wareng, takut melihat akhirat, masukkan ke neraka, diudek oleh malaikat, digantung seperti siwur, iwir-iwir, dipukuli modal-madil seperti petarangan bodhol, ajur mumur seperti gedebok bosok.

Maka, pangkat manusia, menurut Sunan Ampel: anak – bapak – simbah – buyut – canggah – wareng – udek-udek – gantung siwur – petarangan bodhol – gedebok bosok. Lho, dipikir ini ajaran Hindu. Kalau seperti ini ada yang bilang ajaran Hindu, kesini, saya tabok mulutnya!

Begitu tembang ini jadi, kata Mbah Bonang, masa nyanyian tidak ada musiknya. Maka dibuatkanlah gamelan, yang bunyinya Slendro Pelog: nang ning nang nong, nang ning nang nong, ndang ndang, ndang ndang, gung. Nang ning nang nong: yo nang kene yo nang kono (ya di sini ya disana); yang di sini ngaji, yang di sana mencari kayu.

Lho, lha ini orang-orang kok. Ya seperti di sini ini: kelihatannya di sini shalawatan, nanti pulang lihat pantat ya bilang: wow! Sudah hafal saya, melihat usia-usia kalian. Ini kan kamu pas pakai baju putih. Kalau pas ganti, pakainya paling ya kaos Slank.

Nah, nang ning nang nong, hidup itu ya disini ya disana. Kalau pingin akhiran baik, naik ke ndang ndang, ndang ndang, gung. Ndang balik ke Sanghyang Agung. “Fafirru illallaah,” kembalilah kepada Allah. Pelan-pelan. Orang sini kadang tidak paham kalau itu buatan Sunan Bonang.

Sunan Kalijaga, Tumpeng dan Kembang Telon (Mawar, Kenanga dan Kanthil).

Maka, kemudian, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dibuatkan tumpeng agar bisa makan. Begitu makan kotor semua, dibasuh dengan tiga air bunga: mawar, kenanga dan kanthil.

Maksudnya: uripmu mawarno-warno, keno ngono keno ngene, ning atimu kudu kanthil nang Gusti Allah (Hidupmu berwarna-warni, boleh seperti ini atau seperti itu, tetapi hatimu harus tertaut selalu kepada Allah). Lho, ini piwulang-piwulangnya, belum diajarkan apa-apa. Oleh Sunan Kalijaga, yang belum bisa mengaji, diajari Kidung Rumekso Ing Wengi. Oleh Syekh Siti Jenar, yang belum sembahyang, diajari Syahadat saja.

Ketika tanaman ini sudah ditanam, Sunan Ampel kemudian ingin tahu: tanamanku itu sudah tumbuh apa belum? Maka di-cek dengan tembang “Lir ilir, tandurku iki wis sumilir durung? Nek wis sumilir, wis ijo royo-royo, ayo menek blimbing. Blimbing itu ayo shalat. Blimbing itu sanepo lambang shalat.

Di sini itu, apa-apa dengan lambang, dengan simbol: kolo-kolo teko, janur gunung. Udan grimis panas-panas, caping gunung. Blimbing itu bergigir lima. Maka lagunya, cah angon, ayo menek blimbing. Bukannya, cah angon ayo memanjat mangga.

Akhirnya ini praktek, shalat. Tapi prakteknya beda. Begitu di ajak shalat, kita beda. Di sana, shalat ‘imaaduddin, lha shalat di sini, tanamannya mleyar-mleyor, berayun-ayun.

Disana dipanggil jam setengah duabelas kumpul. Kalau di sini dipanggil jam segitu masih di sawah, di kebun, angon bebek, masih nyari kayu. Maka manggilnya pukul setengah dua. Adzanlah muadzin (orang yang adzan). Setelah ditunggu-tunggu, kok tidak datang-datang?

Padahal tugas Imam adalah menunggu makmum. Ditunggu dengan memakai pujian. “Rabbana ya rabbana, rabbana dholamna anfusana, ––sambil tolah-toleh, mana ini makmumnya–– wa inlam taghfirlana, wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.

Datang satu, dua, tapi malah merokok di depan masjid. Tidak masuk. Maka oleh Mbah Ampel: Tombo Ati, iku ono limang perkoro .... Sampai pegal, ya mengobati hati sendiri saja. Sampai sudah lima kali kok tidak datang-datang, maka kemudian ada pujian yang agak galak: “... di urugi anjang-anjang ..., langsung deh, para makmum buru-buru masuk. Itu tumbuhnya dari situ.


Kemudian, setelah itu shalat. Shalatnya juga tidak sama. Shalat disana, dipanah kakinya tidak terasa, disini beda. Begitu Allahu Akbar, matanya bocor: itu mukenanya berlubang, kupingnya bocor, ting-ting-ting, ada penjual bakso. Hatinya bocor: protes imamnya membaca surat kepanjangan. Nah, ini ditambal oleh para wali, setelah shalat diajak dzikir, “Laa ilaaha illallah ....

Hari ini, ada yang protes: dzikir kok kepalanya gedek-gedek, geleng-geleng? Padahal kalau sahabat kalau dzikir diam saja. Lho, sahabat kan muridnya nabi. Diam saja hatinya sudah ke Allah. Lha orang sini, diajak dzikir diam saja, ya malah tidur. Bacaannya dilantunkan dengan keras, agar makmum tahu apa yang sedang dibaca imam.

Kemudian, dikenalkanlah nabi. Orang sini tidak kenal nabi, karena nabi ada jauh disana. Kenalnya Gatotkaca. Maka pelan-pelan dikenalkan nabi. Orang Jawa yang tak bisa bahasa Arab, dikenalkan dengan syair: kanjeng Nabi Muhammad, lahir ono ing Mekkah, dinone senen, rolas mulud tahun gajah.

Inilah cara ulama-ulama dulu kala mengajarkan Islam, agar masyarakat di sini kenal dan paham ajaran nabi. Ini karena nabi milik orang banyak (tidak hanya milik bangsa Arab saja). “Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil ‘aalamiin;” ‒‒Aku (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

Maka, shalawat itu dikenalkan dengan cara berbeda-beda. Ada yang sukanya shalawat ala Habib Syekh, Habib Luthfi, dll. Jadi jangan heran kalau shalawat itu bermacam-macam. Ini beda dengan wayang yang hanya dimiliki orang Jawa.

Orang kalau tidak tahu Islam Indonesia, pasti bingung. Maka Gus Dur melantunkan shalawat memakai lagu dangdut. Astaghfirullah, rabbal baraaya, astaghfirullah, minal khataaya, ini lagunya Ida Laila: Tuhan pengasih lagi penyayang, tak pilih kasih, tak pandang sayang. Yang mengarang namanya Ahmadi dan Abdul Kadir.

Nama grupnya Awara. Ida Laila ini termasuk Qari’ terbaik dari Gresik. Maka lagunya bagus-bagus dan religius, beda dengan lagu sekarang yang mendengarnya malah bikin kepala pusing. Sistem pembelajaran yang seperti ini, yang dilakukan oleh para wali. Akhirnya orang Jawa mulai paham Islam.

Namun selanjutnya Sultan Trenggono tidak sabaran: menerapkan Islam dengan hukum, tidak dengan budaya. “Urusanmu kan bukan urusan agama, tetapi urusan negara,” kata Sunan Kalijaga. “Untuk urusan agama, mengaji, biarlah saya yang mengajari,” imbuhnya.


Namun Sultan Trenggono terlanjur tidak sabar. Semua yang tidak sesuai dan tidak menerima Islam diuber-uber. Kemudian Sunan Kalijaga memanggil anak-anak kecil dan diajari nyanyian:

Gundhul-gundhul pacul-cul, gembelengan.
Nyunggi-nyunggi wangkul-kul, pethenthengan.
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar 2x

Gundul itu kepala. Kepala itu ra’sun. Ra’sun itu pemimpin. Pemimpin itu ketempatan empat hal: mata, hidung, lidah dan telinga. Empat hal itu tidak boleh lepas. Kalau sampai empat ini lepas, bubar.

Mata kok lepas, sudah tidak bisa melihat rakyat. Hidung lepas sudah tidak bisa mencium rakyat. Telinga lepas sudah tidak bisa mendengar rakyat. Lidah lepas sudah tidak bisa menasehati rakyat. Kalau kepala sudah tidak memiliki keempat hal ini, jadinya gembelengan.

Kalau kepala memangku amanah rakyat kok terus gembelengan, menjadikan wakul ngglimpang, amanahnya kocar-kacir. Apapun jabatannya, jika nanti menyeleweng, tidak usah di demo, nyanyikan saja Gundhul-gundhul pacul. Inilah cara orang dulu, landai.

Akhirnya semua orang ingin tahu bagaimana cara orang Jawa dalam ber-Islam. Datuk Ribandang, orang Sulawesi, belajar ke Jawa, kepada Sunan Ampel. Pulang ke Sulawesi menyebarkan Islam di Gunung Bawakaraeng, menjadilah cikal bakal Islam di Sulawesi.

Berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di sepenjuru Sulawesi. Khatib Dayan belajar Islam kepada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ketika kembali ke Kalimantan, mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan.

Ario Damar atau Ario Abdillah ke semenanjung Sumatera bagian selatan, menyebarkan dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Sumatera.

Kemudian Londo (Belanda) datang. Mereka semua ––seluruh kerajaan yang dulu dari Jawa–– bersatu melawan Belanda.

Ketika Belanda pergi, maka kita bersepakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Maka kawasan di Indonesia disebut wilayah, artinya tinggalan para wali. Jadi, jika Anda meneruskan agamanya, jangan lupa kita ditinggali wilayah. Inilah Nahdlatul Ulama, baik agama maupun wilayah, adalah satu kesatuan: NKRI Harga Mati.


Maka dimanakah di dunia ini, yang menyebut daerahnya dengan nama wilayah? Di dunia tidak ada yang bisa mengambil istilah: “kullukum raa’in wa kullukum mas-uulun ‘an ra’iyatih”; Rasulullah mengajarkan bahwa hidup di dalam kekuasaan dunia ada sesuatu yang harus diperhatikan, yaitu pertanggung-jawaban.

Dan yang bertanggungjawab dan dipertanggung-jawabkan disebut ra’iyyah. Hanya Indonesia yang menyebut penduduknya dengan sebutan ra’iyyah atau rakyat. Begini kok banyak yang bilang tidak Islam.

Nah, sistem perjuangan seperti ini diteruskan oleh para ulama Indonesia. Orang-orang yang meneruskan sistem para wali ini, dzaahiran wa baathinan, akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Kenapa kok bernama Nahdlatul Ulama. Dan kenapa yang menyelamatkan Indonesia kok Nahdlatul Ulama? Karena diberi nama Nahdlatul Ulama. Nama inilah yang menyelamatkan. Sebab dengan nama Nahdlatul Ulama, orang tahu kedudukannya: bahwa kita hari ini, kedudukannya hanya muridnya ulama.

Meski, nama ini (NU) tidak gagah. KH Ahmad Dahlan menamai organisasinya Muhammadiyyah: pengikut Nabi Muhammad, gagah. Ada lagi organisasi, namanya Syarekat Islam, gagah. Yang baru ada Majelis Tafsir Al-Quran, gagah namanya. Lha ini “hanya” Nahdlatul Ulama. Padahal ulama kalau di desa juga ada yang hutang rokok.

Tapi Nahdlatul Ulama ini yang menyelamatkan, sebab kedudukan kita hari ini hanya muridnya ulama. Yang membawa Islam itu Kanjeng Nabi. Murid Nabi namanya Sahabat. Murid Sahabat namanya Tabi’in. Tabi’in bukan ashhabus-shahabat, tetapi Tabi’in, maknanya pengikut.


Murid Tabi’in namanya Tabi’it-tabi’in, pengikutnya pengikut. Muridnya Tabi’it-tabi’in namanya Tabi’it-tabi’it-tabi’in, pengikutnya pengikutnya pengikut. Lha kalau kita semua ini namanya apa? Kita muridnya KH Hasyim Asy’ari.

Lha KH Hasyim Asy’ari hanya muridnya Kiai Asy’ari. Kiai Asy’ari mengikuti gurunya, namanya Kiai Usman. Kiai Usman mengikuti gurunya namanya Kiai Khoiron, Purwodadi (Mbah Gareng). Kiai Khoiron muridnya Kiai Abdul Halim, Boyolali.

Mbah Abdul Halim muridnya Kiai Abdul Wahid. Mbah Abdul Wahid itu murid Mbah Sufyan. Mbah Sufyan murid Mbah Jabbar, Tuban. Mbah Jabbar murid Mbah Abdur Rahman, murid Pangeran Sambuh, murid Pangeran Benowo, murid Mbah Tjokrojoyo, Sunan Geseng.

Sunan Geseng hanya murid Sunan Kalijaga, murid Sunan Bonang, murid Sunan Ampel, murid Mbah Ibrahim Asmoroqondi, murid Syekh Jumadil Kubro, murid Sayyid Ahmad, murid Sayyid Ahmad Jalaludin, murid Sayyid Abdul Malik, murid Sayyid Alawi Ammil Faqih, murid Syekh Ahmad Shohib Mirbath.

Kemudian murid Sayyid Ali Kholiq Qosam, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Ahmad Al-Muhajir, murid Sayyid Isa An-Naquib, murid Sayyid Ubaidillah, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Ali Uraidi, murid Sayyid Ja’far Shodiq, murid Sayyid Musa Kadzim, murid Sayyid Muhammad Baqir. Sayyid Muhammad Baqir hanya murid Sayyid Zaenal Abidin, murid Sayyidina Hasan – Husain, murid Sayiidina Ali karramallahu wajhah. Nah, ini yang baru muridnya Rasulullah saw.


Kalau begini nama kita apa? Namanya ya Tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit …, yang panjang sekali. Maka cara mengajarkannya juga tidak sama. Inilah yang harus difahami.

Rasulullah itu muridnya bernama Sahabat, tidak diajari menulis Al-Qurān. Maka tidak ada mushaf Al-Qurān di zaman Rasulullah dan para Sahabat. Tetapi ketika Sahabat ditinggal wafat Rasulullah, mereka menulis Al-Qurān.

(Catatan koreksi: zaman Rasulullah sebenarnya sudah ada catatan wahyu Al-Qurān walaupun masih terpisah-pisah dalam berbagai macam media sehingga memang belum berwujud satu mushaf yang utuh. Ada yang tertulis di kulit kayu, pelepah kurma, kulit binatang, dan perkamen-perkamen yang lain).

Untuk siapa? Untuk para Tabi’in yang tidak pernah bertemu Al-Qurān zaman Rasul. Maka ditulislah Al-Qurān di zaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman. Tetapi begitu para Sahabat wafat, Tabi’in harus mengajari dibawahnya.

Mushaf Al-Qurān yang ditulis Sahabat terlalu tinggi, hurufnya rumit dan sulit dibaca. Maka pada tahun 65 Hijriyyah diberi tanda “titik” oleh Imam Abu al-Aswad ad-Duali, agar supaya bisa lebih mudah dibaca.

Tabi’in wafat, Tabi’it-tabi’in mengajarkan yang dibawahnya. Titik tidak cukup, kemudian diberi “harakat” oleh Syekh Kholil bin Ahmad al-Farahidi, guru dari Imam Sibawaih, pada tahun 150 Hijriyyah.


Kemudian Islam semakin menyebar ke penjuru negeri, sehingga Al-Qurān semakin dibaca oleh banyak orang dari berbagai suku dan ras. Orang Andalusia diajari “Waddluha” keluarnya “Waddluhe”.

Orang Turki diajari “Mustaqiim” keluarnya “Mustaqiin”. Orang Padang, Sumatera Barat, diajari “Lakanuud” keluarnya “Lekenuuik”. Orang Sunda diajari “Alladziina” keluarnya “Allatziina”.

Di Jawa diajari “Alhamdu” jadinya “Alkamdu”, karena punyanya Ha Na Ca Ra Ka. Diajari “Ya Hayyu Ya Qayyum” keluarnya “Yo Kayuku Yo Kayumu”. Diajari “Rabbil ‘Aalamin” keluarnya “Robbil Ngaalamin” karena punyanya Ma Ga Ba Tha Nga.

Orang Jawa tidak punya huruf “Dlod” punyanya “La”, maka “Ramadlan” jadi “Ramelan”. Orang Bali disuruh membunyikan “Shiraathal …” bunyinya “Sirotholladzina an’amtha ‘alaihim ghairil magedu bi’alaihim waladtholliin”. Di Sulawesi, “’Alaihim” keluarnya “’Alaihing ”.

Karena perbedaan logat lidah ini, maka pada tahun 250 Hijriyyah, seorang ulama berinisiatif menyusun Ilmu Tajwid fi Qira-atil Quran, namanya Abu Ubaid bin Qasim bin Salam. Ini yang kadang orang tidak paham pangkat dan tingkatan kita. Makanya tidak usah pada ribut.

Murid ulama itu beda dengan murid Rasulullah. Murid Rasulullah, ketika dzikir dan diam, hatinya “online” langsung kepada Allah SWT. Kalau kita semua, dzikir dan diam, malah jadinya tidur.

Maka di sini, di Nusantara ini, jangan heran. Ojo nggumunan.


Ibadah Haji, kalau orang Arab langsung lari ke Ka’bah. Muridnya ulama dibangunkan Ka’bah palsu di alun-alun, dari triplek atau kardus, namanya manasik haji. Nanti ketika hendak berangkat haji diantar orang se-kampung.

Yang mau Haji diantar ke Asrama Haji, yang mengantar pulangnya belok ke kebun binatang. Ini cara pembelajaran. Ini sudah murid ulama. Inilah yang orang belajar sekarang: kenapa Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama selamat, sebab mengajari manusia sesuai dengan hukum pelajarannya ulama.

Anda sekalian disuruh dzikir di rumah, takkan mau dzikir, karena muridnya ulama. Lha wong dikumpulkan saja lama kelamaan tidur. Ini makanya murid ulama dikumpulkan, diajak berdzikir.

Begitu tidur, matanya tidak dzikir, mulutnya tidak dzikir, tetapi, pantat yang duduk di majelis dzikir, tetap dzikir. Nantinya, di akhirat ketika “wa tasyhadu arjuluhum,” ada saksinya. Orang di sini, ketika disuruh membaca Al-Qurān, tidak semua dapat membaca Al-Qurān. Maka diadakan semaan Al-Qurān.

Mulut tidak bisa membaca, mata tidak bisa membaca, tetapi telinga bisa mendengarkan lantunan Al-Qurān. Begitu dihisab mulutnya kosong, matanya kosong, namun di telinga masih ada Al-Qurān.

Maka, jika bukan orang Indonesia, takkan mengerti Islam Indonesia. Mereka tidak paham, oleh karena, seakan-akan, para ulama dulu tidak serius dalam menanam. Syahadatain jadi Sekaten. Kalimah Syahadat jadi Kalimosodo. Ya Hayyu Ya Qayyum jadi Yo Kayuku Yo Kayumu.

Agus Sunyoto, Ketua LESBUMI - NU dan Penulis buku Atlas Wali Songo.

Ini menimbulkan kesan ulama dahulu tidak ‘alim. Ibarat pedagang, seperti pengecer. Tetapi, lima ratus tahun kemudian tumbuh subur menjadi Islam Indonesia. Jamaah haji terbanyak dari Indonesia. Orang shalat terbanyak dari Indonesia. Orang membaca Al-Qurān terbanyak dari Indonesia.

Dan Islam yang datang belakangan ini gayanya seperti grosir: Islam Kaaffah, begitu diikuti, malah mencuri sapi. Dilihat dari sini, saya meminta, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, jangan sekali-kali mencurigai Nahdlatul Ulama. NU jangan dicurigai menanamkan benih teroris.

Teroris tidak mungkin tumbuh dari Nahdlatul Ulama, karena Nahdlatul Ulama lahir dari Bangsa Indonesia. Tidak ada ceritanya Banser kok ngebom di sini, sungkan dengan makam gurunya. Mau ngebom di Tuban, tidak enak dengan Mbah Sunan Bonang.

Saya yang menjamin. Ini pernah saya katakan kepada Panglima TNI. Maka, anda lihat teroris di seluruh Indonesia, tidak ada satupun anak warga Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Maka, Nahdlatul Ulama hari ini menjadi organisasi terbesar di dunia.

Dari Muktamar Makassar jamaahnya sekitar 80 juta, sekarang di kisaran 120 juta. Yang lain dari 20 juta turun menjadi 15 juta. Kita santai saja. Lama-lama mereka tidak kuat, seluruh tubuh kok ditutup kecuali matanya. Ya kalau pas jualan tahu, lha kalau pas nderep di sawah bagaimana? Jadi kita santai saja. Kita tidak pernah melupakan sanad, urut-urutan, karena itu cara Nahdlatul Ulama agar tidak keliru dalam mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad saw.

Agus Sunyoto
Ketua Lesbumi,
Pengasuh di Pesantren Cendekia Nusantara,
Dan Pondok Pesantren Global Tarbiyatul Arifin,
Penulis buku “Atlas Wali Songo
http://satunusanews.id/islam-kejawaan-taddaburanmaiyahan-di-indonesia/